Berita Terpercaya Tajam Terkini

Pidato Giring Dinilai Lebih Mirip Orator Unjuk Rasa Daripada Ketum Parpol

0
Ketua Nasional Relawan Kesehatan Indonesia, Agung Nugroho.

 

JAKARTA – Sambutan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (Ketum PSI), Giring Ganesha pada membuka acara puncak hari ulang tahun (HUT) ke-7 partainya. Banyak menuai kecaman karena dianggap tidak etis dan suibyektif dengan melakukan serangan kepada personal.

“Kemajuan akan terancam jika kelak yang menggantikan Pak Jokowi adalah sosok yang punya rekam jejak menggunakan isu SARA dan menghalalkan segala cara untuk menang dalam pilkada,” kata Giring, dalam sambutannya yang digelar secara virtual, Rabu (22/12/2021).

Giring menyebut Indonesia akan menjadi suram jika dipimpin oleh seorang pembohong. Dia memberikan kode orang yang dimaksud itu, yakni seseorang yang digantikan dalam kabinet Jokowi.

“Indonesia akan suram jika yang terpilih kelak adalah seorang pembohong dan juga pernah dipecat oleh Pak Jokowi karena tidak becus bekerja,” ujar Giring.

Sambutan Giring tersebut oleh Ketua Nasional REKAN Indonesia, Agung Nugroho dianggap lebih mirip orator unjuk rasa atau demonstrasi daripada sambutan seorang ketum partai politik. Menurut Agung, sambutan Ketum PSI tersebut tidak memiliki isi dan wawasan.

“Mirip orator di unjuk rasa, yang cuma teriak-teriak menghujat, tanpa memiliki isi dan wawasan yang dapat direnungkan dan dipahami oleh anak muda,” ujar Agung kepada cakrawarta.com, Minggu (26/12/2021).

Menurut Agung, seharusnya seorang ketum parpol itu dalam sambutannya berisi tentang situasi politik nasional saat ini, apa yang harus dilakukan untuk menyikapi situasi politik nasional saat ini dan memberikan solusi darimana bangsa ini memulai untuk menyikapi situasi politik nasional tersebut.

“Jauh dari ilmiah sambutan Giring, mungkin karena baru belajar berpolitik dan memimpin partai jadi masih belum bisa membedakan mana orasi dan mana sambutan,” jelas Agung.

Agung menambahkan, sebagai seorang ketum parpol seharusnya Giring juga menguasai data sehingga dalam sambutannya meski melakukan kritik tapi kritik yang ilmiah dengan adanya paparan data.

“Ini kan jadi seperti sekedar cari sensasi dengan melontarkan statemen opini dan melempar persepsi,” pungkas Agung.

(bm/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.