Berita Terpercaya Tajam Terkini

Pendidikan Bukan Remeh-Temeh

0

 

Pendidikan, bagaimana pun, adalah pembangunan sikap (afeksi), ilmu (kognisi), dan keterampilan (psikomotor). Oleh karena itu, pendidikan bukan remeh-temeh. Ia (pendidikan), hal serius dan – karena itu – harus diseriusi.

Mirip ilmu kedokteran dan ilmu hukum, ilmu pendidikan juga tidaklah sembarangan. Jika tiga bidang tersebut diperlakukan sembarangan, maka tinggal menunggu waktu saja bagi terjadinya kekacauan dan kehancuran.

Jika kedokteran diperlakukan sembarangan, akan banyak orang yang cacat, bahkan meninggal. Jika hukum diperlakukan sembarangan, akan banyak orang terzalimi, kejahatan membludak, dan keadilan akan terasingkan.

Dan jika pendidikan diperlakukan sembarangan, maka generasi penerus umat dan bangsa ini, akan kurang terbangun, baik dimensi afeksinya, maupun dimensi kognisi dan psikomotornya.

Ringkasnya, jika menganggap sepi peran atau meremehkan pendidikan, maka umat dan bangsa ini, akan memble. Bukan saja kedodoran dalam visi (imajinasi). Melainkan, akan ewuh-pakewuh juga dalam menangani tantangan zaman yang memerlukan kolaborasi keterampilan.

LPTK
Oleh karena itu, sama seperti lembaga pendidikan ahli teori dan praktisi kedokteran. Sama seperti lembaga pendidikan ahli teori dan praktisi hukum. Bahwa Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan (LPTK) pun, harus berwibawa dan ketat. LPTK harus serius dan diseriusi.

Sebab, tujuan dan tugas pendidikan, bukan candaan. Melainkan, hal serius. Lihat saja naskah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) tentang tujuan dan tugas pendidikan, bukankah – tampak – serius? Bukan saja hendak mewujudkan generasi yang agamis dan nasionalis, tetapi juga hendak mencetak generasi yang sehat, berilmu, terampil, dan seterusnya.

Apabila tujuan dan tugasnya serius, sudah barang tentu proses pencapaiannya pun haruslah serius. Sebab, proses tak mengkhianati hasil. Artinya, jika tujuan dan tugas pendidikan – sungguh-sungguh – hendak diraih dan dikerjakan, maka proses pencapaiannya harus diseriusi. Dua di antara sekian bentuk keseriusan itu, tampak dalam menyeriusi tata kelola LPTK dan memosisikan guru.

Oleh karena itu, bukan saja ilmu pendidikan harus terus dimatangkan dan diteliti berkali-kali, baik tujuan dan topik maupun teori dan metodenya, tetapi juga tak boleh sembarang orang menjadi guru. Sebagaimana tidak sembarang orang menjadi ahli teori dan praktisi kedokteran dan hukum. Artinya, LPTK mesti eksis.

Tidak sembarangan dalam memperlakukan pendidikan, artinya – misalnya – mengakui eksistensi LPTK dengan hormat, menyeriusi pengelolaan LPTK, menerapkan Standard Operating Procedure (SOP, set instruksi proses kerja) dalam menjalankan LPTK dan praktik pendidikan, para guru harus lulusan (pendidikan atau pelatihan) LPTK, dan menghargai profesi guru dalam bentuk gaji dan jenjang karier yang baik.

Maka, beberapa hal tadi, mesti diatur dalam UU Sisdiknas. Seluruh stakeholder pendidikan, harus mengawal RUU Sisdiknas. Mesti turut serta dalam memastikan, bahwa LPTK tercantum dan diatur dalam UU Sisdiknas. Mesti dipastikan, bahwa negara ini, serius dalam merealisasikan tujuan dan tugas pendidikan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.