Berita Terpercaya Tajam Terkini

Pemerintah Didesak Lakukan Mapping Kebutuhan Masyarakat Berbasis Big Data

0
Pakar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi saat ditemui di ruang kerjanya di rumah pribadinya, Kamis (21/4/2022). (foto: istimewa)

 

SURABAYA – Pemerintah diminta untuk melihat kembali jumlah penduduk Indonesia yang mencapai kurang lebih 270 juta orang dari setiap masing-masing provinsi, kabupaten, dan kota. Apalagi saat ini adalah era big data. Pemerintah perlu mengadakan skema dalam menanggapi permasalahan kebutuhan pokok yang melonjak tinggi.

“Misalnya Jawa Timur ini ada 38 kabupaten dan kota, masing-masing kabupaten dan kota berapa jumlah kebutuhan bahan pokoknya? Kebutuhan daging setiap bulan berapa banyak? Ditambah adanya bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri yang pastinya meningkat demand-nya. Karena Ramadhan dan hari raya Idul Fitri adalah momen yang terjadi setiap tahunnya,” ujar Pakar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi dalam pernyataannya kepada media, Kamis (21/4/2022).

Menurut Rahma, Ramadan dan hari raya Idul Fitri merupakan momen tahunan yang tidak bisa terlewatkan, bahkan ketika ada masyarakat yang tidak memiliki uang yang cukup. Maka dengan segala cara ia akan mencukupkan kebutuhannya selama bulan Ramadan, terlebih mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum muslim.

Rahma meminta Kementerian Perdagangan dan Kementerian Industri harusnya meninjau langsung kondisi yang terjadi di jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan tiap daerah. Nantinya kementerian berkoordinasi dengan pemerintah daerah perihal kebijakan yang harus dilakukan dalam menangani lonjaknya bahan pokok. Namun bukan hanya Kementerian Perdagangan dan Kementerian Industri saja yang turun tangan, akan tetapi bagaimana pendistribusian tersebut bisa merata ke seluruh Indonesia dalam hal ini adalah Kementerian Perhubungan.

“Misalnya dengan penegak hukumnya adalah kepolisian dan kejaksaan untuk memantau suatu penimbunan, supaya tidak dilakukan kecurangan-kecurangan seperti yang telah dilakukan di komoditas minyak goreng saat ini,” paparnya.

Terkait masalah penimbunan komoditas minyak goreng, hal tersebut harusnya menjadi perhatian khusus untuk diantisipasi dari awal. Menurut Rahma, antisipasi dari adanya oknum yang melakukan penimbunan komoditas pokok mudah dilakukan apabila ada kemauan dari pemerintah. Kecuali, memang terjadi adanya indikasi tutup mata maupun kerja sama oknum-oknum pemerintah dengan oknum yang menimbun komoditas tersebut.

“Kalau kita membiarkan terus artinya membiarkan hal-hal seperti itu, karena itu sudah menjadi alasan klasik yang sebetulnya tidak perlu dijadikan suatu masalah kalau memang benar-benar mau memberantas,” tuturnya.

Tapi ternyata di lapangan, Kementerian Perdagangan dan Kementrian Industri kaget dengan kasus penimbunan yang terjadi dan mengatasnamakan masalah tersebut dengan isu mengenai adanya mafia. Padahal, sambung Rahma, apabila Kementerian Perdagangan dan Kementrian Industri bisa berkoordinasi dengan pihak kepolisian, kejaksaan, maupun penegak hukum yang lain, atau dengan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha). Masalah tersebut dapat dicegah dan diselesaikan, karena KPPU hadir sebagai lembaga yang berfungsi untuk mencegah adanya kartel, dan kecurangan berkaitan dengan persaingan usaha.

“Saya juga heran kepada pak presiden, mengapa ketika menterinya selama empat bulan tidak ada progress dibiarkan saja, harusnya kan presiden mempertanyakan perihal tidak adanya progress yang ada dan permasalahan yang terjadi. Langsung ditindak tegas menterinya itu jangan dibiarkan saja,” tegas Rahma.

Terlebih program BLT sebesar 1 juta yang menurut Rahma, tidak menyelesaikan masalah naiknya harga komoditas pokok di masyarakat. Rahma berpesan kepada masyarakat Indonesia sebaiknya jangan melihat pertumbuhan ekonomi, namun produktivitasnya. Apabila pertumbuhan ditopang dengan produksi, maka akan tumbuh. Namun apabila terjadi konsumsi saja dan berkepanjangan, maka hasilnya akan tidak maksimal karena tidak adanya produktivitas.

“Jadi kita jangan fokus ke pertumbuhan ekonomi saja tapi ke produktivitasnya. Karena apabila produktivitas tumbuh, itu kan membutuhkan sumber daya manusia. Apabila sumber daya manusia tersebut dibutuhkan maka akan mendapatkan income dan benefit berkepanjangan,” pesan Rahma mengakhiri keterangannya.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.