Berita Terpercaya Tajam Terkini

Pakar: Jangan Sepelekan Imbauan Mitigasi Bencana di Tempat Wisata!

0

 

Seorang pengunjung bersama anaknya menikmati Mangrove Track sepanjang 250 meter di area Wisata Bancaran, Bangkalan, Madura beberapa waktu lalu. Destinasi wisata baru ini termasuk menjadi daerah yang saat ini harus diperhatikan mengingat menurut BMKG juga rawan terjadi rob. Peringatan terkait cuaca terutama untuk daerah wisata penting demi keselamatan wisatawan yang berkunjung. (foto: bustomi/cakrawarta)

 

SURABAYA – Seluruh masyarakat, baik pengelola maupun wisatawan, harus memahami pentingnya menjaga kondisi destinasi wisata. Terutama dalam upaya mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Pakar Pariwisata Novianto Edi Suharno ketika dihubungi mengenai kondisi kesiapan penanggulangan risiko bencana destinasi wisata di Indonesia, Rabu (1/6/2022).

Menurut Anto -sapaan akrabnya- saat ini kondisi kesiapan penanggulangan risiko bencana sudah tergolong baik dari sisi pengelolaan. Itu karena ada pemberdayaan kelompok sadar wisata (pokdarwis) atau lembaga di tempat wisata.

“Ini terbukti dengan seringnya diadakanya pelatihan-pelatihan dalam rangka pengurangan resiko bencana, pertolongan pertama pada kondisi bencana. Semua sudah dilakukan dari sisi kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia yang ada di destinasi wisata,” ujarnya.

Namun, yang perlu ditingkatkan adalah ketersediaan sarana penunjang untuk penanggulangan kondisi risiko bencana tersebut. Sebab, ada beberapa daerah yang minim fasilitas.

Meski demikian, perlu disadari bahwa Indonesia memang sangat luas. Di sisi lain, di Indonesia banyak wisata yang menjadi daya tarik karena kondisi alamnya.

“Namun, pada dasarnya bila terjadi bencana, maka akan susah untuk melakukan evakuasi atau pertolongan pada beberapa daerah yang sulit dijangkau dan minim fasilitas,” sebutnya.

“Kalau kita ambil contoh, misalkan di Indonesia bagian timur alamnya menarik, namun untuk mencapai itu perlu satu usaha sendiri,” imbuhnya.

Bagi wisatawan, kegiatan tersebut menarik karena adanya tantangan tersendiri untuk mencapai tempat tersebut. Namun, bila terjadi bencana di tempat itu, tentu membutuhkan penanganan yang ekstra.

“Penanggulangan bencana tentu melibatkan masyarakat lokal di daerah secara maksimal. Karena, sumber informasi dari masyarakat lokal jauh lebih presisi atau akurat. Selain itu kebijakan-kebijakan tertentu. Seperti peraturan atau perundang-undangan terkait dengan kondisi di suatu daerah,” tuturnya.

Jadi, Anto berpesan kebijakan tersebut perlu ditaati atau diikuti semua unsur. Baik pengelola maupun pengunjung. Selain itu, perlu ada informasi dan peta kawasan rawan bencana di setiap destinasi wisata. Itu bisa sangat membantu wisatawan untuk meminimalkan adanya kejadian bencana.

“Jadi, poin penting dan catatan yang perlu digarisbawahi adalah apabila kita menjadi wisatawan, maka asumsinya kita orang asing yang tidak mengenal daerah tersebut. Sehingga papan informasi ini sangatlah dibutuhkan untuk wisatawan,” katanya.

“Karena itu, saya berharap dalam persiapan mitigasi bencana di daerah wisata dan tentu benar-benar sesuai dengan kondisi dimana tempat wisata itu berada,” tegas Anto mengakhiri keterangannya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.