Friday, February 23, 2024
HomeGagasanOleh-Oleh Ramadhan

Oleh-Oleh Ramadhan

 

Baru saja kita umat Islam di dunia dan Indonesia merayakan hari kemenangan Idul Fitri. Semua hanyut dalam keceriaan dan kebahagiaan. Apalagi mampu berkumpul bersama keluarga yang jarang ditemui dalam kesehariannya.

Tetapi apa yang dapat kita petik dari ritus ibadah sebulan berupa puasa. Apa yang kita dapatkan dari berpuasa sebulan itu? Karenanya mari kita coba memikirkan bersama bagaimana kita mampu melakukan pembacaan kembali apa itu puasa dan apa yang dapat dipetik darinya sebagai pelajaran ke depan agar kehidupan kita sebagai muslim dan pun warga negara bisa semakin berkualitas.

Puasa Ramadhan dimaksudkan agar kita menjadi muttaqin. Muttaqin adalah manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, mendirikan sholat dan membangun sistem infak yang disebut az-zakat. Ajakan takwa ini hampir selalu diserukan setiap minggu oleh khatib saat memberikan khutbah Jumat. Dengan takwa itu maka kaum mukmin tidak akan sudi mati kecuali sebagai muslim. Perlu segera dicermati bahwa ajakan takwa bagi muslim itu diikuti seruan agar umat Islam bersatu berpegang teguh pada ajaran Allah SWT dan tidak berpecah belah.

Salah satu kondisi pemecah belah (devide et impera) paling berbahaya bagi umat manusia -khususnya umat Islam- adalah kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi. Kedua masalah itu banyak sebabnya -terutama pemimpin yang tidak adil- namun yang paling penting adalah riba. Riba ini telah menyebabkan umat Islam sulit disebut sebagai umat yang satu karena sudah terbagi menjadi berbagai kasta sosial ekonomi yang melemahkan umat Islam. Riba adalah sebuah sistem ekonomi yang merusak (fasad) yang memperburuk akhlak pelakunya, memperbudak korbannya lalu merusak ekosistem planet bumi karena kerakusannya.

Allah SWT dan Rasulullah SAW telah mempermaklumkan perang melawan pelaku riba. Maklumat perang melawan riba ini adalah ayat terakhir setelah Allah swt memaklumatkan ridlo-Nya atas kesempurnaan Islam sebagai nikmat, yaitu sebagai cara mengorganisasikan hidup bersama yang terbaik bagi semua umat manusia tidak peduli agama dan suku serta bangsanya. Semua manusia yang hidup dengan cara lain akan berakhir dengan kebangkrutan.

Lawan riba adalah zakat, sebuah sistem ekonomi yang menghalalkan sedekah dan perdagangan yang jujur dan adil. Setiap pelaku dagang menghadapi resiko sebagai bagian dari bisnis yang adil. Sementara riba hanya menguntungkan satu pihak saja. Di samping bunga pinjaman, riba juga wujud dalam uang kertas yang tidak memiliki nilai intrinsik. Islam menghalalkan dinar emas atau dirham perak sebagai alat tukar. Para pemecah belah umat manusia ini mudah sekali mencetak uang out of thin air tanpa mau meningkatkan cadangan emasnya dan dengan cara licik penuh tipu daya ini mengeruk hampir semua kekayaan umat manusia dari berbagai bangsa.

Islam menghalalkan sektor riil berbasis sumber daya alam (SDA), perdagangan barang dan jasa, namun mengharamkan sektor keuangan spekulatif yang kini justru makin mendominasi sistem ekonomi global saat ini.

Melalui sistem Fractional Reserve Banking, ekonomi global saat ini semakin terjerumus ke dalam ekonomi gelembung (bubble economy) berbasis hutang konsumtif yang hanya menguntungkan segelintir orang namun memperbudak masal umat manusia. Ini adalah sebuah organized corruption dalam skala global.

Kondisi darurat kemiskinan yang dialami umat manusia saat ini bukan alasan menghalalkan riba. Justru ribalah yang menyebabkan kondisi darurat ini. Setelah perayaan Idul Fitri 1439 H ini, muslim di manapun berada, terutama muslim Indonesia perlu menjadi garda depan gerakan memerangi riba ini untuk menyelamatkan seluruh ummat manusia di planet yang satu ini.

Jatingaleh, 17 Juni 2018

 

DANIEL MOHAMMAD ROSYID

Guru Besar, Tinggal di Surabaya

RELATED ARTICLES

Most Popular