Berita Terpercaya Tajam Terkini

Ngepasne Roso

0

 

Satu teman, pada hari kedua puasa, telepon Whatsapp (WA Call) pas pukul 6 pagi. Dia menyatakan terganggu dengan tulisan Suwuk yang kusebar di saat sahur.

“Tulisanmu bikin aku nggak nyaman, ketabok. Orang-orang kampung bisa punya kemampuan nyuwuk. Mereka “kepilih” punya ilmu istimewa. Betapa aku aniaya terhadap diri dengan tidak mengisi diri dengan energi Illahi”
“Wow. Kamu sudah dapat berkah Ramadhan tampaknya. Selamat menggugat-gugat diri lur.”
“Aku gak keren blash. Banyak keliru dan dosa. Aku mau serius poso ah – ngepasne rosoku”

Diksi terakhirnya membakar semangatku. Ah, dia mau ngudo roso, pikirku. Aku buka kamera WA, beralih ke video call. Tampaknya sejak Sahur dia tidak balik tidur tetapi terpanggang nelangsa karena soal suwuk wong-wong kampung. Dia berulang-ulang menyebut manajemen roso. Aku spontan menyandingkannya dengan Manajemen Qolbu (MQ). Dia menolak.

“Lebih tinggi. MQ masih sebagian saja, belum puncaknya.”

Lalu dia memberi penjelasan yang terdengar rumit tetapi saya paham. Bagi orang Jawa, ROSO memang puncak tertinggi realitas. Penghubung ke Pencipta. Beda dengan hati yang bisa terkotori, Rasa adalah kebenaran abadi. Yang aku senang, resolusi temanku sederhana: memperbaiki kualitas shalat. Menjaga kesucian adalah syarat agar ROSO hidup dan mengendalikan kita.

“Hal yang halal belum tentu diridloi Allah kan? Fokuslah ke proses karena tidak membohongi hasil. Tetap eling lan waspodo!”

Masih panjang uraiannya, tapi aku bikin kesimpulan singkat dan sederhana: ngepaskan roso agar syariat kita bisa bermuara pada pencapaian hakekat. Ini klise, purba dan dan inheren dalam diri manusia. Perang besar ala Barata Yudha di masing-masing kita.

Beberapa kemudian, sekitar pukul 9, ada diskusi tentang Suwuk di WAG para aktivis perempuan yang sedang advokasi rancangan undang-undang perlindungan pekerja rumah tangga (RUU PPRT). Banyak yang terpancing ke pengalaman keluarga di masa kecil hingga kini. Suwuk ampuh itu biasanya dari para perempuan yaitu ibu dan nenek kita. Caranya hampir sama: dimulai dengan membaca mantra atau doa lalu diakhiri dengan meniup kepala kita.

Bukan hanya suwuk, para perempuan sepuh di keluarga Jawa biasanya nenek bisa, juga bisa “menimbuli”. Para anak dan cucu sujud di lantai, lalu nenek melangkahi kepala kita tiga kali sambil menahan nafas membaca doa. Ini tradisi di keluargaku menjelang pamitan pulang balik ke rumah kita dari kunjungan lebaran di rumah kakek-nenek.

Prosesi ngalap berkah dari para perempuan (laki-laki juga) sepuh yang lain adalah upacara cuci kaki ibu dengan bunga setaman disusul sungkem. Air cucian kaki bahkan disarankan diminum anak dan cucu walau seteguk. Ini acara yang mengharukan karena para ibu sepuh juga akan menyuwuk anak cucu di ubun-ubun atau dahi saat kita sungkem.

Penjelasan ilmiah walau hipotesis soal Suwuk datang dari dokter Budi yang mengalami sendiri berelasi dengan suwuk. Hingga kelas 5 SD mas dokter penggagas gerakan pengadaan kakus untuk mengatasi stunting ini punya masalah cedal, pelat alias bicara tidak jelas.

Cedalnya menjadi sumber perudungan bagi Budi kecil hingga dibereskan oleh seorang ibu dukun bayi, tetangganya. Sebelum di-suwuk, dia harus melalui prosesi khusus termasuk mandi kembang. Prosesi itu dijalankan secara terbuka sehingga menjadi tontonan orang kampungnya. Dia tidak menengarai kapan persisnya cedalnya hilang tetapi pamannya yang tidak disuwuk mengalami cedal hingga usia tua. Dokter Budi juga tidak yakin apa suwuk menjadi obat tunggalnya tetapi dia punya penjelasan soal suwuk yang aku ringkas sebagai berikut:

“Doa itu energi berupa gelombang elektromagnetik yang bisa mempengaruhi fungsi hormon dan neuron otak.”
Energi itulah yang bisa membuat kertas menjadi sekuat besi. Sekuat otot yang tak tertusuk pedang tajam. Sekuat kulit yg tak mempan terbakar api. Energi yang sama telah membuat Musa bisa membelah lautan, atau Soleman mengendara angin. Bahkan Isa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan kelumpuhan. Muhammad yang buta huruf mewariskan Qur’an. Ilmu kita belum bisa menjelaska secara ilmiah tapi semua terjadi lewat doa yang dipanjatkan manusia.

Lalu aku ingat bahwa doa itu beribu bentuknya. Orang Jawa bahkan bisa berdoa saat menembang dan menari persembahan. Bentuk doa bisa berupa kata atau laku menyiksa diri seperti puasa, tapa brata, laku gila mengembara atau yang ekstrim melukai diri seperti di tradisi umat Hindu, Syiah atau Katolik di Philipina dan Sri Lanka.

Tuhan sangat berkuasa sekaligus pemurah dengan adanya Bulan Poso, bulan untuk noto atau ngepasne roso. Kita maksimalkan shalat, bermuhasabah, berdzikir, dan beri’tikaf, hening atau meditasi. Yaitu, kita menyuruh pikiran untuk memikirkan dirinya, hati bercakap dengan dirinya dan badan menenangkan diri dari melayani nafsu manusia.

Sudah banyak keajaiban khusus di Bulan Puasa: penderita maag mampu puasa tanpa kambuh, banyak orang menjadi pemurah, atau netizen saling mengingatkan untuk tidak ber-ghibah. Doa dan laku puasa membuka pancaran Ilahi menjadi energi super besar. Tetapi Pelaku hakekat akan bertanya UNTUK APA. Bagi muslim Jawa tujuannya menghidupkan rasa agar bisa memayu hayuning bhawana. Bermanfaat bagi kehidupan, semesta. Jawaban semua orang itu sama: Tan Hana Dharma Mangrawa.

NGANJUK, 4 April 2022

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.