Sunday, April 14, 2024
HomeBerita AllMuhammadiyah dan NU Itu Saling Melengkapi

Muhammadiyah dan NU Itu Saling Melengkapi

 

Prof. Dr. Din Syamsuddin dan KH. Said Agil Siradj Saat Memaparkan Materi Islam Berkemajuan dan Islam Nusantara di Ruang Semanggi, Garaha Pena, Surabaya, Senin (27/7).
Prof. Dr. Din Syamsuddin (tengah) dan KH. Said Agil Siradj (kanan) Saat Memaparkan Materi Islam Berkemajuan dan Islam Nusantara di Ruang Semanggi, Garaha Pena, Surabaya, Senin (27/7).

 

SURABAYA – Semenjak ormas NU (Nahdlatul Ulama) melempar wacana Islam Nusantara, reaksi publik beragam. Banyak yang mendukung tapi tak sedikit pula yang mengkritik keras terutama dari kelompok masyarakat yang terbiasa berpikir kaku. Padahal Islam Nusantara bukan ajaran, madzhab atau ideologi baru. Ia adalah Islam yang dibawa masuk ke Indonesia oleh para Wali Songo (Wali Sembilan) beberapa abad silam. Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU, KH. Said Agil Siradj dalam Diskusi Pra Muktamar “Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan” di Surabaya, Senin (27/7) siang tadi.

“Jadi Islam Nusantara itu adalah interpretasi bangsa Indonesia dalam beragama (Islam) seperti yang dicontohkan oleh Wali Songo. Pendekatan kebudayaan dan persuasif dalam dakwah diutamakan alih-alih menampilkan wajah Islam yang beringas dan menakutkan,” ujar Said Agil.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin, menyatakan Islam Berkemajuan yang digagas ormas rintisan KH. Ahmad Dahlan tersebut merupakan sebuah pembacaan kritis atas realitas umat Islam khususnya di Indonesia.

“Islam Berkemajuan sebenarnya telah diperkenal sejak era KH Ahmad Dahlan. Jika sebelumnya kita hanya berkutat pada dimensi ruang (partikularitas) dan dimensi waktu (adanya batasan masa), maka Islam Berkemajuan ada pada dimensi gerak. Ia beyond guna membaca situasi kekinian dengan problematika umat (Islam) yang kian kompleks,” ujar Din Syamsuddin di hadapan ratusan peserta diskusi.

Baik Said Agil maupun Din Syamsuddin, meyakini tema muktamar yang diambil NU maupun Muhammadiyah tidak sekedar menjadi branding tetapi sarat makna yang ke depannya diharapkan mampu bersinergi dalam upaya berkontribusi pada bangsa dan dunia.

“Baik NU maupun Muhammadiyah ini kan hanya soal pembagian fungsi dan peran dengan tujuan yang sama. Kami itu ibarat dua buah sayap pesawat Boeing. Keduanya dibutuhkan agar pesawat laik terbang. Jadi Muhammadiyah dan NU itu komplementer. Saling melengkapi,” tegas Din Syamsuddin yang pernah menjadi pimpinan salah satu badan otonom NU di masa mudanya itu.

(ayab/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular