Berita Terpercaya Tajam Terkini

Menyemai Imajinasi Reproklamasi Kemerdekaan

0

Setiap tahun kita melakukan peringatan hari kemerdekaan sebagai bentuk momentum lepas dari penjajahan kolonial Belanda. Selama 76 tahun dan pada tahun ini akan merayakan kembali pada bulan Agustus mendatang. Tapi apakah ‘penjajahan’ itu sendiri telah hilang sepenuhnya dari negara kita tercinta?

Jika harus jujur, maka penjajahan sesungguhnya adalah globalisasi nilai-nilai asing sekuler di dunia Islam, termasuk Indonesia. Globalisasi adalah proses pembaratan atau westernisasi. Penjajahan itu dilakukan semula melalui kolonialisasi, lalu melalui penaklukan atas pemikiran dan imajinasi lokal yang partikular. Standardisasi dan perankingan yang didaku bernilai universal oleh Barat adalah instrumen-instrumen untuk melestarikan penaklukan tersebut. Bahwa masa pencerahan (reneissance) Eropa dimungkinkan oleh pengambilan khasanah pemikiran Islam adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan walaupun sering tidak terus terang diakui.

Kemerdekaan banyak negara bangsa setelah Perang Dunia II menandai awal proxy and neocortex war dibawah bendera Pax Americana dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan semua institusi dibawahnya sebagai kepanjangan tangannya. Kebangkitan nation atau tribal states sesungguhnya adalah upaya untuk mencegah kebangkitan kembali imperium Islam yang runtuh pada 1924. Dunia selama imperium Islam telah menyaksikam masa-masa damai yang cukup panjang dimana kawasan-kawasan yang luas itu diberi kemerdekaan untuk membangun di atas nilai-nilai dan potensi-potensi lokal yang unik. Keragaman budaya dipertahankan. Setelah keruntuhan imperium Islam, dunia justru jatuh ke dalam konflik dan perang berkepanjangan hingga hari ini.

Pendidikan yang semula ditujukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui perwujudan prasyarat budaya bagi bangsa yang merdeka, sejak Orde Baru direduksi menjadi persekolahan massal paksa. Persekolahan hingga hari ini dijadikan instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga kerja yang cukup terampil untuk menjalankan mesin-mesin sekaligus cukup dungu untuk setia bekerja bagi kepentingan pemilik modal asing.

Indonesia hari ini adalah Indonesia yang tidak merdeka, yang kehilangan hampir semua kedaualatannya. Segera setelah proklamasi kemerdekaan, dunia pendidikan nasional justru melahap rakus hampir semua pikiran dan imajinasi Barat. Kehidupan Barat menjadi model dan standard yang ditiru dan diikuti secara membabi buta. Inilah yang sebenarnya oleh bapak bangsa kita, Bung Karno disebut sebagai neokolonialisme.

Kemerdekaan harus dimulai dengan pendidikan yang memerdekakan, paling tidak menjadi fasilitas untuk belajar merdeka. Tolok ukurnya yang pertama dari manusia merdeka adalah berani, bebas dari rasa takut, untuk berpikir dan berimajinasi secara bebas dalam rangka mencari kebenaran. Manusia merdeka adalah manusia yang tidak mau menghamba pada manusia lain, namun menghamba hanya pada Allah Subhanahuwa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Laa tusyrik billah. Penjajahan dilakukan dengan menebar ketakutan untuk berpikir dan berimajinasi secara bebas. Intimidasi berkelanjutan ini telah menyebabkan sebuah budaya dungu, yaitu malas belajar atau berpikir. Budaya ini dapat dilihat sebagian dari ungkapan “takutnya”, terutama “takut salah” yang marak di kalangan anak muda. Padahal melakukan kesalahan adalah wajar dalam proses belajar. Yang harus dicegah adalah berbohong dan berbuat dosa karena tidak semua kesalahan adalah dosa.

Belajar sebagai proses berpikir dimulai dengan bertanya sebagai pertanda rasa ingin tahu atau curiousity. Proses mencari jawabannya bisa dimulai dengan mengalami atau praktek, lalu membaca, berbicara dan menulis. Belajar dengan demikian adalah sebuah proses memaknai pengalaman. Belajar adaalah proses yang bersifat internal dan individualized untuk menumbuhkan AKU. Adalah AKU yang belajar merdeka. Adalah kemerdekaan yang membuat pertanggungjawaban dan juga keadilan menjadi bermakna. Merdeka berarti keberanian untuk mengambil tanggung jawab, termasuk tanggung jawab sejarah. Setelah lama terjajah oleh rasa takut, setiap warga negara, apalagi muslim, harus berlatih untuk mereproklamasikan kemerdekaannya.

SURABAYA, 25 Mei 2022

DANIEL M. ROSYID

Guru Besar dan Direktur Eksekutif Rosyid College of Arts and Maritime Studies

Leave A Reply

Your email address will not be published.