Berita Terpercaya Tajam Terkini

Mengapa Perang Rusia-Ukraina Tak Kunjung Usai?

0
Pakar Hubungan Internasional Universitas Airlangga I Gede Wahyu Wicaksana. (foto: istimewa)

SURABAYA – Perang Rusia-Ukraina belum kunjung usai. Padahal sudah lebih dari tiga bulan perang Rusia-Ukraina masih berlanjut dan belum menemukan titik terang. Apa penyebabnya?

Menurut Pakar Hubungan Internasional Universitas Airlangga, I Gede Wahyu Wicaksana hal tersebut disebabkan karena keinginan kuat Rusia untuk tetap mempertahankan wilayah tradisionalnya guna membuat adanya ekuilibrium kekuatan dan rezim survival.

“Rusia melakukan low intensity war. Ini artinya hanya menyerang di beberapa bagian untuk melumpuhkan beberapa sektor tertentu. Tujuannya bukan untuk menjatuhkan rezim, menguasai negara, mengokupasi, atau menjajah,” jelas Wahyu, Sabtu (28/5/2022).

Menurutnya, low intensity war yang dilakukan Rusia kepada Ukraina ini ditujukan untuk mengembalikan supremasi Rusia di Eropa Timur, khususnya negara-negara pecahan Uni Soviet termasuk Ukraina karena wilayah tersebut merupakan wilayah tradisional Rusia. Tentu hal ini ditujukan guna menjamin keamanan wilayah Rusia itu sendiri.

Rusia dinilai ingin mengembalikan supremasi Rusia di Eropa Timur khususnya negara-negara pecahan Uni Soviet ini bukan untuk menghancurkan dominasi Amerika Serikat melainkan untuk menjaga adanya perimbangan kekuatan dunia.

“Rusia ingin eksis berdampingan. Amerika Serikat boleh tinggal di Amerika Barat, Amerika Latin, atau boleh di manapun. Akan tetapi Rusia juga punya wilayah, jadi punya kavlingnya masing-masing. Kalau kavlingan wilayah yang secara tradisional adalah milik Rusia kemudian diganggu, jelas Rusia akan bereaksi,” terangnya.

Selain itu, pecahnya perang Rusia-Ukraina hingga berlarut-larut disebabkan adanya sindrom negara superpower.

“Amerika Serikat sudah tambah satu, dia ingin satu setengah, sudah satu setengah dia ingin dua, dan seterusnya. Itulah mengapa berbagai negara termasuk Rusia ingin menggeser perimbangan kekuasaan dunia yang sebelumnya sangat sangat condong ke Amerika. Presiden Rusia, Vladimir Putin, selama tujuh belas tahun memerintah menghadapi oposisi yang dimana oposisi digerakkan oleh kekuatan Barat. Hal inilah juga yang membuat low intensity war dilakukan oleh Rusia kepada Ukraina untuk melindungi rezim yang ada atau yang secara konseptual dikenal dengan sebutan rezim survival,” pungkas alumnus Australia tersebut.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.