Wednesday, April 17, 2024
HomeSains TeknologiKesehatanMenengok Upaya GELIAT Unair dan Dinkes Dorong Program Triple Eliminasi Penyakit di...

Menengok Upaya GELIAT Unair dan Dinkes Dorong Program Triple Eliminasi Penyakit di Jatim

Program penguatan kapasitas mentor dari 7 kabupaten di Jatim yang didampingi dalam Program Triple Eliminasi kerjasama Geliat Unair, Dinkes Provinsi Jawa Timur dan UNICEF yang berlangsung pada tanggal 30 Januari – 1 Februari 2024 di Hotel Yello, Surabaya. (foto: CAKRAWARTA)

Surabaya, – Indonesia masih menghadapi permasalahan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang masih tinggi. Terutama di Jawa Timur, beberapa kabupaten masih menjadi daerah dengan kasus AKI dan AKB tinggi seperti di Kabupaten Jember dan Kabupaten Pamekasan.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Kabid P2P Dinkes Jatim) drg. Sulvy Dwi Anggraeni, M.Kes., faktor penyebab kematian ibu dan anak bisa disebabkan oleh penyakit infeksi di antaranya HIV, sifilis dan Hepatitis B.

“Ketiga penyakit infeksi tersebut bisa ditularkan dari ibu ke anak, saat kehamilan dan persalinan yang disebut sebagai penularan vertikal,” ujarnya pada media ini, Senin (11/3/2024).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut Sulvy, telah mengusulkan pendekatan terpadu yakni program Triple Eliminasi untuk mencapai eliminasi penularan HIV, Hepatitis B dan Sifilis dari ibu ke anak atau mother-to-child transmission (MTCT). Kebijakan ini diikuti oleh Indonesia dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2017 oleh Kementerian Kesehatan.

“Upaya ini dilakukan agar meskipun sang ibu terinfeksi HIV, sifilis, atau hepatitis B, namun tidak menular kepada anaknya. Beberapa langkah dalam upaya ini adalah dengan melakukan deteksi dini dan memberikan pengobatan segera jika terdeteksi,” imbuhnya.

Menindaklanjuti fakta terkait program Triple Elimination dan mendorong turunnya angka AKI dan AKB itulah, Tim Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat Universitas Airlangga (GELIAT Unair) kerjasama dengan Dinkes Jatim dan didukung oleh UNICEF Indonesia melakukan pendampingan terhadap 7 kabupaten terpilih di Jatim.  Salah satu faktor pemilihan 7 daerah itu adalah berdasarkan pada data kasus AKI dan AKB yang masih tinggi antara lain Jember, Blitar, Pamekasan, Jombang, Probolinggo, Kediri dan Banyuwangi.

Program penguatan kapasitas dalam Triple Eliminasi bagi petugas layanan Program Triple Eliminasi di seluruh Puskesmas Kabupaten Jember yang dilaksanakan secara Hybrid di Puskesmas Jember Kidul, 28-29 Februari 2024. (foto: CAKRAWARTA)

“Pendampingan ini bertujuan untuk mengawal implementasi dari program Triple Eliminasi yang dilakukan oleh masing-masing kabupaten tersebut mulai dari alur layanan ibu hamil sampai monitoring anak yang dilahirkan terutama untuk program Triple Eliminasi ini yang tentunya berfokus dari ibu yang terinfeksi dengan HIV, Hepatitis dan Sifilis,” tukas Prof. Dr. Nyoman Anita Damayanti, drg., MS sebagai Focal Point Tim GELIAT Unair.

“Sehingga tujuan akhir adalah melindungi anak supaya tidak terinfeksi dan sakit dengan penyakit-penyakit yang diderita oleh si Ibu. Selain itu, yang menjadi penting juga dalam program Triple Eliminasi ini bagaimana pencatatan dan pelaporan tentang notifikasi layanan Triple Eliminasi yang didapatkan oleh ibu dan anak sebagai bukti monitoringnya melalui buku kartu ibu, buku KIA, buku Kohort ibu dan anak, Catpor 3 e dan aplikasi SIHA dan SIHEPI. Hal-hal tersebut yang betul-betul didampingi oleh tim GELIAT Unair bersama Dinkes Jatim dan UNICEF,” imbuh Prof. Nyoman.

Prof Nyoman memaparkan bahwa aktivitas yang dilakukan pihaknya melalui beberapa tahap. Tahap Pertama yaitu pada 3 – 4 Januari 2024 berupa penguatan kapasitas Triple Eliminasi pada pemegang program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM) dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan 7 Dinas Kesehatan Kabupaten yang didampingi.

Adapun tahap kedua, lanjutnya, dilakukan pada 25 Januari 2024 berupa peningkatan kapasitas organisasi profesi terkait Triple Eliminasi dengan peserta dokter spesialis kandungan, penyakit dalam, kulit kelamin, anak, bidan perwakilan dari Kabupaten yang didampingi.

Untuk tahap ketiga, lanjut Prof. Nyoman, dilakukan dalam kurun 30 Januari hingga 1 Februari 2024 berupa penguatan kapasitas mentor yang dilakukan tim dari Dinkes Kabupaten penanggung jawab KIA dan P2P. Kemudian diikuti berupa layanan perawatan, dukungan, dan pengobatan atau PDP yang dilakukan oleh Bidan, pj P2P dan pj Gizi dari 7 Kabupaten yang didampingi.

“Sementara untuk tahap keempat berupa penguatan Triple Eliminasi di masing-masing kabupaten yang didampingi dengan mengundang pemegang layanan Triple Eliminasi antara lain bidan, para pj KIA dan P2P dari Puskesmas dan Rumah Sakit dengan waktu bervariasi di masing-masing kabupaten dimulai dari akhir Februari sampai April,” tandas Prof. Nyoman.

Terkait tim yang diterjunkan untuk kegiatan, pada media ini, PIC kegiatan Triple Eliminasi GELIAT Unair, Laura Navika Yamani, Ph.D mengatakan bahwa kegiatan pendampingannya sendiri dikawal oleh tim dari GELIAT Unair yaitu Dr. Rahmat Hargono, dr. Yati Suparyati, dr. Kemmy A Puramawati, Laura Navika Yamani, Ajeng Febrianti Rahayu, Mufidah Eka, Rima Putri Permatasari, dan Lintang Purwati Dyah Lestari. Tidak hanya dari Tim GELIAT Unair, lanjut Laura, tim Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur juga turut masuk dan andil dalam kegiatan ini seperti Kabid P2P Dinkes Jatim drg. Sulvy Dwi Anggraeni, M.Kes yang membawa tim lengkap yaitu dr. Waritsah Sukarjiyah, M.Kes, Cicik Swi Antika, S.KM, Wahuma, Aminarti, SST, Faridah, Eka Putri Lestari, S.KM., M.Kes, Nurmah Indrijati, S.KM., M.Kes.

Narassumber sedang menjelaskan alur pemeriksaan Triple Eliminasi kepada peserta petugas layanan triple eliminasi di Kabupaten Jombang yang berlangsung pada tanggal 7-8 Maret 2024. (foto: CAKRAWARTA)

Menurut Laura, kegiatan penguatan Triple Eliminasi di masing-masing tahapan mengundang para narasumber baik dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten untuk memberikan topik kebijakan dan langkah strategis Triple Eliminasi mulai dari Dokter Spesialis Kandungan untuk memberikan materi tentang Tata Laksana pada ibu hamil, dari Dokter Spesialis Anak untuk memberikan materi tentang Tata Laksana pada Bayi, Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk materi Penyakit Infeksi Hepatitis B dan Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin untuk materi HIV dan Sifilis, serta narasumber dari pj KIA, pj HIV dan Hepatitis untuk memberikan materi Pencatatan dan Pelaporan buku Kohort Ibu dan Anak serta aplikasi SIHA untuk data kasus HIV dan sifilis dan SIHEPI untuk hepatitis.

“Sehingga kegiatan ini, bisa dikatakan menghadirkan narasumber-narasumber yang memberikan materi yang komprehensif tentang alur layanan Triple Eliminasi dan SOPnya termasuk dari pemeriksaan, Tata Laksana dan Treatment, serta Pencatatan dan Pelaporan data Ibu hamil dan Bayi,” ujar Laura pada media ini.

Sementara itu, dr. Kemmy A Puramawati selaku mentor senior dan Expert WHO untuk program Triple Eliminasi mengatakan bahwa program Triple Eliminasi bertujuan untuk mendeteksi dini infeksi penyakit HIV, sifilis dan Hepatitis B pada ibu hamil dan sangat penting dilakukan oleh semua ibu hamil karena dapat menyelamatkan nyawa ibu dan anak.

Kemmy, menambahkan bahwa dirinya merasa senang karena kegiatan pendampingan berlangsung lancar dan mendapatkan respon positif dari peserta di 7 kabupaten yang didampingi. Apalagi, menurutnya, para peserta sangat antusias mengikuti rangkaian acara demi acara dan berbagi bagaimana implementasi dari program Triple Eliminasi yang telah berlangsung di layanan masing-masing baik puskesmas maupun rumah sakit.

Para peserta antusias saat melakukan review program Triple Eliminasi yang telah berlangsung di masing-masing layanan di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten Pamekasan yang dilaksanakan secara offline di Dinas Kesehatan Pamekasan pada tanggal 8-9 Maret 2024. (foto: CAKRAWARTA)

“Diskusi interaktif antara peserta dengan narasumber dan mentor menemukan gap, kendala maupun inovasi yang ada dari program Triple Eliminasi, sehingga di akhir masing-masing kegiatan para peserta diminta untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) agar pelaksanaan Program Triple Eliminasi ini semakin baik dan maksimal di masing-masing kabupaten, salah satunya dengan membuat atau memperbaiki SOP alur layanan Triple Eliminasi,” imbuh Kemmy.

Kemmy pun berjanji bahwa tim akan melakukan Monitoring Evaluasi dan Bimbingan Teknis secara langsung di layanan Puskesmas untuk melihat implementasi RTL yang telah dibuat di masing-masing kabupaten yang direncanakan di bulan Mei sehingga pendampingan implementasi program Triple Eliminasi ini menjadi rangkaian kegiatan yang utuh dan benar-benar mendapatkan kemanfaatan yang maksimal bagi petugas yang memberikan layanan Triple Eliminasi di masing-masing kabupaten.

“Ke depannya, harapan besar program Triple Eliminasi ini bisa berjalan dengan baik dan mencapai goal yaitu bisa mengeliminasi kasus anak terlahir dengan infeksi HIV, Hepatitis B dan Sifilis pada Tahun 2030 sesuai target yang ditetapkan oleh WHO dan anak-anak kita bisa tumbuh sehat dan berkembang baik yang melahirkan Generasi Emas Indonesia,” tandas Kemmy.

Dihubungi terpisah, Dr. Armunanto, MPH selaku Health Specialist di UNICEF Indonesia wilayah Jatim dan Jateng, menegaskan bahwa tingginya AKI dan AKB di Provinsi Jawa Timur menjadi perhatian bersama semua pihak.

“Sehingga UNICEF bekerjasama dengan GELIAT Unair melakukan pendampingan bagi petugas pemberi layanan Triple Eliminasi di 7 kabupaten terpilih itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya kesehatan ibu hamil baik selama masa kehamilan, melahirkan, nifas, hingga menyusui,” pungkasnya.

(Laura/Tommy)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular