Mendidik Calon Dokter Gigi di Masa Pandemi COVID-19

0

 

Seperti halnya ekonomi, pendidikan menjadi salah satu sektor terdampak yang tak mudah dan cepat dipulihkan akibat pandemi COVID-19. Hal ini terutama berdampak besar bagi sektor pendidikan yang mau tidak mau menuntut peran aktif peserta didik karena tuntutan kurikulumnya membutuhkan kehadiran secara fisik.

Mengacu pada Surat Edaran Kemendikbud Nomor 40 Tahun 2020 Tentang “Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19)”, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengambil sejumlah kebijakan untuk menghadapi pandemi.

Sejumlah perguruan tinggi pun mengambil langkah. Diantaranya menyampaikan pembelajaran menggunakan metode daring (online) dimana mahasiswa tidak perlu hadir di kampus, sehingga pemanfaatan sumber daya juga lebih efisien. Dosen dan mahasiswa tidak bertemu secara langsung, sehingga akan memutus mata rantai penularan COVID-19. Hal ini juga akan membantu pemerintah dalam memberantas penyebaran COVID-19.

Lalu bagaimana sistem pembelajaran di masa pandemi COVID-19 bagi studi pendidikan yang membutuhkan praktik secara fisik? Sebut saja soal pendidikan dokter gigi, tentu tidak semudah yang dibayangkan. Untuk mencetak dokter gigi, disamping kuliah teoritikal juga memerlukan keterampilan khusus . Keterampilan tersebut diperlukan dalam merawat pasien. Untuk mempersiapkan hal tersebut, mahasiswa harus melakukan praktikum skills lab , yaitu praktikum di ruang simulasi dengan menggunakan model gigi dengan materi sesuai pekerjaan di klinik.  Pendidikan Kedokteran Gigi dibagi dalam 2 program studi, yaitu Program Sarjana Kedokteran Gigi dan Program Profesi Dokter Gigi yang output nya adalah dokter gigi.

Program Sarjana Kedokteran Gigi, perkuliahan menggunakan metode student centre learning, praktikum dan skills lab, sedangkan Program Profesi Dokter Gigi melakukan kepaniteraan klinik dengan pasien. Perkuliahan dilakukan  secara online, tetapi yang menjadi permasalahan adalah  skills lab dan kepaniteraan klinik karena harus dilakukan secara tatap muka , mahasiswa harus hadir di ruang simulasi dan rumah sakit gigi dan mulut (RSGM) seperti halnya yang dilakukan di Universitas Airlangga tempat penulis mengajar.

Pencapaian untuk memperoleh gelar dokter gigi di masa pandemi ini harus mempunyai inovasi metode pembelajaran. Saat sebelum pandemi COVID-19 pencapaian tersebut berdasarkan requirement based (jumlah pekerjaan keterampilan klinik banyak), sedangkan sekarang berubah menjadi competence based (berdasarkan kompetensi yang sesuai dengan standar kompetensi dokter gigi (SKDGI) yang telah ditetapkan oleh Konsil Kedokteran Gigi Indonesia, sehingga tidak perlu menyelesaikan pekerjaan yang banyak dan berulang. Hal ini dilakukan karena pada masa pandemi COVID-19 pembelajaran harus dilakukan mematuhi protokol kesehatan, yang berakibat kapasitas ruang yang bisa digunakan yang tadinya 100% menjadi 30%, dan pasien juga sangat berkurang.
Pembelajaran di masa pandemi COVID-19 untuk  materi pembelajaran persiapan masuk klinik (skills lab), mahasiswa diajarkan keterampilan klinis yang berhubungan dengan pekerjaan klinik pada phantom (model) dan dilakukan secara online di rumah masing-masing dengan phantom yang dikirimkan ke mahasiswa dan peralatan yang sudah ditentukan. Pembelajaran online menggunakan 2 device yaitu laptop dan handphone. Laptop digunakan untuk memberikan bimbingan dengan zoom meeting sedangkan handphone digunakan untuk melaporkan hasil pekerjaannya ke dalam Whatsapp Group (WAG) yang isinya adalah kelompok mahasiswa dan dosen, setelah selesai mahasiswa membuat laporan pekerjaan dan diserahkan ke dosen.

Kompetensi

Bagaimana dengan pembelajaran kepaniteraan di klinik dimana harus merawat pasien? Pembelajaran dilakukan secara blended learning, yaitu gabungan antara pembelajaran online dan tatap muka. Bentuk diskusi, laporan kasus dan ujian dilakukan secara online, sedangkan kepaniteraan klinik dilakukan secara tatap muka. Hal ini untuk melatih keterampilan khusus agar mahasiswa tetap mempunyai kompetensi yang sama dengan mahasiswa sebelum pandemi.

Untuk menunjang pembelajaran tersebut, FKG beserta RSGM Unair mengubah infrastruktur agar mahasiswa dapat tetap belajar. Perubahan infrastruktur harus dilakukan yaitu dengan membuat ruangan simulasi yang berisi dental unit dan manekin, sedangkan RSGM merubah ruang perawatan pasien dengan  ruangan bertekanan negatif dan seluruh perlengkapannya sesuai standar protokol Kesehatan yang ditetapkan WHO. FKG Unair mempunyai 3 ruang simulasi dengan 35 dental unit dengan manekin (menyerupai pasien), sedangkan RSGM mempunyai 32 ruang bertekanan negatif.

Pencapaian kompetensi sebagai dokter gigi dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana dan jumlah pasien yang menurun maka pembelajaran dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu grade A, B dan C. Permasalahan untuk pekerjaan keterampilan klinik, harus dilakukan secara tatap muka, bekerja pada ruang simulasi dan RSGM.

Pembelajaran  grade A secara online untuk lebih mempersiapkan pengetahuannya dengan cara pembuatan video pembelajaran  yang menunjang pekerjaan klinik dan diskusi case report. Grade B yaitu pembelajaran dengan tatap muka,   mulai menerapkan apa yang diperoleh dari grade A. Mahasiswa mengerjakan model gigi didalam manekin yang menyerupai keadaan di klinik dan memakai APD level 3. Pekerjaan di ruang simulasi dengan four handed dentistry, mahasiswa yang berperan sebagai dokter gigi akan dibantu oleh temannya yang berperan sebagai asisten. selesai baru melangkah ke grade C yaitu kepaniteraan klinik di RSGM Unair dengan mengerjakan pasien, menggunakan APD level 3 dengan protokol kesehatan yang ketat.

Inovasi metode pembelajaran dalam masa pandemi ini harus tetap dilakukan karena situasi yang tidak menentu supaya mahasiswa tetap bisa belajar untuk mencapai kompetensi sebagai dokter gigi. Cara tersebut digunakan agar mahasiswa tetap terlatih keterampilannya meskipun jumlah pasien yang dikerjakan menurun.

Sementara untuk mengetahui kompetensi pembelajaran sudah terpenuhi atau belum adalah dengan melakukan evaluasi selama proses pembelajaran dengan bentuk mini clinical examination (Mini Cx), direct observation of procedural skills (DOPS) yang digunakan untuk mengukur kompetensi klinis, sedangkan student oral case analysis (SOCA) yaitu ujian yang diberikan kepada mahasiswa dengan bentuk suatu kasus yang diperoleh mahasiswa dan yang terakhir adalah ujian secara nasional, yaitu Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Gigi (UKMP2DG). Baru setelah lulus semuanya maka mahasiswa dinyatakan lulus dan menyandang gelar dokter gigi (drg).

Prof. Dr. IRA WIDJIASTUTI, drg., MKes., SpKG

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (FKG Unair)

Leave A Reply

Your email address will not be published.