Berita Terpercaya Tajam Terkini

Mau Sehat Bermedia Sosial? Pakar: Hindari Vandalisme Digital!

0
ilustrasi. (gambar: istimewa)

 

SURABAYA – Media sosial memang memiliki banyak manfaat tetapi tak hanya begitu ternyata dalam prakteknya masyarakat kerapkali menyalahgunakan media sosial dengan melakukan vandalisme digital seperti penyebaran kebencian (hate speech), kekerasan secara verbal melalui teks, pelabelan atau labelling, dan scamming.

Terkait hal itu, pakar komunikasi digital Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Com., Ph.D., mengungkapkan bahwasanya media sosial membawa dampak yang luar biasa pada kultur komunikasi masyarakat saat ini khususnya di Indonesia. Adanya kesempatan menyamarkan wujud dan identitas, membuka ruang sebagian orang untuk mengolok-olok seseorang lainnya.

“Perubahan kultur komunikasi tersebut akhirnya menggiring orang beramai-ramai melakukan ujaran kebencian alias hate speech. Padahal semua itu belum tentu benar. Jadi, judge by the people ya,” tutur Ida pada media ini, Kamis (1/9/2022).

Tindakan vandalisme digital berbentuk ujaran kebencian sering kali membuat sebagian masyarakat memberikan julukan tersendiri bagi seseorang yang menjadi target kebencian. Ida menuturkan bahwa pelabelan atau labelling merupakan pelanggaran dari budaya komunikasi.

“Pelabelan atau memberikan julukan itu tidak boleh. Itu merupakan bentuk dari diskriminasi. Masyarakat sekarang ini sering kali menjadi polisi, hakim yang lebih kejam dari lembaga hukum,” tukas guru besar ilmu komunikasi tersebut.

Selain itu, vandalisme digital juga dapat berpengaruh pada psikologis orang yang dilabeli oleh masyarakat tersebut. Hal tersebut dapat menjadi trauma panjang bagi korban pelabelan. Bahkan dapat menyebabkan anxiety attack yang sulit disembuhkan sendiri.

“Hal itu tidak dipikirkan oleh masyarakat. Jika julukan-julukan kepada orang yang bersangkutan itu dianggap biasa secara social education itu tidak baik. Jika terus-menerus viral dan netizen terus melakukan itu, itu tidak baik,” paparnya.

Ida menyebutkan, masyarakat perlu diberikan diberikan literasi terkait dengan sehat bermedia sosial. Hal itu bertujuan untuk menghindari malfungsi dari media sosial, sehingga media sosial nantinya lebih banyak digunakan untuk membangun networking daripada melempar ujaran kebencian.

“Perlu ada pemasyarakatan Undang-Undang ITE juga dari pemerintah. Sehat bermedia sosial seperti bagaimana kita menggunakan medsos secara positif, menghindari cancel culture,” jelasnya.

Ida berpesan, sebagai pengguna media sosial masyarakat perlu memilih dan memilah konten. Buang informasi yang menjadikan pengguna tidak sehat bermedia sosial.

“Bijak bermedia sosial itu penting. Apalagi bagi generasi muda. Pengguna sehat tidak ikut ikutan membagi informasi yang tidak valid,” pungkas dosen Universitas Airlangga.

(pkip/bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.