Sunday, April 21, 2024
HomeSudut Pandang“Kuda Troya Membelot?” Penafsiran Terhadap Fenomena Politik Pemilu 2024 dan Kode Borobudur...

“Kuda Troya Membelot?” Penafsiran Terhadap Fenomena Politik Pemilu 2024 dan Kode Borobudur (Bagian 2)

Penulis menemukan bahwa lantai rupadatu pada Candi Borobudur berkisah mengenai Sejarah Nusantara, sebagiannya berkaitan dengan dunia. Lantai rupadatu lantai paling atas (lantai 1) hingga lantai ketiga berkisah mengenai Sang Buddha, sejarah leluhur tanah Jawa (Nusantara) hingga berdirinya Candi Borobudur, dan peristiwa dunia yang terjadi saat itu (termasuk peristiwa burung ababil dan kelahiran Nabi Muhammad saw). Sedangkan lantai rupadatu keempat (rupadatu paling bawah) berkisah para raja-raja setelah dibangunnya Candi Borobudur, atau kisah masa depan setelah dibangunnya Candi Borobudur hingga memasuki zaman kehancuran menjelang kiamat (berakhirnya dunia) dengan didahului masa kebinatangan manusia (kamadatu). Kita saat ini berada di rupadatu lantai 4 relief nomor 64, dihitung dari sudut barat laut. Pada ulasan ini, penulis membatasi hanya mengulas relief 64, 65, 66, dan 67 terkait kode Borobudur berkaitan dengan Pemilu 2024 dan apa yang mungkin akan terjadi dalam lima tahun masa kepemimpinan (2024-2029).

Kuda Troya Telah Membelot: Antara Hakikat dan Ikhtiar

Kuda Troya memang telah membelot. Namun, asa untuk mengembalikan kuda Troya Kembali ke Sparta (Yunani) masih tersedia harapannya. Borobudur mengisyaratkan hal yang dapat membuat kuda Troya kembali menyadari kekeliruannya. Pertama, “tabungan amunisi” (yang telah penulis ulas di bagian 1) (relief 64-anak panah). Kedua, bencana ekologis dan perubahan iklim serta krisis ekonomi, yang dimulai dengan adanya fenomena kenaikan harga kebutuhan pokok khususnya bahan pangan (relief 65). Ketiga, terhentinya jabatan di tengah jalan akibat usia dan kesehatan serta resistensi di parlemen (relief 64). Keempat, geopolitik Timur Tengah yang membara yang berpengaruh pada geo ekonomi (relief 66).

Pada awalnya, kita semua berharap lintah-lintah itu menjauh dan ditolak mendekat, namun kenyataannya dipeluk mesra. Lintah-lintah yang merapat di kubu kuda Troya dan raja Troya adalah lintah-lintah yang memeras darah Ibu Pertiwi. Meskipun kita mengetahui secara hakikat dan petunjuk dalam relief Borobudur bahwa raja Troya yang didukung kuda Troya yang membelot akan memenangkan pertarungan, sebagai insan yang berpikir dan mengetahui nilai-nilai demokrasi, hukum, dan keadilan yang semestinya diperjuangkan, mestilah kita akan mengurungkan dan pantang untuk mengikhtiarkan kemenangan mereka. Asa agar kuda troya yang membelot itu menyadari kekeliruannya masih diharapkan banyak orang.

Burung dengan air diparuhnya tak mampu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim a.s., namun niat baiknya itu telah dicatat oleh Allah SWT, pun demikian cicak dengan tiupannya itu takkan mampu membesarkan api yang membakar Nabi Ibrahim a.s., namun niat buruknya pun telah dicatat oleh Allah SWT. Manakah peran yang terbaik?

Penulis telah meyakini bahwa Prabowo akan memenangkan pemilu 2024 sejak penulis menemukan tafsir atas relief nomor 64, yaitu setelah terpilihnya Joko Widodo menjadi Presiden periode kedua 2019-2024 (atau pada tahun 2019). Namun, pada pemilu 2024 saat ini, sejumlah permasalahan yang mencederainya (seperti masalah moral, etika, dan hukum; masalah ketidaknetralan dan intervensi pemerintah; dan masalah politisasi anggaran) membuat keprihatinan penulis, karena nilai-nilai demokrasi dan keadilan tercederai.

Pada bagian 1 penulis menulis:

Prabowo adalah ancaman pada 2024 bagi Jokowi dan kelompok politiknya, jika tidak dirangkul dan dijadikan “teman”. Apabila UUD 1945 tidak diamandemen untuk memperpanjang masa jabatan presiden lebih dari dua periode, maka peluang Prabowo untuk terpilih pada 2024 sangat besar dengan popularitas tertinggi. Apabila tidak dirangkul atau dijadikan teman, maka Prabowo dan aktor-aktor politik pembenci istana dapat melancarkan aksi balas dendam bagi kubu istana.
—————————-
Merangkul lawan politik untuk menciptakan stabilitas nasional yang mendukung pembangunan adalah komitmen partai politik ideologis yang mengusung pemerintah. Namun, di sisi kelompok pragmatis, merangkul lawan politik adalah upaya untuk mengurangi ancaman terhadap oligarki ekonomi politik dan mafia bisnis di belakang layar kekuasaan. Kuda troya yang merangkul raja Troya, tentunya bertujuan ideologis, dan tidaklah pragmatis. Apabila kuda troya membelot, maka sikap membelotnya kuda troya menunjukkan tujuan pragmatis kuda troya lebih mendominasi daripada tujuan ideologis untuk menciptakan stabilitas nasional yang mendukung pembangunan.

 

Di Grup WA Nalar Konstitusi (yang beranggotakan tokoh-tohoh politik dan orang istana) pada 13 Mei 2023 penulis berharap Presiden Jokowi menempatkan cawapres bagi Prabowo pada pemilu 2024. Sekaligus merekomendasikan masuknya Kaesang di Tim pemenangan. Sebenarnya jauh hari penulis sudah merekomendasikan hal itu, hanya saja, screenshot WA yang dapat diperoleh adalah tertanggal 13 Mei 2023.

Tahun sebelumnya yaitu pada 7 Januari 2022, penulis menyarankan agar Kang Dedi Mulyadi dan Fahri Hamzah dijadikan tangan kanan Presiden. Hal itu karena dalam relief nomor 67, ditemukan sosok Kaesang, Fahri Hamzah, dan Dedi Mulyadi. Maka jika ketiga sosok itu berada di antara Presiden Jokowi sekaligus Capres Prabowo, maka kemenangan bagi Prabowo tak terelakkan lagi.

Penulis telah memprediksi jika kedua sosok itu menjadi tangan kanan Presiden setelah Jokowi, maka mereka akan menambah daya dobrak untuk terwujudnya reformasi yang dicita-citakan (harapan penulis saat itu, namun penulis kecewa dengan yang terjadi saat ini). Pesan itu sepertinya beresonansi yaitu dengan pindahnya Dedi Mulyadi dari Partai Golkar ke Gerindra pada Juni 2023 dan merapatnya Fahri Hamzah ke Prabowo pada Pemilu 2024.

Perpaduan Jokowi Effect dan Tampilan Kerendahhatian

Pada Juni 2023, di suatu grup WA, saya menyampaikan bahwa Jokowi begitu disukai khususnya di kalangan masyarakat desa. Saat saya turun ke desa, saya mendapatkan data kualitatif yang sangat kuat, yaitu Dana Desa yang berdampak pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa menjadi faktor determinan yang mendorong kesukaan masyarakat kepada Jokowi, disamping faktor personalitas Jokowi yang “dianggap” rendah hati. Selain itu, setelan tampilan yang konsisten menampilkan kerendahhatian dan tidak menghiraukan kritik adalah faktor penentu kesukaan masyarakat terhadap Jokowi dan Prabowo. Perpaduan kedua faktor itu adalah faktor yang tidak terkalahkan.

Relief 64

Relief di bawah ini (nomor 64) adalah etalase tokoh-tokoh bangsa yang ada saat ini, dari kiri ke kanan: K.H. Ma’ruf Amin, Pemegang Panah (Perpaduan tiga sosok, meskipun kecocokan wajah dengan Ganjar Pranowo sekitar 50-70%), Presiden Jokowi, Yuddy Chrisnandi, Nadiem Makarim, Airlangga Hartarto, Pramono Anung, Basuki Hadimuljono, dan Retno Marsudi. Kemudian di sebelah kanan pagar pembatas adalah Din Syamsudin, Rizieq Shihab, Quraish Shihab, Pemegang Payung (dirahasiakan/tertutupi), Almarhum Buya Syafi’i Ma’arif (berdiri dan dipayungi), Prabowo Subianto (dipanggul) oleh KH Said Aqil Siradj, Haedar Nashir, dan KH Miftachul Achyar. Di tengah-tengah berdiri “pohon hayat” logo atau simbol Ibukota Nusantara (IKN).

 

Relief 64 Rupadatu Lantai 4 (Dokumen Pribadi)

Penafsiran atas Relief 64

Jokowi berada pada persimpangan jalan. Apakah bertahan mendukung Ganjar ataukah mendukung Prabowo. Kegamangan atau keraguannya mendukung Prabowo adalah adanya pertanyaan “apakah Prabowo dapat dikendalikan jika terpilih?” Untuk itulah, strategi memasangkan dengan Gibran adalah upaya pengendalian Jokowi terhadap Prabowo. Hati nuraninya masih berkiblat pada pemegang panah (metafora idealitas). Demikian juga para Menteri dan mantan Menteri di belakangnya, termasuk Wapres Ma’ruf Amin.

Sehingga pada bagian 1 penulis menulis:

Borobudur mengisyaratkan adanya pembangkangan, maka dari itu Ibu kaum Marhaen pun turun gunung di Kompas TV, dan suasana pertarungannya menjadi nyata. Suhu panah pertarungan pun membuat awan-awan meleleh membanjiri sejumlah wilayah di Jawa (hiperbolis). Upaya kuda troya menghalangi jagoannya ibu kaum marhaen ternyata benar-benar dilakukan kuda troya.

Kuda troya sepertinya tengah mabuk tak tahu arah ke mana harus menembak. Semua itu terjadi karena cinta anaknya. Kuda troya sepertinya menikmati perannya, hingga lupa jalan kembali. Upaya menghambat ibu kaum marhen dilakukan kuda troya karena ia adalah kuda tunggangan, yang ditunggangi banyak kepentingan. Tidak hanya kepentingan ideologis wasiat Ibu kaum Marhaen, namun kepentingan pragmatis para penumpang gelap, oligarki ekonomi, dan mafia bisnis. Kuda suka meringkih dan menaikkan kaki, mengancam semua lawan-lawannya dengan ringkihan dan kakinya. Kasus hukum menjadi alat pengancaman. Namun itu tidak berlangsung lama, Borobudur mengisyaratkan kode kepemimpinan secara jelas.

Pembangkangan itu dimotivasi oleh “pohon hayat” yaitu IKN. Kekehnya untuk mengamankan IKN membuat kelompok politik istana lebih didahulukan daripada kelompok politik pendukung lamanya.

Meskipun Prabowo terpilih di 2024, penulis memprediksi tidak akan bertahan lama. Penulis memprediksi hanya maksimal 3 (tiga) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun, baik karena usia atau kesehatan maupun adanya gejolak politik yang besar yang dipengaruhi faktor politik domestik dan geopolitik, hingga memunculkan pemimpin baru pada relief 65 dan 66. Penulis bahkan mengkhawatirkan terhentinya kepemimpinan Prabowo karena terhentinya usia dan masalah kesehatan. Keberadaan almarhum Buya Syafi’i dan tiga tokoh yang duduk di belakangnya adalah perumpamaan dan kode penghitungan tahun. Buya Syafi’i meninggal pada tahun 2022 atau tiga tahun setelah Presiden Jokowi dilantik tahun 2019 untuk periode kedua. Tiga tokoh bermakna tiga tahun. Payung bermakna kemalangan atau duka. Demikian juga simbol tandu yang dinaiki Prabowo, dan simbol tiga tokoh yang memanggul. Tandu pun bermakna duka dan tokoh bermakna tahun.

Seiring membesarnya masalah geopolitik yang dipicu perang di Timur-Tengah (Relief 66) dan ekonomi dunia akan terpengaruh lebih besar daripada pengaruh yang ditimbulkan perang Rusia-Ukraina, menjadi faktor eksternal yang memicu gejolak besar setelah tiga tahun kepemimpinan Prabowo.

Relief 65 dan Penafsirannya

Relief 65 menggambarkan kemunculan “sosok baru” yang mampu mengurai permasalahan ekonomi dan keuangan negara. Pada masa awal Prabowo, ia akan menghadapi kenaikan dan kelangkaan bahan pangan, atau kenaikan harga-harga kebutuhan pokok (disimbolkan dengan kendi dan perempuan). Kemudian, pada masa itu, banyak ahli agama (ulama) yang mengemis ke penguasa (disimbolkan dengan angsa). Tokoh agama yang merasa dirinya berjasa menaikkan Prabowo menagih balas budi. Ulama menjual imannya demi dunia. Simbol agama dipolitisasi adalah adanya tempat ibadah di sisi kiri relief. Seyogyanya di relief lain, di mana tempat ibadah dimuliakan, ia ditempatkan di kanan relief.

Simbol kode ekonomi dan keuangan negara adalah adanya sosok Menteri Keuangan Sri Mulyani di hadapan “sosok baru” itu. Sosok baru ini adalah salah satu dari tiga sosok yang ada di wajah pemegang panah (sosok baru, Ganjar, dan Gibran). Jika ada masalah ekonomi dan keuangan, maka carilah “sosok baru” itu. Berikan kepadanya tugas.

Konon dahulu Bung Karno terinspirasi dari cerita kitab musarar dan jangka jayabaya yang menyebutkan bahwa raja prenggi akan kalah oleh prabu Ginupta ing “Rum”, ketika menunjuk Mr. Mohammad Roem untuk memimpin perundingan Roem-Royen yang menjadi tonggak menuju Konferensi Meja Bundar yang mengakui kedaulatan Indonesia. Kata “Rum” memotivasi mencari orang yang juga Bernama “Roem” (cerita ini dituturkan oleh beberapa pelaku sejarah kemerdekaan).

Maka, biarkanlah pemimpin negeri ini terinspirasi dengan Borobudur untuk Indonesia Raya.

Relief 65 Rupadatu Lantai 4 (Dokumen Pribadi)

Relief 66 dan Penafsirannya

Relief 66 menggambarkan kepemimpinan pasca Prabowo. Setelah gonjang-ganjing pada pemerintahannya yang tak kunjung reda, yang dipicu adanya “tabungan amunisi’ yang penulis ulas dalam bagian 1, kenaikan harga kebutuhan pokok khususnya pangan, perubahan iklim, serta gejolak ekonomi dunia (geo ekonomi) akibat terjadinya gejolak geopolitik di Timur Tengah, pemerintahan Prabowo menghadapi situasi pelik. Masalah kesehatan pesiden dan ketidakcakapan wakilnya serta polarisasi koalisi oposisi di parlemen, melahirkan masalah yang kompleks. Bagi penulis, situasi itu adalah “berkah” untuk memunculkan sosok pemimpin baru Indonesia ke depan yang ada di relief 65 dan seterusnya.

Relief 66 Rupadatu Lantai 4 (Dokumen Pribadi)

Relief 66 ini menggambarkan pertemuan presiden masa depan dengan para pemimpin negara Timur Tengah dan Turki. Pertemuan itu adalah simbol diselesaikannya konflik dan perang Timur Tengah yang berkepanjangan termasuk masalah Israel-Palestina. Kode jari pada tangannya mengisyaratkan besarnya peran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai yang akan menentukan arah kepemimpinan pasca Prabowo.

Relief 67 dan Penafsirannya

Relief 67 menggambarkan besarnya kekuatan pertahanan pada masa itu. Hal itu disimbolkan dengan perwira dan gajah. Keberadaan Kaesang, Dedi Mulyadi, dan Fahri Hamzah di relief itu menunjukkan masa terjadinya tidak jauh dari masa kepresidenan Prabowo, bahkan merupakan lanjutan (karena terhentinya di tengah jalan).

 

Relief 67 Rupadatu Lantai 4 (Dokumen Pribadi)

Sosok pemimpin masa depan ini, sebenarnya telah ada di relief 61, dan merupakan salah satu dari tiga sosok dalam wajah pemegang panah di relief 64 bersama ganjar Pranowo dan Gibran Rakabuming Raka. Kepemimpinan pasca Prabowo adalah perpaduan ketiga sosok itu, yaitu sosok pemimpin masa depan, Ganjar Pranowo, dan Gibran Rakabuming Raka. (Bagian 2).

 

WERDHA CANDRATRILAKSITA
Pengamat Kebijakan Publik dan Pemerhati Borobudur

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular