Wednesday, May 22, 2024
HomeInternasionalKolaboratif, Seniman Bali dan Mahasiswa NUS Singapura Pentaskan Tari Drama Tradisional Bali

Kolaboratif, Seniman Bali dan Mahasiswa NUS Singapura Pentaskan Tari Drama Tradisional Bali

Kolaborasi mahasiswa NUS dengan KBRI di Singapura dan penabuh serta penari dari Bali saat menggelar pertunjukan tari drama tradisional Bali di Lecture Theatre Hall 13 National University Singapore, Jumat (17/11/2023). (foto: KBRI Singapura)

SINGAPURA – Mahasiswa dari Departemen Studi Asia Tenggara Universitas Nasional Singapura (NUS) berkolaborasi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, serta didukung penabuh dan penari dari Bali menggelar pertunjukan tari drama tradisional Bali yang berjudul Sutasoma: The Journey Jumat (17/11/2023) di Lecture Theatre Hall 13 National University Singapore.

Pertunjukan tersebut diinisiasi oleh Prof. Irving Johnson terinspirasi dari puisi Jawa abad ke-15 berjudul Sutasoma, yang menjadi asal muasal motto nasional Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Kisah Sutasoma menceritakan bagaimana harmoni dapat dicapai secara non-kekerasan meskipun terdapat perbedaan, sebuah etos regional yang dihargai oleh Indonesia dan Singapura. Kedua negara ini memiliki populasi yang kompleks secara budaya dan etnis – namun komunitas-komunitas yang berbeda ini hidup berdampingan dengan damai. Meskipun ada perbedaan dalam hal ukuran, budaya, dan sejarah, baik Indonesia maupun Singapura memiliki kesamaan mendasar bahwa mereka beragam tetapi bersatu sebagai satu bangsa. Dalam kisah Sutasoma, tema perbedaan dan harmoni diartikulasikan dengan jelas melalui perjalanan tokoh protagonis raja Sutasoma.

Pertunjukan tersebut dihadiri lebih dari 300 penonton yang memenuhi kapasitas hall yang kesehariannya dipakai sebagai lokasi kuliah umum untuk mahasiswa NUS. Duta Besar Suryo Pratomo yang menghadiri acara tersebut dalam sambutannya menyatakan rasa bangganya karena pertunjukan ini melibatkan para generasi muda dari Singapura dan Indonesia.

”Kolaborasi ini menunjukkan perbedaan adalah sebuah kekuatan jika kita bisa melakukan harmonisasi dengan baik,” ujarnya.

Lebih dari 30 orang mahasiswa NUS yang berasal dari lima negara menjadi penari, penabuh maupun panitia acara ini. Dari Bali didatangkan 18 penabuh gamelan dan penari Bali yang berasal dari anak-anak muda dari Gianyar Bali. Dubes Suryopratomo juga menyatakan apresiasinya terhadap NUS yang mendukung pelestarian budaya tradisional di kalangan mahasiswa dan generasi muda.

Pentingnya Diplomasi Kebudayaan

Sementara itu, dalam keterangannya pada media ini, Sabtu (18/11/2023), Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura, IGAK Satrya Wibawa, menyatakan, “Ini adalah kali pertama cerita Sutasoma dipentaskan di Singapura. Genre pertunjukan ini adalah drama klasik Balinese Topeng Prembon.” Topeng Prembon adalah salah satu genre klasik yang sangat populer di Bali tetapi jarang dilihat oleh wisatawan. “Topeng prembon memang durasinya panjang dan menyajikan plot yang kompleks. Mungkin mirip seperti opera atau penamoilan broadway,” ujar Satrya.

Yang menarik menurut staf pengajar Universitas Airlangga ini, mahasiswa NUS yang berpartisipasi dalam produksi ini semuanya adalah mahasiswa sarjana yang mengambil mata kuliah Unmasked: An Introduction to Traditional Dance in Southeast Asia. Kelas ini mengajarkan mahasiswa tentang berbagai bentuk tari/drama tradisional di Asia Tenggara. Sebagai bentuk totalitasnya, para mahasiswa itu menghabiskan seminggu di Bali untuk belajar cara menyajikan pertunjukan Prembon dan melakukan tarian. Proses kolaborasi juga melibatkan sanggar gamelan Singamurti Singapura serta sanggar tari Bali pertama dan satu-satunya di Singapura, Eka Swara Santhi.

Kombinasi spektakuler tari, drama, dan musik ini, menurut Satrya, merupakan tonggak penting bagi Indonesia dan Singapura. Penyelenggaraan produksi seperti ini di Singapura menciptakan peluang untuk kolaborasi lintas budaya dan kesadaran yang lebih besar antara kedua negara dan penduduk mereka. Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mendukung kolaborasi kebudayaan ini dalam bentuk Dana Indonesiana, yang juga dikenal sebagai Dana Abadi Kebudayaan. Dana ini disediakan oleh pemerintah untuk mendukung perkembangan dan prestasi para budayawan serta menyalurkan ekspresi mereka. Selama beberapa tahun terakhir, Dana Indonesiana telah memberikan manfaat besar kepada para budayawan. Pengelolaan Dana Indonesiana melibatkan kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk mencapai sebanyak mungkin budayawan atau seniman. Pentas Sutasoma ini menurut Satrya menjadi awal dari kolaborasi serupa tahun depan.

”Diplomasi kebudayaan adalah salah satu cara strategis untuk mempererat hubungan kedua negara,” pungkas Satrya.

(rils/rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular