Berita Terpercaya Tajam Terkini

Keluarga Korban Kekerasan Seksual Diharapkan Bantu Polisi Guna Percepat Penuntasan Kasus

0
Ilustrasi. (foto: shutterstock)

 

SURABAYA – Pelecehan seksual selalu meninggalkan trauma yang mendalam, tak hanya bagi korban, tetapi juga orang-orang terdekat korban. Pernahkah terbayangkan, apa yang harus kita lakukan jika hal keji itu terjadi pada kerabat, sahabat, atau bahkan keluarga kita? Menjawab pertanyaan tersebut pakar psikologi Margaretha Rehulina, S.Psi., G.Dip.Psych., M.Sc., mengatakan bahwa pada beberapa orang, mungkin bisa terjadi keinginan membalas dendam dan marah.

“Karena ketika kita marah, kehilangan, benci sebenarnya yang ingin dikejar adalah pemuasan kemarahan diri. Jadi ingin memuaskan kebutuhan diri untuk membalas dendam. Ini bukan yang terbaik untuk korban karena sebenarnya kita sedang melayani emosi pribadi,” jelas Margaretha, Selasa (21/12/2021)

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tersebut menjelaskan, marah dan rasa ingin balas dendam adalah sangat mungkin terjadi. Apalagi, berdasarkan pengamatannya, sebagian besar pelaku kejahatan seksual adalah orang yang dikenal korban. Bisa guru, keluarga, bahkan orang tua sendiri. Hal itu, ungkapnya, yang membuat korban maupun keluarga korban menjadi lebih terpukul.

“Kerusakannya lebih parah karena yang dijarah bukan hanya tubuh, tetapi juga kepercayaan,” tandasnya.

Meski begitu, Margaretha menegaskan bahwa yang perlu dipahami adalah posisi korban kejahatan seksual saat ini sedang membutuhkan dukungan keluarga atau orang-orang terdekat. Sehingga, alih-alih menghabiskan energi pada keinginan membalas dendam, lebih baik fokus memberikan dukungan bagi korban untuk melanjutkan hidupnya.

Wanita yang kini tengah menyelesaikan studi doktoralnya di University of Melbourne, Australia itu sangat menyarankan agar pihak keluarga atau orang terdekat mengakses bantuan hukum jika kejahatan seksual telah terjadi. Namun, bukan berarti keluarga yang harus mencari keadilan dengan cara main hakim sendiri melainkan tetap menggunakan jalur dan proses hukum yang ada.

“Keluarga bisa membantu polisi agar bisa melakukan penyelidikan lebih cepat. Sehingga pelaku atau tersangka dapat segera dihentikan agar tidak melakukan pengulangan kejahatan,” ujarnya.

Menurut Margaretha, dukungan dan bantuan dari lingkungan terdekat adalah hal utama yang dibutuhkan oleh korban. Jika korban kejahatan seksual adalah anak-anak, sangat diharapkan bukan hanya keluarga, tetapi juga sekolah turut memberikan dukungan.

Meski demikian, sejauh ini yang terjadi di Indonesia masih jauh dari harapan Retha. Korban kejahatan seksual dianggap harus mengundurkan diri dari sekolahnya.

“Misalkan sampai terjadi kehamilan, itu yang terjadi adalah anak diminta mengundurkan diri dari sekolah. Ini kita tambah melukai korban dan membuat korban bertambah traumanya. Karena dia bukan hanya trauma diperkosa, tetapi juga trauma diambil haknya dari pendidikan,” pungkasnya.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.