Sunday, March 3, 2024
HomeGagasanKekuasaan Tidak Pernah Abadi

Kekuasaan Tidak Pernah Abadi

photo-1

Pada akhir pekan kemarin, Saya berbincang panjang dengan Ayah Saya saat perjalanan pulang mengantarkan Ayah ke rumah Kakak di Bandung. Ayah masih harus berjuang keras untuk bisa mengikhlaskan kepergian Ibu Saya 3 bulan lalu kembali pada Tuhan Sang Pencipta. Kadang kala, Ia bisa tiba-tiba menangis sesunggukan, saat mengingat semua kebaikan dan ketulusan Istri yang amat dikasihinya itu. Kerut muka dan wajah lelah pejuang hidup yang tidak kenal menyerah ini menunjukkan jam terbang, pengalaman dan kisah hidupnya yang penuh warna. Sambil menyeka air mata dari wajah tuanya, Ayah bersaksi bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang abadi. Pada masa lalu Ayah memegang rekor paling sering sakit, selalu dirawat dan diurus oleh Ibu Saya. Tidak pernah menyangka pada hari tuanya, ternyata malah Ibu yang begitu sehat dan cekatan lebih dulu dipanggil oleh Sang Pencipta. Padahal doa dan harapannya kepada Tuhan YMK, semoga Ia yang lebih dulu dipanggil mendahului Istrinya. Inilah rahasia kehidupan, manusia boleh berencana dan berusaha, tapi tetap Tuhan juga yang menentukan hasil akhirnya.

Perbincangan Kami terus berlanjut saat Ayah Saya berkisah tentang bagaimana berwibawa dan berkharismanya dahulu Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto pada puncak kejayaan mereka. Ayah betul betul mengikuti, menyaksikan dan mengamati fase metamorfosa tumbuh kembang, naik ke puncak kekuasaan, masa kejayaan dan masa kelam saat kejatuhan kedua tokoh pemimpin fenomenal bangsa Indonesia itu. Pada saat kedua pemimpin besar bangsa Kita itu ada di puncak kejayaannya, semua orang mengelu-elukan, memuja dan memuji, menyanjung, menghormati bahkan ada yang sampai seperti mengkultuskannya. Akan tetapi apa yang terjadi saat kejatuhan kedua tokoh pemimpin Kita itu dulu sangatlah ironis dan menyedihkan. Keras dan kejamnya kehidupan yang fana sangat nyata dalam kehidupan politik dan kekuasaan di negeri Kita ini. Jangan pernah bermain-main dengan kursi kekuasaan, jika tidak mau terkena tulahnya. Padahal kedua tokoh pemimpin Kita itu, sejatinya adalah orang-orang terbaik dari bangsa Kita pada eranya masing-masing. Bisa Kita buktikan dan rasakan karya nyatanya yang abadi bagi Kita seluruh bangsa Indonesia hingga sekarang.

Akan tetapi, realitas yang Kita rasakan terkait politik dan kekuasaan di negeri Kita pada era reformasi saat ini, hukum ketidakcocokan (mismatched) yang berlaku. Orang yang tidak memiliki kapasitas dan integritas memadai untuk menjadi pemimpin malah mendapatkan kekuasaan, sebaliknya orang yang betul-betul memiliki kemampuan dengan niat dan tekad yang kuat untuk memberi karya besar sebagai pemimpin, malah menjadi penonton di pinggir lapangan. Sebagai analogi, bisa dibayangkan jika Kita menonton pertandingan 2 klub sepakbola musuh bebuyutan paling terkenal di dunia, Barcelona dengan Real Madrid. Akan seperti apa jadinya pertandingan kedua klub ini jika para pemain hebat seperti Lionel Messi, Neymar, Luis Suarez, Sergio Busquets, Jodi Alba, Arda Turan dan pemain terbaik lainnya dari Barcelona, serta para pemain top Real Madrid seperti Cristiano Ronaldo, Roberto Carlos, Karim Benzema, Mesut Ozil, Iker Cassilas, David Beckham dan yang lainnya, dijadikan penonton di pinggir lapangan. Kemudian para penonton dipilih secara acak untuk menjadi pemain di lapangan menggunakan kostum Barca dan Real Madrid. Sudah pasti yang terjadi adalah kekacauan di tengah lapangan. Banyak hal yang lucu dan tidak lucu akan dipertontonkan. Seluruh penonton di dalam stadion maupun penonton televisi di seluruh dunia akan kecewa dan marah. Seperti itu juga realitas dan gambaran tentang fenomena hukum ketidakcocokan (mismatched) dalam politik dan kekuasaan yang terjadi di negara Kita sekarang ini.

Ternyata fenomena berlakunya hukum ketidakcocokan (mismatched) ini juga terjadi di berbagai belahan dunia lainnya. Salah satu contohnya di Amerika Serikat. Terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden Amerika menjadi salah satu buktinya. Kabarnya, saat ini pasar taruhan di Amerika sangat dominan yang meyakini bahwa bahwa Presiden Trump hanya akan mampu bertahan memimpin Amerika satu sampai dua tahun kedepan. Bahkan kalangan akademisi dan kaum terpelajar (scholars) dari perguruan tinggi ternama di Amerika juga ikut memprediksi hal yang sama. Tanda-tandanya sudah terlihat dengan terus bergulirnya berbagai demonstrasi massa dalam jumlah besar menuntut mundurnya Presiden Trump. Harus Kita akui bahwa terpilihnya Trump menjadi Presiden Amerika menjadi salah satu peristiwa yang mengagetkan seluruh negara di dunia. Satu hal yang pasti kedepan, panggung politik dan kekuasaan di Amerika akan terus bergejolak dan memanas menuju puncaknya kelak. Amerika sebagai negara adi daya dan nenek moyangnya demokrasi era modern, sedang tertatih-tatih dengan demokrasi yang diajarkan dan ditularkannya ke seluruh dunia.

Waktu terus berlalu, bumi terasa berputar semakin cepat. Dunia tanpa batas yang ditopang oleh kemajuan teknologi informasi, memberikan dampak positif berupa transparansi dan efisiensi birokrasi. Harusnya tidak ada celah lagi bagi siapapun yang mendapat amanah kekuasaan untuk lepas kontrol, keluar dari norma etika dan norma hukum yang berlaku. Tanda-tanda zaman sudah bisa dibaca. Siapa saja para penguasa yang tergelincir menjadi dzalim, apalagi jika memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi (abused of power), maka bersiaplah akan dihukum oleh zaman dan dicatat sebagai bagian dari sejarah buruk bangsanya. Paska peristiwa reformasi tahun 1998, Kita bisa menyaksikan pasang dan surut, naik dan turun, tumbuh, hilang dan silih berganti partai politik yang menjadi partai penguasa di Indonesia. Waktu cepat berputar, hukum besi kehidupan terus berjalan. Sedih dan gembira, jatuh dan bangun, keberhasilan dan kegagalan, silih berganti terus mengisi kehidupan Kita umat manusia. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Siapapun yang sedang mendapat giliran berada di puncak kekuasaan, harus selalu waspada terhadap godaan setan yang menjerumuskan manusia pada kesombongan, arogansi kekuasaan, ketamakan dan kerakusan, dan semua sifat, sikap dan perilaku buruk lainnya. Kita harus selalu mengingat sejarah para penguasa dan kekuasaannya di berbagai belahan dunia. Tidak ada penguasa dan kekuasaan yang abadi. Pemimpin akan selalu datang dan pergi, silih berganti.

Semangat perubahan karakter dan mental bangsa yang sudah digulirkan oleh Presiden Jokowi, tidak boleh kendur apalagi luntur. Revolusi mental dan revolusi karakter bangsa Indonesia harus diwujudkan menjadi kenyataan. Sebagai pemimpin tertinggi bangsa, Presiden Jokowi pernah menyampaikan pernyataan yang sangat bernas bagi Kita seluruh bangsa Indonesia, “Perubahan itu dimulai dari Kita, mulai dari pejabat-pejabat Kita. Kebiasaan cara kerja lama yang tidak produktif harus ditinggalkan, untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045”. Salah satu lagu kebangsaan selalu mengajarkan dan mengingatkan Kita, “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Mari Kita tunaikan tugas dan tanggung jawab sejarah, demi masa depan bangsa dan negara Kita, demi kehidupan yang lebih baik bagi anak cucu Kita bangsa Indonesia.

JOHAN O SILALAHI

Pendiri Perhimpunan Negarawan Indonesia (PNI)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular