Sunday, April 14, 2024
HomeUncategorizedKeharusan Revolusi Mindset Hadapi Era Borderless

Keharusan Revolusi Mindset Hadapi Era Borderless

New Mindset New Results
ilustrasi (Foto: Andrie Wongso)

Menyambut berlakunya pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2016, jika kita tidak segera melakukan revolusi mindset, mengubah secara cepat dan mendasar cara pandang kita, terutama dalam mendefinisikan dan merespon spektrum ancaman dan tantangan yang baru, maka tidak menutup kemungkinan nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 akan menyusul tragisnya nasib handphone Nokia yang tenggelam ditelan zaman.

Tanpa sadar, ketika bangun dari tidur, perusahaannya gulung tikar, karyawannya di-PHK dan pabriknya dipaksa tutup, lantaran produknya tak laku lagi di pasaran digulung oleh produk baru, yaitu blackberry, android dan IOS dengan berbagai produk media sosialnya. Nokia kini telah berubah jadi artefak yang tak berbeda dengan kapak primbas yang pernah jadi produk paling populer di era berburu dan meramu zaman pra-sejarah.

Dalam tulisan seri sebelumnya, kami telah uraikan secara singkat salah satu bentuk ancaman nyata yang sedang dan akan kita hadapi melalui globalisasi sistem pasar bebas dan revolusi teknologi informasi yang telah menciptakan situasi flat world atau borderless, yaitu situasi tanpa sekat, tanpa dinding dan tanpa rahasia.

Selama beberapa dekade sebelumnya, sejarah telah bergerak men-sekat umat manusia melalui batas-batas negara, batas agama, batas kelas sosial dan batas kesukuan. Penindasan dan penghisapan terhadap umat manusia, yang melahirkan konflik, penaklukan, perlawanan dan pertarungan, bergerak dan lahir dari bentuk-bentuk sekat berdasarkan batas negara, agama, kelas sosial dan kesukuan.

Namun, saat ini dan ke depan, melalui globalisasi sistem pasar bebas dan revolusi teknologi informasi telah menghadirkan spektrum ancaman dan tantangan yang baru. Nampaknya, sejarah akan bergerak bagaikan tsunami yang akan menjebol dan merobohkan tiang dan tembok yang menciptakan border, tembok atau sekat berdasarkan batas negara, batas agama, kelas sosial dan kesukuan.

Ancaman situasi borderless melalui globalisasi sistem pasar bebas dan revolusi teknologi informasi tersebut juga akan mengubur secara otomatis sejumlah ideologi dan teori yang berdiri di atas situasi sejarah yang men-sekat dan membenturkan umat manusia berdasarkan kategori kelas sosial  (teori dan ideologi pertentangan kelas model marxisme-leninisme) dan kategori agama (ideologi radikalisme dan pertentangan antara agama).

Nasib dua teori dan ideologi tersebut, yaitu ideologi pertentangan agama dan pertentangan kelas, yang pernah menguasai keyakinan sebagian besar umat manusia selama beberapa dekade, diprediksi akan masuk keranjang museum sejarah.

Teori dan ideologi radikal membutuhkan situasi dan sistem  informasi satu arah, yang memudahkan terwujudnya tujuan menciptakan doktrin kesadaran kelas dan fanatisme agama. Sementara dalam situasi kemajuan teknologi informasi saat ini, beragam informasi datang silih berganti dengan perspektif yang berwarna.

Di satu sisi semua orang dengan gadget di tangannya dapat dengan mudah mengakses berbagai sumber bacaan yang tersebar di mesin pencari google tentang ideologi fundamentalisme agama dan ideologi pertentangan kelas. Namun disaat yang sama, setiap orang juga dengan gampangnya mendapatkan counter informasi yang menggugurkan keyakinannya terhadap ideologi tersebut.

Belajar dari kasus krisis ekonomi dan politik di Yunani, situasi pasar bebas yang melahirkan krisis ekonomi dan  ketimpangan sosial yang makin tebal, namun justru tidak melahirkan kesadaran dan perlawan berdasarkan kelas sosial. Situasi seperti itu dapat terjadi lantaran revolusi teknologi informasi yang secara otomatis telah menciptakan pergaulan secara gotong royong di media sosial yang  menguburkan batas batas berdasarkan agama, kesukuan dan kelas sosial.

Sebagai contoh, si buruh yang  bertentangan secara kepentingan kelas  dengan sang majikan, tapi dapat berkumpul dan berdebat dalam satu grup media sosial bersama pemilik perusahaan tempat si buruh bekerja. Demikian juga si Muslim yang sering saling hujat dengan si Kristiani dalam setiap mimbar agama, namun dapat berdialog dalam satu grup media sosial. Situasi tersebut yang pada gilirannya turut melebur kesadaran berdasarkan kelas sosial dan fanatisme agama.

Yang patut menjadi perhatian kita ke depan adalah, ancaman globalisasi pasar bebas yang telah melahirkan situasi borderless, selain melebur dan merobohkan tembok yang berdasarkan kesukuan, agama dan kelas sosial. Situasi border-less tersebut juga secara perlahan sedang bergerak merobohkan batas, tembok, bentuk, eksisten dan fungsi negara bangsa.

Karena itu, kita membutuhkan revolusi mindset di kalangan pemuda, baik sipil maupun militer, dalam meredefinisi dan merespon spektrum ancaman yang baru, yang kadang hadir bagaikan hantu tanpa bentuk, untuk tujuan menyelamatkan eksistensi dan tujuan negara yang tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945.

Jika tidak ada revolusi mindset dalam menjawab pergeseran spekrum ancaman dan tantangan, maka jangan kaget, jika kelak, saat bangun dari tidur, kita dikejutkan oleh berita tentang gulung tikarnya negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Semoga tidak. (bersambung)

HARIS RUSLY

Pengamat Isu-Isu Sosial dan Politik

Aktivis Petisi 28

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular