Berita Terpercaya Tajam Terkini

Kasus Meme Stupa Roy Suryo, Pakar: Pentingnya Literasi Digital!

0
Pengamat komunikasi politik, Dr. Suko Widodo, M.Si. Menilik kasus meme stupa yang dilakukan politikus Roy Suryo menunjukkan betapa pentingnya literasi digital. 

 

SURABAYA – Akhir Juni lalu kepolisian telah menetapkan Roy Suryo sebagai tersangka atas kasus meme stupa Candi Borobudur yang dimiripkan dengan wajah Presiden Joko Widodo. Ia dijerat dengan pasal ujaran kebencian bernuansa SARA sampai penistaan agama. Kasus tersebut memicu berbagai tanggapan masyarakat.

Menurut pakar komunikasi politik Suko Widodo tindakan yang dilakukan oleh Roy Suryo adalah tindakan yang kurang etis. Menurutnya, perilaku mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui teknologi komunikasi dapat berdampak pada potensi pelanggaran etika komunikasi.

“Acapkali kebebasan berekspresi itu melebihi batas. Dalam berkehidupan juga ada yang namanya norma sosial. Saya melihatnya sebagai pesan yang merusak marwah orang maupun tempat suci. Kan borobudur tempat suci. Cara kritik atau pesan yang disampaikan juga tidak elok sesuai dengan etika,” ujar Suko Widodo pada media ini, Rabu (3/8/2022).

Suko menambahkan bahwa dalam penggunaan meme seperti pada kasus Roy Suryo harus melihat bahwa candaan juga ada batasannya. Menurutnya, dalam melakukan candaan meme, perlu melihat candaan yang dapat dinikmati oleh kalangan tertentu, dan mana candaan yang dapat dinikmati oleh ruang publik.

“Seringkali banyak yang tidak melihat batasan itu. Dan, meme sebagai candaan harus ada pertanggungjawabannya,” tegas Suko.

Suko Widodo menjelaskan bahwa cara berekspresinya masyarakat Indonesia di media sosial termasuk dalam negara tidak sopan di dunia. Hal ini dipicu oleh kurangnya literasi digital yang dimiliki oleh masyarakat. Selain itu, culture shock (gegar budaya) masyarakat terhadap kemajuan teknologi tidak dibarengi dengan kemajuan berpikir dan ijak menggunakan media sosial.

“Kita ini masih belum siap sebenarnya dengan kecepatan teknologi, apalagi norma sosial di media sosial masih belum terbentuk, dan undang undang seperti ITE masih belum sempurna,” kata Suko dengan nada kritis.

Karenanya, menurut dosen Universitas Airlangga tersebut, kurikulum pendidikan tentang komunikasi digital harus dimunculkan segera dalam pelajaran sekolah dasar dan menengah.

“Ini penting sebagai upaya pengurangan krisis literasi digital yang juga dialami oleh anak-anak remaja. Harus dikenalkan sedini mungkin memang,” tandasnya mengakhiri keterangan.

(pkip/bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.