Berita Terpercaya Tajam Terkini

Insomnia? Jangan Asal Minum Obat Tidur, Berbahaya!

0
ilustrasi. (foto: istimewa)

 

SURABAYA – Bagi anda yang mengalami insomnia atau kesulitan tidur tetapi mengatasinya dengan mengonsumsi obat tidur, harus lebih berhati-hati. Hal itu karena obat tidur seperti CTM hanya menyebabkan kantuk. Namun, tidak membuat tidur menjadi lelap, tidak nyaman, dan menyebabkan kantuk berkepanjangan. Sehingga tidak baik untuk dikonsumsi.

“Efek sampingnya akan menyebabkan ketergantungan. Awalnya efeknya bagus, lewat dua minggu ga berefek, sehingga berpikir kok ga mempan. Kemudian cenderung meningkatkan dosis, hingga berkemungkinan overdosis,” ujar Dokter Rumah Sakit Unair, dr. Wardah Rahmatul Islamiyah, SpN(K) kepada media, Jumat (24/6/2022).

Dokter Wardah -sapaan akrabnya- mengungkapkan bahwa memang dalam beberapa kondisi, dokter memberikan obat tidur berupa hormon melatonin eksogen untuk membantu pasien yang kesulitan tidur. Namun, penggunaan obat tersebut juga dibatasi.

“Penggunaan obat berupa hormon melatonin eksogen tidak lebih dari dua minggu. Sebab, akan berisiko menghentikan produksi melatonin secara alami,” imbuh Dokter Wardah.

Menurutnya, mengembalikan jam tubuh dan mengubah pola tidur tentu tidak dapat instan karena tidur berkualitas bergantung pada kuantitas waktu tidur. Umur yang berbeda memiliki kebutuhan waktu tidur yang berbeda pula.

“Anak-anak kebutuhannya 10 jam, remaja 8 jam, dewasa 6 jam. Sementara lansia hanya butuh 4 sampai lima jam saja. Tidur melebihi jam itu biasanya tidak bisa, yang ada tidurnya tidak berkualitas,” paparnya.

Wanita berjilbab ini mengatakan bahwa rajin berolahraga dan beraktivitas di pagi hingga siang hari dapat membantu tidur menjadi berkualitas.

“Keadaan tubuh yang lelah sehabis beraktivitas membuat tidur menjadi lebih lelap,” katanya.

Berdasarkan ilmu kedokteran, tidur berkualitas ialah tidur yang mencapai stadium tiga atau deep sleep yang membutuhkan waktu 1,5 jam dari saat terlelap. Pada kondisi tersebut, manusia tidak mudah dibangunkan. Perilaku sleep hygine atau prosesi menjelang tidur dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mendapatkan kondisi tersebut

“Terapkan makan berat maksimal dua jam sebelum tidur. Supaya organ cerna kita kerjanya tidak terlalu berat,” ujarnya.

Dokter Wardah juga menyarankan untuk berolahraga tidak lebih dari empat jam sebelum tidur, sehingga hormon kortisol tidak tinggi saat akan tidur. Selain itu, menciptakan situasi dan ruangan yang nyaman sebelum tidur juga penting dilakukan. Misalnya, mematikan lampu atau meredupkan lampu dari biasanya.

“Tidur itu rasanya adalah hal sederhana, tapi sayangnya banyak orang sering menyepelekan. Namun, sesuatu yang sederhana itu jika tidak kita jaga dapat menimbulkan banyak penyakit. Maka pola tidur yang salah ini butuh kepedulian dan itu kembali pada diri kita jika ingin hidup sehat,” pungkas Dokter Wardah.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.