Berita Terpercaya Tajam Terkini

Indonesia Terancam Resesi, Begini Saran Ekonom Untuk Pemerintahan Jokowi

0
Ekonom Senior Dr. Imron Mawardi berfoto dengan latar kampus C Unair Surabaya. (foto: istimewa)

 

SURABAYA – Baru-baru ini survei yang rilis oleh Bloomberg menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-14 dari 15 negara yang terancam resesi. Indonesia terancam resesi dengan probabilitas sebesar 3%, sementara di urutan pertama diduduki oleh Sri Lanka dengan probabilitas mencapai 85%. Meskipun kemungkinan resesi Indonesia kecil, namun kondisi ekonomi sekarang ini tetap patut diwaspadai. Demikian disampaikan ekonom senior Dr. Imron Mawardi.

“Melihat situasi ekonomi Indonesia saat ini, saya menyarankan dua hal kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Dua hal tersebut berkaitan dengan ketahanan pangan dan keputusan dalam peminjaman utang,” ujar Imron kepada media ini, Jumat (22/7/2022).

Menurut Imron, memang tidak dapat dipungkiri, jika resesi benar terjadi maka dampaknya pada masyarakat adalah timbulnya kesulitan untuk menjangkau kebutuhan pokok seperti pangan dan energi. Sulitnya memperoleh barang-barang kebutuhan dipengaruhi  ketersediaan yang minim dengan tren harga yang melambung tinggi.  Hal tersebut, menurut Imron dapat diantisipasi dengan cara meningkatkan transportasi massal demi menghemat cadangan energi dan menambah buffer atau cadangan untuk pangan.

“Saya kira yang harus diwaspadai oleh pemerintah ke depan ialah pangan dan energi. Itu yang harus diperhatikan. Karena akan ada  peningkatan kebutuhan pangan dan energi yang besar sementara produksi energi dan pangan itu boleh dikatakan stag begitu ya. Artinya sulit untuk ditingkatkan yang signifikan,” papar Imron.

Kebijakan pemerintah, menurut Dosen Ekonomi Unair Surabaya itu dalam mengantisipasi kenaikan harga energi bisa dilakukan dengan cara meningkatkan produksi energi alternatif seperti tenaga surya atau meningkatkan transportasi massal untuk menurunkan penggunaan BBM pada kendaraan pribadi.

“Energi alternatif dan peningkatan penggunaan transportasi massal yang masih mungkin dilakukan, karena selama ini  Indonesia masih menjadi net importir energi,” imbuh Imron.

Kenaikan tren harga  dari pangan dunia, menurut Imron, perlu dicarikan solusi dengan cara menambah buffer atau  memperkuat ketahanan pangan sebelum terjadinya krisis. Hal itu penting dilakukan mengingat Indonesia masih cukup tergantung dengan beberapa produk pangan dunia.

“Ada tren bahwa pangan dunia akan naik, sementara kita cukup tergantung dengan beberapa produk pangan dunia seperti kedelai, jagung, kemudian produksi pangan yang lain yang trennya itu juga akan meningkat ke depan. Sehingga ini juga harus diantisipasi dengan pemerintah dengan membentuk buffer yang kuat disana (pangan, Red) termasuk juga padi,” ujarnya.

Imron menjelaskan bahwa pemerintah harus mempertimbangkan betul keputusan sebelum berutang karena kemampuan dalam membayarkan utang bukan ditentukan dari rasio uang terhadap produk domestik bruto atau PDB melainkan ditentukan dari tax ratio.

“Pemerintah harus memperhitungkan bahwa kemampuan membayar utang pemerintah itu terletak pada tax ratio dimana tax ratio kita itu kan hanya sekitar 9% dari PDB artinya per 1000 PDB itu hanya bisa menghasilkan 90 pajak,” tegasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.