Berita Terpercaya Tajam Terkini

Imunisasi Anak Belum Capai Target, Kenapa?

0
imunisasi anak belum tercapai, kenapa?
ilustrasi imunisasi anak. (foto: unicef)

 

SURABAYA – Sejak Mei 2022, Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mencanangkan bulan imunisasi anak nasional (BIAN) yang merupakan tahap pertama yang menyasar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Sementara untuk wilayah Pulau Jawa dan Bali sejak Agustus 2022 lalu.

BIAN adalah program pemberian imunisasi tambahan campak-rubela serta melengkapi dosis imunisasi polio dan DPT-HB-Hib yang terlewat. BIAN sendiri bisa dikatakan adalah program imunisasi kejar (catch-up) dikarenakan terjadi penurunan imunisasi rutin yang signifikan selama pandemi Covid-19 termasuk di provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya.

Karena belum tercapai target, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi, drg. Mahanani, M.Kes menyatakan bahwa program BIAN diteruskan hingga 13 September 2022 yang seharusnya berakhir pada Agustus 2022 lalu.

Hal serupa juga ditegaskan, Prof. Dr. Nyoman Anita Damayanti, drg., MS yang juga merupakan Konsultan Manajemen Dinas Kesehatan Kota Surabaya Untuk 1000 Hari Pertama Kehidupan mengiyakan bahwa capaian imunisasi anak belum mencapai target termasuk di Surabaya.

“Karena masih banyak yang belum mencapai target imunisasi yang diharapkan sehingga dilanjutkan sampai 13 September 2022. Capaian target yang belum tersebut termasuk di Surabaya ini,” ujar Prof. Nyoman pada cakrawarta.com, Sabtu (3/9/2022).

Menurut Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) tersebut, ada beberapa kendala yang ditemukan di lapangan sehingga target imunisasi kejar pada anak ini belum tercapai. Masalah yang ditemukan juga kompleks seperti pertama, berdasarkan keterangan Dinas Kesehatan yang ada di daerah misalnya bahwa target proyeksi dinilai sangat besar dibandingkan target riil.

“Target riil adalah dari yang ditemukan berdasarkan sweeping. Masih banyak juga yang belum ter-sweeping. Kami juga  butuh bantuan semua pihak termasuk teman-teman media mengangkat isu ini sehingga menjadi alat bantu sosialisasi terutama kepada daerah yang bahkan belum mendapatkan vaksin,” imbuh Prof Nyoman dengan nada penuh harap.

Selain itu, terdapat pula penolakan orang tua dikarenakan alasan takut dan kasihan mengingat dampak imunisasi dimana anaknya mengalami panas termasuk alasan kesibukan orang tua sehingga tidak bisa membawa anaknya ke fasilitas kesehatan yang ada.

“Pasca pandemi memang terdapat masalah ekonomi sehingga banyak orang tua lebih berfokus pada sektor ekonomi keluarga sehingga banyak temuan di lapangan dimana anak pada jadwal imunisasi tidak diantar orang tua,” papar guru besar bidang administrasi dan kebijakan kesehatan itu.

Prof. Dr. Nyoman Anita Damayanti, drg., MS.
Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Prof. Dr. Nyoman Anita Damayanti, drg., MS. Ia menilai bahwa capaian imunisasi pada anak membutuhkan kerjasama semua pihak karena memang merupakan tanggung jawab bersama. (foto: istimewa)

Hal yang juga sangat mengganggu menurut Prof. Nyoman adalah adanya disinformasi mengenai imunisasi seperti menyebarnya beberapa hoaks hingga isu-isu negatif mengenai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

“Padahal, anak yang tidak diimunisasi lengkap tidak memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit-penyakit berbahaya YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI sehingga mudah tertular penyakit, menderita sakit berat, serta menderita cacat bahkan meninggal dunia. Selain itu, mereka juga dapat menjadi sumber penularan penyakit bagi orang lain,” tegas Prof Nyoman.

Berdasarkan data surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) tahun 2022 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sampai dengan Mei 2022 telah dilaporkan kenaikan kasus PD3I jika dibandingkan dengan bulan Mei 2021 diantaranya kasus suspek difteri sebanyak 39 kasus diantaranya 6 kasus positif C.diphtheriae dengan 1 kasus meninggal dunia dan 1 kasus positif memiliki hubungan epidemiologis meninggal dunia serta kasus campak konfirmasi laboratorium sebanyak 19 kasus atau naik 6 kali lipat, dan 79 kasus rubela konfirmasi laboratorium atau naik 26 kali lipat dengan 1 Kejadian Luar Biasa (KLB) mix dengan campak-rubela di Kota Batu.

“Karenanya kami membutuhkan dukungan semua pihak untuk mencapai target imunisasi tambahan dan imunisasi kejar ini sehingga ke depannya kasus-kasus yang bermunculan tersebut dapat dicegah sejak dini termasuk tercapainya kekebalan komunitas sehingga anak tidak mudah terkena penyakit yang tergolong PD3I. Karena ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” pungkas Prof. Nyoman.

Untuk diketahui, di Jawa Timur sendiri target imunisasi tambahan MR (campak-rubela) saja mencapai 2.399.159 anak. Pihak Dinas Kesehatan Jawa Timur sendiri telah bekerjasama dengan beragam pihak seperti Muslimat Jawa Timur, Aisyiyah Jawa Timur, PKK Jawa Timur dan termasuk dukungan Gubernur Jawa Timur.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.