Berita Terpercaya Tajam Terkini

‘Gaduh’ Rendang Babi: Sebuah Sudut Pandang

0

 

Saat melakukan visiting scholar di salah satu universitas top di Negeri Gajah Putih Thailand sekitar 4 tahun lalu, adalah suatu kebetulan karena bertepatan dengan perayaan ulang tahun mendiang raja. Haul raja, kalau di Indonesia.

Tentu saja, orang Thai tidak bisa kalau tidak makan babi. Kepala babi yang tersenyum ceria di atas piring dan sempat saya abadikan adalah salah satu hidangannya. Kolega dosen di Universitas tersebut, karena tahu saya muslim, selama “selamatan” itu terus meng-escort saya, menunjukkan mana makanan yang mengandung babi mana yang tidak. “Halan Food“, katanya tiap ada makanan yang tak mengandung babi. Orang Thai ternyata tidak bisa melafalkan akhiran yang mengandung huruf “L”. Halal Food pun dilafalkan Halan Food.

Hanya karena tidak yakin juga, dengan halus saya mengatakan hanya akan minum saja. Saya pun minum air kemasan. Kolega saya rupanya maklum dan mengatakan akan mengajak untuk makan di restoran milik orang Pattani seusai pesta.

Dan, tentu banyak dari kita punya pengalaman yang sama dengan saya terkait halal food di Singapura misalnya. Karena istri saya berhijab, umumnya para penjual makanan akan mengatakan “no, this is not halal” kalau kita akan keblondrok membeli makanan non-halal atau mengandung babi, bila kebetulan jauh dari restoran milik orang Melayu atau minimal restoran yang memasang logo halal.

Intinya, pengalaman saya mungkin berbeda dengan yang sering berprasangka bahwa manusia di dunia ini, banyak yang berkonspirasi untuk membuat umat Islam jadi tanpa sengaja makan babi.

Kalau di Amerika atau Eropa,. memang kitanya yang harus aktif mencari restoran atau food truck dengan logo halal yang rata-rata milik imigran asal Timur Tengah, karena tentu orang Amerika atau Eropa akan cuek saja kita mau makan apa. Tapi tetap saja, ide bahwa mereka berkonspirasi membuat orang Islam tanpa sengaja makan babi terasa konyol kalau anda sendiri merasakan tinggal di sana.

Mereka ini sudah stres dengan hidup mereka sendiri. Ngapain ngurusin orang lain, apalagi nge-prank orang Islam agar makan babi.

Karena itu, mendapati “keributan” yang tengah viral ketika menjual rendang babi di tahun 2020 lalu, karena Sergio sudah menulis di akun instagram-nya bahwa rendangnya adalah non-halal food, menurut saya seharusnya tidak diperlukan lagi adanya permintaan maaf darinya karena telah membuat kegaduhan. Karena setidaknya dia sudah terbuka dan jujur bahwa makanan yang dijualnya ini tidak halal karena mengandung babi. Justru umat Islam harusnya berterima kasih, karena jadi mengerti. Nggak kayak orang yang menjual bakso tikus dibilang daging sapi kapan hari.

Setahu saya, kata rendang itu asalnya bukan nama makanan. Tapi dari istilah Minang “merendang”, yaitu suatu cara memasak lambat-lambat, dalam api kecil, agar bumbu rempah yang dipakai bisa meresap sampai dalam. Sehingga pada gilirannya, masakannya akhirnya diberi atribut rendang, misalnya, daging rendang, dan sebagainya.

Sehingga menurut saya, kata merendang, dan rendang, memiliki denotasi dan konotasi yang netral. Tidak terkait dengan agama, atau norma, karena daging apapun asal cara memprosesnya seperti itu dan dengan rempah-rempah yang khas, jadilah daging itu rendang.

Bahwa proses dan kata merendang itu sejak lama menjadi ikon suku Minang, saya kira, bolehlah kita nisbatkan rendang itu kepada suku Minang. Orang Lamongan boleh bikin rendang, tapi jangan mengklaim bahwa rendang itu khas Lamongan. Orang Pondok Gede juga boleh. Meskipun ia bukan orang Minang atau Padang. Jadi, rendang itu meskipun warisan budaya tak benda dari suku Minang, ia boleh dimasak dan dinikmati siapapun.

Sehingga meskipun semua tahu memang, mayoritas orang Minang itu muslim. Tetapi saya kira kita juga sepakat bahwa rendang adalah domain publik. Bukan makanan keagamaan, dalam hal ini Islam. Sejauh ini saya rasa tidak ada dalilnya.

Hanya memang, saya pun mafhum, karena saya juga dibesarkan dalam kultur keagamaan yang taat dan ketat, sedemikian sehingga membuat mereka yang hidup dalam lingkungan demikian itu kecintaan kepada agama dan Allah begitu kuat.

Nah, tahu sendiri kan bagaimana seseorang kalau cintanya sedang kuat-kuatnya kadang jadi sensitif, pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibikin sensitif. Gampang baper dan emosi bila dicurigai ada pihak yang ingin merendahkan sesuatu yang dicintainya. Kadang juga parno, senggol bacok, dan segala hal yang…… yah kadang saya rasa kita semua kalau sedang jatuh cinta kan tahu sendiri. Sampai ada pepatah, cinta itu buta. Lebih tepatnya, membabi buta. Tapi seharusnya tidak. Cinta itu jangan buta, atau membabi buta. Bikin sulit membedakan antara ekspresi cinta ataukah emosi semata. Sisakan tempat untuk logika. Sehingga kita bisa berperilaku lebih dewasa.

Jadi tentu kegaduhan soal rendang babi ini, adalah soal perbedaan perspektif saja sebenarnya. Jangan dibuat emosi, sensi, apalagi dianggap menyinggung atau merendahkan suku atau agama, yang kenyataannya tidak ada hubungannya.

 

M. ATHO’ILLAH ISVANDIARY

Penyuka travelling dan penikmat kuliner yang kebetulan menjadi dosen di salah satu universitas negeri di Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.