Berita Terpercaya Tajam Terkini

G-Land: Riwayat Sebuah Nama

0
Pantai Plengkung atau G-Land, Banyuwangi Jawa Timur. (foto: istimewa)

 

Masyarakat setempat menyebutnya Plengkung. Sebuah pantai yang berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Nama ini disematkan karena pantai yang terhubung langsung dengan Samudera Hindia itu, memiliki ombak yang besar dengan gulungannya yang melengkung. Lisan orang pribumi pun menyebutnya dengan Pantai Plengkung.

Akan tetapi, bagi para penggemar selancar ombak atau surfing, pantai disebut dengan julukan G-Land. Nama ini bukan sekadar label. Tapi, ada riwayat yang menyertainya. Maat Goerge, jurnalis dan penulis lepas di SURFER Magazine, dalam artikelnya berjudul “Jungle Story: 48 Years Later We Look at the Iconic History of the G-Land Surf Camp” yang dipublikasi di situs theinertia.com (2 Oktober 2020) mengungkapkan riwayat tersebut.

Akronim G pada G-Land tersebut ternyata merujuk pada Teluk Grajagan (Grajagan Bay). Hal ini bermula pada 1972 saat seorang peselancar asal California, Amerika Serikat, Bob Laverty, penasaran dengan penampakan ombak saat melintas di atasnya kala terbang dengan pesawat dari Jakarta ke Bali. Saat itu, Bob merupakan seorang penerima beasiswa selancar dari daerahnya, yang tertarik untuk mengeksplorasi Bali setelah melihat film “Morning of The Earth” garapan Alby Falzon yang rilis pada tahun yang sama.

Rasa penasaran Bob akan pantai di Jawa itu, terus berkecamuk di pikirannya. Ia merujuk pada peta pulau Jawa buatan Angkatan Laut Inggris. Dengan peta itu, ia ingin memastikan pantai yang dilihatnya tersebut.

Setelah memastikan lokasi pantai tersebut, Bob mencari kawan yang akan menemaninya untuk berpetualang menemukan harta karun itu. Pencarian Bob tersebut mengantarkannya berjumpa dengan ekspatriat yang tinggal di Kuta yang juga seorang peselancar, Mike dan Bill Boyum. Di hadapan keduanya, Bob membentang petanya. Menunjuk Pada pantai Plengkung yang telah ditandai dengan X itu. Di tempat itulah, petualangan mereka akan dimulai.

Mike tak tertarik dengan rasa penasaran Bob Laverty. Sebaliknya dengan saudaranya, Bill Boyum. Ia sangat antusias untuk menemani Bob mengunjungi tempat yang masih antah berantah itu.

Dengan berbekal sepeda motor sewaan, papan selancar dan sejumlah perbekalan ala kadarnya, kedua orang tersebut datang ke Banyuwangi. Untuk menuju ke tempat yang mereka maksud, ternyata tak ada akses darat. Pantai Plengkung yang berada di sisi utara Alas Purwo itu ternyata masih berupa kawasan yang tak terjamah manusia. Satu-satunya cara hanya bisa ditempuh menggunakan perahu yang bisa ditumpangi dari pelabuhan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.

Keduanya lantas meminta antar perahu nelayan. Tepat kumandang adzan, kedua peselancar itu dengan motornya pula dinaikkan ke perahu. Kemudian dibawa menelusuri ombak di teluk tersebut sampai di bibir pantai di Alas Purwo. Keduanya diturunkan dan ditinggalkan begitu saja.

Di tempat yang masih perawan tersebut, Bob Laverty dan Bill Boyum benar-benar menemukan surganya bagi para peselancar. Ombaknya sangat mengesankan mereka. Ombak kiri yang tinggi dan panjang hingga bisa mencapai 2 kilometer menjadi idamannya. Di pantai tersebut, para peselancar bisa mendapatkan tiga jenis ombak sekaligus. Mulai dari ombak Speedies, Money Trees hingga Kong yang bisa mencapai 8 meter. Lebih-lebih saat itu, masih tak ada peselancar seorang pun yang menikmati selain keduanya.

Meski harus berada di bawah ancaman malaria dan keganasan binatang buas tak menyurutkan hasrat mereka berdua untuk menikmati tempat tersebut. Jejak kaki Harimau Jawa yang mengelilingi mereka saat tertidur pun tak merontokkan tekadnya. Mereka kembali lagi, lagi dan lagi. Bersama dengan kawan-kawannya yang lain. Termasuk Mike Boyum yang awalnya menolak untuk ikut ke sana.

Pada 1974, mereka lantas mengurusi izin untuk membuat camp surfing di kawasan taman nasional tersebut. Walaupun jalur birokrasi perizinannya amat korup, Mike Boyum dengan telaten mengurusinya. Bahkan, ia merelakan jam tangan Rolex-nya dijadikan sebagai barang untuk menyuap sang pejabat kala itu. Pada akhirnya, selang tiga tahun, izin itu keluar dengan nama Blambangan Surfing Club.

Dari sinilah, G-Land semakin tersohor di kalangan peselancar. Paket untuk bisa datang kesana semakin diminati. Harga tinggi yang dipatok pun tak jadi soal. Petualangan Bob dan Boyum bersaudara itu pun bisa dikapitalisasi sebagai sumber pendapatan yang cukup besar. Sehingga lambat-laun mengundang para pemodal lain untuk membuka hal yang sama di tempat itu. G-Land pun berubah. Dari yang antah berantah menjadi jujukan pemburu ombak yang eksotis dari seluruh dunia.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.