Berita Terpercaya Tajam Terkini

Fenomena Citayam Fashion Week: Inikah Potret Remaja Indonesia?

0

Beberapa waktu ini publik dibuat terhibur dan tertawa dengan konten tanya jawab anak muda yang sedang nongkrong di bilangan Sudirman. Selain jawaban jawaban polos yang keluar dari mulut mereka, yang menarik adalah gaya baju yang kebanyakan hitam dipakai bertumpuk bahkan memakai jaket tebal di tengah panasnya udara Jakarta. Disamping itu ada rasa tercengang karena tempat ngumpul mereka ini adalah kawasan Sudirman yang sangat lekat dengan perkantoran dan sentral bisnis di Jakarta.

Lalu mulai muncul sosok-sosok yang seakan akan ‘ditunggu’ di akun akun sosial media untuk diajak ngobrol tentang kehidupannya. Mulailah akhirnya Jeje, Bonge, Roy, Kurma menjadi yang paling ditunggu di konten-konten media sosialnya. Daya tarik mereka, selain karakter mereka yang ‘unik’, baju tebal dengan gaya masa kini, dan juga cara bicara yang polos dan khas anak muda ‘pinggiran’ Jakarta yang sedang menikmati fasilitas Ibukota. Setelah konten ini viral, kawasan Sudirman pun makin dipadati pengunjung, ada yang hanya mau melihat keseruan yang sedang hangat di masyarakat, ada juga yang ingin ikutan dengan tren tersebut bahkan supaya bisa ngetop. Dengan semakin banyaknya anak muda berkumpul di kawasan Dukuh Atas Sudirman, mulailah dikenal dengan fenomena SCBD (Sudirman Bojong Gede Citayam Depok) yang kemudian lebih populer dengan nama Citayam Fashion Week (CFW). Dimana salah satu aktifitas eksistensinya adalah menyeberang zebra cross bak model profesional dengan tampilan baju baju unik ala fashion show yang sebenarnya.

Fenomena ini pun dikomentari bahkan didukung oleh banyak pihak, Gubernur Jakarta Anies Rasyid Baswedan menyambut remaja remaja ini berada di Jakarta menjadikan Jakarta terbuka untuk siapa saja. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun juga sudah ikutan jalan di catwalk (zebra cross) tersebut, dan bahkan Menteri Sandi Uno menawarkan beasiswa kepada para ikon ikon CFW. Belum lagi selebritis, publik figur, kreator konten dan youtuber pun ikut ‘riding the wave’ di CFW, menjadikan fenomena dan keriaan ini sebagai salah satu kontennya.

Lalu dimana letak masalahnya? Bukannya ini adalah penyaluran eksistensi kreatifitas remaja pada umumnya? Apa yang salah dari nongkrong dan berkumpul? Apalagi remaja ini adalah remaja pinggiran kota yang selama ini tertutupi keberadaan nya dan jarang terekspose. Problematika mulai muncul awalnya ketika suatu pagi ditemukan banyak remaja tidur di sekitaran kawasan tersebut karena ketinggalan kereta. Lalu saat liburan telah usai, mulai muncul pembahasan apakah anak anak ini sekolah? Dan yang justru paling meresahkan adalah munculnya dan makin banyaknya remaja laki-laki memakai baju perempuan lengkap dengan make up dan aksesorisnya bersliweran mengisi konten di media sosial.

Makin kesini makin ramai diperbincangkan, makin muncul juga pertanyaan atau pernyataan yang tidak semuanya positif. Antara lain, apa sisi positifnya? Sekedar nongkrongkah? Perlu dibinakah? Perlu dikembangkan kah? Atau biarkan saja? Dan apakah ini gambaran anak-anak muda Indonesia yang justru kita nikmati? Karena pada hakikatnya, semakin dinikmati semakin marak juga perkembangannya. Apakah gambaran remaja di Indonesia yang terlihat itu adalah yang nongkrong sampai malam bahkan sampai pagi, dan lupa pulang dengan harapan menjadi terkenal dalam waktu singkat?

Parahnya, kreatifitas sebebasnya ini malah membuka ruang LGBT merebak dan menjamur di masyarakat.  Lalu mampukah anak-anak kita yang terpapar konten-konten tersebut memilah yang benar dan salah untuk diikuti? Bukan tidak mungkin, jika fenomena ini menjalar ke kota-kota lain selain Jakarta dan terbukti dengan mulai bermunculannya berita terkait tren ini di berbagai kota/daerah di Indonesia seperti di Malang, Surabaya, Madiun dan lainnya.

Lalu bagaimana mengatasinya? Sampai sejauh mana mereka bisa berkreasi tanpa melestarikan dampak negatifnya? Bisakah kita selaku orang tua atau yang lebih tua dari mereka ini menjaga agar nilai-nilai budaya dan moral tidak jadi kebablasan?

Dinas Sosial DKI Jakarta sudah mengeluarkan ultimatum jika ada remaja laki-laki ketahuan memakai baju perempuan akan dibawa ke panti sosial, ini mungkin suatu cara, tapi efektifkah? Mampukah menjadi solusi meluasnya LGBT di lingkungan tersebut?

Ini jadi tugas kita bersama, ternyata pendidikan agama bisa jadi tidak sampai ke remaja kita atau kurang diminati. Edukasi kisah sukses dan keberhasilan bergeser menjadi latah ingin populer secara instan. Sekolah jadi dirasa tidak banyak guna. Punya keahlian jadi turun prioritasnya dan malam hari berada di rumah dengan kehangatan keluarga sudah tidak penting lagi.

Apa yang bisa kita sebagai masyarakat ini lakukan? Ayah ibu, kakak-kakak, mari kita lihat lagi anak-anak dan adik-adik kita. Pertama, Ajak ngobrol dan pahami apa yang mereka suka. Dekati, temani, dan nasihati jika ada yang menyimpang. Semua perbaikan tentunya dimulai dari keutuhan dan ketahanan keluarga. Nilai-nilai agama moral budaya harus ditanam di keluarga kita masing-masing sehingga anak mendapatkan bekal cukup untuk menjalankan kehidupan. Berteman, berkumpul, menjadi kreatif boleh-boleh saja, tapi ada batasnya, dan tidak mengesampingkan nilai agama, pentingnya pendidikan atau moral.

Kedua, pendidikan formal di sekolah harus bisa mengedukasi, menganalisa anak-anak yang dirasa butuh perhatian khusus dengan nilai-nilai adab dan perilaku sehingga kreatifitas lebih bisa terjaga. Tersalurkan secara positif dan memberikan manfaat. Dukung ide-ide kreatif mereka, beri jalan agar terealisasi dengan baik. Ketiga, kita sebagai masyarakat, perlu memahami untuk tidak mendukung konten-konten negatif dan tidak mengelu-elukan sesuatu yang tidak jelas gunanya. Sekedar mencari hiburan berselancar di media sosial memang tidak ada salahnya, asalkan kita bisa memilah yang baik untuk dikonsumsi dan yang salah untuk tidak diikuti.

Citayam Fashion Week ini memang masih hangat-hangatnya di masyarakat, dan jika masih menjadi suatu tren pasti akan makin digandrungi dan sulit dibendung. Tinggal kita sebagai masyarakat yang perlu mengerem keantusiasan kita sambil menjaga anak-anak remaja di lingkungan sekitar. Kita pun berharap negara dan pemerintah untuk bertindak lebih tegas dalam membatasi dampak-dampak negatif yang tidak diinginkan.

Semoga gambaran anak remaja Indonesia adalah mereka yang kreatif, tangguh dalam membangun citra-citra positif dan bermanfaat, mengharumkan nama bangsa dengan segala ide dan imajinasinya dan menjaga moral dan nilai leluhur untuk dilestarikan bersama. Semoga.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.