Tuesday, April 16, 2024
HomePolitikaFahd BAPERA: Belajar Dari Turki, Indonesia Harus Bersiap Menjemput Kejayaannya Kembali!

Fahd BAPERA: Belajar Dari Turki, Indonesia Harus Bersiap Menjemput Kejayaannya Kembali!

Ketua Umum DPP BAPERA Fahd El-Fouz A Rafiq. Ia meminta Indonesia belajar dari Turki dalam upaya mengembalikan kejayaan sebagai bangsa yang dihormati dan disegani di dunia. Ada momentum untuk memulai langkah itu pada Pemilu 2024. (foto: istimewa)

 

“Banyak data dalam literatur geopolitik dunia menyebutkan Indonesia tidak masuk dalam negara yang diperhitungkan sampai tahun 2050. Apalagi  kita akan ada pemilihan umum yang  berlangsung di tahun 2024. Maka dari itu, kita harus memilih tokoh kelas dunia agar Indonesia bisa diperhitungkan karena kebijakan luar negeri Indonesia saat ini terlalu lemah sehingga perlu penguatan. Kita harus punya tim lobi sendiri yang lebih banyak menguntungkan Indonesia ke depannya.”

(Fahd el-Fouz A Rafiq, Ketua Umum DPP Bapera)

JAKARTA – Mata dunia dalam beberapa pekan ini berfokus ke Turki karena adanya gempa bumi dashyat yang telah menewaskan sekitar 17.000 orang dan menghancurkan sekitar 350 gedung. Korban diperkirakan akan terus bertambah karena melihat banyaknya korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan.

Menurut Ketua Umum DPP BAPERA Fahd el-Fouz A Rafiq peristiwa Turki ini mengingatkan dirinya pada bagaimana seorang Recep Tayyib Erdogan. Fahd menilai ada hal yang membuat telinga Barat panas yakni karena Erdogan dengan tegas secara berulang menyatakan akan membuat Turki ke zaman kejayaan Ottoman seperti abad 17. Kala itu, Ottoman menguasai sekitar seperempat dunia mulai dari Eropa, Asia Barat hingga Afrika Utara.

“Beliau (Erdogan, red.) adalah pemimpin kelas dunia yang bermain sangat agresif dan berperan di kawasan,” katanya pada media ini, Jumat (17/2/2023) sore.

Sosok Erdogan dan Turki ini, bagi Fahd, mengingatkan dirinya pada Indonesia di abad 14 dengan Nusantaranya yaitu Majapahit yang kemudian melemah karena masuknya negara kolonialis seperti  Belanda, Portugis, Jepang dan Inggris.

“Jika semangat Nusantara sebagai visi negara, maka Malaysia, Singapura, Brunei, Selatan Filipina, Timor Leste adalah wilayah Indonesia. Ini sama seperti semangat Erdogan yang akan mengembalikan kejayaan Ottoman, dimana Suriah dan Yunani adalah wilayah asli mereka. Dan menurut tafsiran saya, Nusantara inilah Indonesia Raya yang dimaksud Soekarno, bukan hanya sebatas lagu kebangsaan tapi esensi dari 2 kata tersebut,” imbuhnya memaparkan korelasi isu Turki dan Erdogan dengan Indonesia dan Nusantara.

Mantan Ketum PP AMPG ini mengingatkan generasi muda bahwa kekuasaan teritorial Nusantara lebih luas dari Indonesia saat ini mengingat saat itu Indonesia adalah bangsa besar yang dihormati.

“Dimana saat ini nampaknya rasa hormat itu tidak terjadi lagi pada negeri kita,” ucapnya miris.

Kembali pada Turki, Fahd menjelaskan bahwa dalam upaya Erdogan untuk mengembalikan kejayaan Turki ke era Ottoman itulah, semakin banyak ujian yang dialami Turki terutama perlawanan kelompok-kelompok milisi dan separatis yang terus berusaha merongrong kekuasaan Erdogan. Ironisnya, pada 13 November 2022 lalu, bom besar menewaskan 8 orang dan melukai 80 warga di Istanbul.

“Peristiwa tersebut merupakan pancingan termurka untuk seorang Erdogan dimana kelompok separatis Kurdi yang berada di wilayah Tenggara Turki dan Utara Suriah dituduh menjadi dalang penyebab bom tersebut,” katanya.

Menurut Fahd, Kurdi melalui kelompok PKK (Partai Pekerja Turki) dan SDF (Syria Democratic Force) pasukan Demokratik Suriah, milisi yang didukung AS saat ini mengendalikan Timur Laut Suriah. Sebagian besar SDF, menurut Fahd, adalah orang-orang Kurdi yang dianggap Turki sebagai cabang dari PKK yang dilarang di Turki.

“Bangsa Kurdistan, nasibnya seperti bangsa Yahudi yang selalu digencet oleh negara tempat mereka tinggal. Tokoh yang terkenal dari suku Kurdi adalah Salahudin Al-Ayyubi, Ibnu Katsir dan Said Nursi,” sebut Fahd.

Goncangan terhadap kedudukan Erdogan dan upayanya untuk mengembalikan kejayaan Turki ke era Ottoman itu terus bertambah dimana seminggu kemudian dari peristiwa bom besar itu, memaksa pasukan Erdogan menyerang perbatasan selatan Turki dengan pesawat pembom di kota-kota sepanjang perbatasan di wilayah Suriah seperti kota Tal Rivat, Ayn Ara, Cizre, Hakurk, Qandil wilayah populasi Kurdi dihujani bom dan roket oleh Turki,

“Kemudian pada 21 November 2022 pasukan darat Turki masuk 30 Km jauhnya ke dalam wilayah Suriah, menginvasi wilayah utara Suriah yang didalam agresi militer, hal ini disebut sebagai Deep Safe Zone, pengamanan wilayah hingga ke dalam wilayah musuh,” paparnya.

Fahd menambahkan, walaupun mata dunia saat ini sedang fokus ke Ukraina di belahan dunia lain, upaya Turki menganeksasi Suriah bagian utara ternyata tanpa perlawanan berarti.

“Dan yang ini kita harus fahami sekali lagi, mengapa Turki melakukan langkah agresi militer tersebut. Pastinya menunjukkan Turki memang pemain dunia. Buktinya lagi, Swedia dan Finlandia adalah contoh dua negara yang dimainkan oleh Turki. Kemudian Rusia yang hanya mau menggunakan Turki sebagai titik temu antara NATO vs Rusia. Ini penting diingat,” tegas Fahd.

Upaya Turki ini, menunjukkan bahwa kesatuan nasional di Turki adalah harga mati.

“Separatis Kurdi itu ibarat separatis Papua Merdeka kalau di kita. Demi menjaga Deep Safe Zone, kalau perlu ambil seperempat wilayah Papuan New Guinea, maka dari itu kita harus memahami Turki dan Kurdi,” katanya.

Saat ini, menurut Fahd, kekuatan Kurdi ada berada sebelah timur Suriah dan mendapat pasokan senjata dari Amerika Serikat. Dimana kekuatan militer menguat, diperkirakan mereka akan meluaskan wilayahnya ke Turki, Irak dan Iran.

“Dan jikalau hal ini terjadi maka Turki akan kehilangan penduduk , wilayah seperlimanya akan hilang, pajak, kehilangan SDA,” tandasnya.

Kondisi Turki ini persis seperti lepasnya Timor-Timor dari Indonesia yang nilainya mungkin Rp 1.000 Triliun.

“Yang jadi pertanyaan kita, apakah Indonesia masih ada peluang menjadi Nusantara atau bisakah Indonesia dalam 50 tahun ke depan kembali masuk menjadi 10 super power yang berpengaruh di dunia. Indonesia tahun 1990 dinyatakan sebagai negara terkuat di selatan khatulistiwa. Kita harus rebut kembali kehormatan itu dan kita memiliki momentum setidaknya dalam waktu dekat untuk memulai langkah tersebut melalui Pemilu 2024,” pungkas Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar itu.

(asw/bus/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular