Berita Terpercaya Tajam Terkini

Era 4.0, Pakar: Soal Sri Lanka, Indonesia Harus Waspadai Resonansi Kekhawatiran Yang Muncul!

0
Massa demonstran menduduki gedung Perdana Menteri Sri Lanka Wickremesinghe. Itu dilakukan setelah PM ditunjuk Presiden Gotabaya Rajapaksa sebagai plt Presiden setelah Rajapaksa kabur ke Singapura dan mengirim surat pengunduran dirinya. (foto: eranga jayawardena/AP)

 

SEMARANG – Kondisi yang memprihatinkan di sektor ekonomi Sri Lanka memaksa Presiden Gotabaya Rajapaksa melarikan diri ke negeri jiran Singapura dan mengirimkan surat pengunduran dirinya dari posisi presiden setelah didemo berhari-hari oleh rakyatnya sendiri.

Banyak pengamat dan kelompok oposisi kemudian memberikan early warning bahwa hal yang terjadi di Sri Lanka akan terjadi di Indonesia. Lalu bagaimana potensi kejadian di Sri Lanka tersebut akan berefek ke situasi tanah air? Pakar Hubungan Internasional Universitas Diponegoro Semarang Fendy Eko Wahyudi menegaskan bahwa fenomena di Sri Lanka tidak berkorelasi secara langsung dengan Indonesia.

“Ya secara langsung tidak ada. Karena hubungan ekonomi Indonesia dan Sri Lanka tidak terlalu signifikan. Namun dari sisi resonansi kekhawatiran bisa berdampak,” ujar Fendy kepada cakrawarta.com melalui sambungan telepon, Selasa (19/7/2022).

Terkait sisi resonansi kekhawatiran yang bisa saja terdampak, pria berkacamata tersebut menyoroti kondisi perekonomian Indonesia yang masih terseok bangkit akibat pandemi Covid-19.

“Kalau dijadikan ibroh sangat baik, agar Indonesia bisa lebih hati-hati dalam mengelola utang dan mengambil kebijakan ekonomi terutama investasi asing,” imbuh Fendy.

Tetapi analisa yang menarik menurut Fendy akan berbeda jika dikaitkan dengan isu politik. Pemerintah justru perlu lebih berhati-hati.

“Karena kondisi Sri Lanka yang sangat dimungkinkan jatuh pada kondis failed state. Berdasarkan studi yang ada, fenomena failed state meski tidak menular, namun berpotensi menyebarkan dampak negatif bagi negara tetangganya, dan salah satunya adalah potensi menyebarnya ketidakpercayaan publik atau kekhawatiran terhadap kinerja pemerintah di negaranya,” paparnya.

Dan yang menjadi problem, menurut alumnus Hubungan Internasional Universitas Airlangga tersebut di era masyarakat 4.0 bisa jadi Sri Lanka meski secara geografis dunia nyata jauh dengan Indonesia, namun isu tersebut secara dunia maya sangat dekat dengan netizen (warganet) di Indonesia.

“Terbukti cukup meramaikan ruang diskusi di media sosial netizen Indonesia. Jadi ya fa’tabiru ya ulil abshor! Maka ambillah pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan!” pungkas Fendy bijak.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.