Berita Terpercaya Tajam Terkini

Epidemiolog Unair Ini Minta Penghapusan Syarat Tes PCR Ditunda

0
Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes, pakar epidemiologi Universits Airlangga. (foto: istimewa)

 

SURABAYA – Pakar epidemiologi senior dari Universitas Airlangga Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes., menunjukkan ketidaksepakatannya dengan kebijakan pemerintah yang menghapus syarat tes antigen dan PCR bagi pelaku perjalanan domestik. Menurut Dokter Atok -sapaan akrabnya kebijakan pelonggaran pemeriksaan tes antigen dan PCR lebih baik ditujukan bagi pelaku perjalanan domestik yang telah vaksinasi booster.

Ia menyebutkan, hal tersebut akan lebih meningkatkan keamanan saat perjalanan. Selain itu, syarat tersebut juga dapat mendorong masyarakat untuk melakukan vaksinasi booster.

“Kenyataannya, sebagian masyarakat ikut vaksin bukan karena kesadaraan mendapatkan kekebalan. Tapi agar dapat mengakses yang tidak bisa diakses tanpa vaksin,” ujar Dokter Atok dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi cakrawarta.com, Selasa (15/3/2022).

Dokter Atok menambahkan bahwa penerapan kebijakan tersebut akan mempersulit terdeteksinya kasus positif karena akan menghilangkan salah satu kontributor terbesar dalam tracing Covid-19.

“Saat mobilitas meningkat, risiko ISPA akan meningkat. Di sisi lain, kita tidak tahu ISPA yang meningkat disebabkan oleh Covid-19 atau bukan,” imbuhnya.

Dokter Atok menjelaskan bahwa gelombang ketiga Covid-19 telah melewati puncak dan konsisten mengalami penurunan. Namun, kasus harian masih cenderung tinggi. Menurutnya, penerapan kebijakan yang terburu-buru akan meningkatkan kasus harian dan risiko penularan.

Karenanya, ia meminta penerapan kebijakan penghapusan syarat tes antigen dan PCR untuk perjalanan domestik lebih baik ditunda dua minggu lagi. Penundaan tersebut juga akan membuat kondisi lebih stabil saat memasuki bulan Ramadan dan musim mudik.

“Kalau kita mau bersabar dua minggu lagi. Kita ada di posisi yang sama dengan akhir Januari, posisi dasar gelombang. Saat ini kita masih berada pada lereng gelombang,” paparnya.

Dalam mencegah penularan, Dokter Atok mengimbau masyarakat untuk tidak lengah menerapkan protokol kesehatan (prokes). Ia menegaskan, vaksinasi hanya salah satu cara untuk menghindari gejala berat.

“Tetap pakai masker yang proper sama seperti sekarang dan menjaga jarak. Kita tidak tahu yang bareng kita itu membawa virus atau tidak,” tukasnya.

Dokter Atok juga berpesan kepada masyarakat untuk menghindari berkerumun dalam waktu yang lama. Jika tidak dapat menghindari kerumunan, ia menyarankan agar masyarakat berkumpulnya di ruang terbuka saja.

“Kita memang sedang dalam proses penurunan gelombang. Tapi, pandemi belum selesai. Saat ini kita hidup berdampingan dengan Covid-19, preventing jauh lebih penting daripada sesal kemudian,”pungkasnya.

(pkip/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.