Berita Terpercaya Tajam Terkini

Ditemukan 114 Kasus “Gejala” Hepatitis Akut Di Jatim, Kadinkes Minta Masyarakat Waspada

0
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
Ilustrasi. (foto: istimewa)

 

SURABAYA – Saat ini dunia tengah dikejutkan dengan temuan resmi Badan Kesehatan Dunia mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui penyebabnya sejak pertengahan  Ramadhan.

Menurut data, Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu Inggris 114 orang. Kasus terjadi pada anak usia mulai 1 bulan hingga 16 tahun. Sementara data tersebut ada 17 anak (10%) diantaranya memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. Di Indonesia sendiri dilaporkan 3 anak meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Karenanya, Kementerian Kesehatan RI meningkatkan kewaspadaan terhadap KLB Hepatitis Akut dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology) pada pada Rabu (27/4/2022).

Jatim Temukan “Gejala” Hepatitis Akut Sebanyak 114 Di 18 Kabupaten/Kota

Dalam pernyataan resmi ke media melalui keterangan tertulis, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dr. Erwin Astha Triyono, dr., Sp.PD., KPTI, pada Kamis (5/5/2022) kemarin, disebutkan bahwa berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Jawa Timur telah ditemukan 114 kasus berupa sindrom jaundice (kuning) akut di 18 kabupaten/kota di Jawa Timur, dimana minggu ke-14 hingga minggu ke-17 cenderung mengalami peningkatan.

“Data SKDR tersebut adalah sindrom jaundice akut yang dilaporkan dengan usia secara umum di kisaran 16 tahun dan masih perlu verifikasi dan diagnosis lebih lanjut apakah sindrom tersebut merupakan penyakit hepatitis akut atau penyakit lain dengan gejala sama. Meskipun sampai saat ini belum kami temukan pasien positif hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya di Jatim,” ujar Erwin dalam keterangannya.

Karenanya, Erwin menghimbau kepada seluruh masyarakat Jawa Timur, khususnya kepada anak-anak dan orang tua untuk selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta protokol kesehatan (prokes) secara disiplin.

“Untuk mencegah dan mengendalikan penularan hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya di Jawa Timur, kami menghimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati namun tetap tenang. Lakukan upaya pencegahan dengan PHBS seperti sering mencuci tangan pakai sabun, meminum air bersih yang matang, memastikan makanan dalam keadaan bersih dan matang penuh, menggunakan alat makan sendiri, memakai masker, menjaga jarak serta menghindari kontak dengan orang sakit. Selain itu, untuk sementara agar tidak berenang dulu di kolam renang umum, tidak bermain di play ground, serta hindari menyentuh hand railing, knop pintu, dinding, dan lainnya yang sering dipegang orang,” saran Erwin.

Erwin menjelaskan bahwa gejala klinis yang ditemukan pada pasien hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya ini antara lain, peningkatan enzim hati, sindrom hepatitis akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.

“Jika masyarakat menemui gejala tersebut pada anak, segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar segera bisa dilakukan observasi dan tindakan,” pinta Erwin.

Selain itu, Erwin juga menghimbau kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Jawa Timur untuk siap dan sigap dalam menangani pasien yang mengalami gejala hepatitis akut tersebut serta segera melaporkan ke Dirjen P2P Kemenkes RI melalui Dinkes Jatim jika menemukan kasus sesuai dengan gejala hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya untuk dilakukan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut.

“Untuk mengendalikan penyebaran hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya ini, Dinkes Jatim telah melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota dan jejaring Dinas Kesehatan, rumah sakit dan puskesmas serta membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor seperti IDAI, PPHI dan Patelki/Lab. Selain itu, Dinkes Jatim juga terus melakukan promosi kesehatan melalui media KIE agar masyarakat dapat memahami gejala jaundice akut tersebut. Dinkes Jatim juga terus memantau dan melaporkan sindrom jaundice akut di SKDR, dengan gejala yang ditandai dengan kulit dan sklera berwarna ikterik atau kuning dan urin berwarna gelap yang timbul secara mendadak,” tandas Erwin mengakhiri keterangannya.

(bus/bti)

Leave A Reply

Your email address will not be published.