Berita Terpercaya Tajam Terkini

Cendekiawan Berdedikasi

0

Selasa (28/6/2022) sore ini, Kompas akan menganugerahkan Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi kepada dua cendekiawan. Belum ada bocoran tentang siapa dua cendekiawan yang dimaksud. Oleh sebab itu, acara tersebut menarik dinanti: Siapakah gerangan dua cendekiawan berdedikasi versi Kompas itu?

Mungkin subjektif, alias tidak cocok dengan selera beberapa pihak lainnnya. Namun, sebagai pelaku media massa bereputasi, kita bukan saja dapat belajar memahami kriteria cendekiawan berdedikasi, tetapi juga dapat mencoba memahami ideologi Kompas dalam menentukan figur-figur cendekiawan berdedikasi.

Orang-orang bisa berbeda pendapat dalam mengartikan cendekiawan. Akan tetapi, secara umum, tampaknya cendekiawan bisa dimaknai sebagai orang yang mampu membedakan kebenaran dengan kesalahan, kebaikan dengan keburukan, dan keindahan dengan kejelekan.

Selain memihak kebenaran, kebaikan, dan keindahan, cendekiawan juga dapat memetakan, melaksanakan, dan menunjukkan jalan, guna menyelamatkan bahkan guna memajukan masyarakat. Jadi, cendekiawan bukan saja membela kebenaran, kebaikan, dan keindahan, tetapi juga mengakrabi olah pikir dan mengerti tata cara menyelamatkan sekaligus memajukan masyarakat.

Adapun dedikasi, ia berarti pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu, demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan yang mulia. Jadi, cendekiawan berdedikasi berarti orang yang memihak (membela) kebenaran, kebaikan, dan keindahan, dalam rangka menyelamatkan sekaligus memajukan masyarakat, dengan mengorbankan (mengerahkan) tenaga, pikiran, dan waktu, demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia, yaitu masyarakat yang selamat dan berkemajuan.

Lantaran tidak harus mengakrabi segala bidang, maka cendekiawan berdedikasi bisa saja mendedikasikan dirinya dalam satu bidang, misalnya pers, sebagaimana yang dilakukan P. K. Ojong dan Jacob Oetama, dua sosok pendiri dan penarik gerbong Kompas, dan sudah meninggal dunia. Oleh karena itu, bukan mustahil, Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi versi Kompas, nanti sore, akan dianugerahkan kepada P. K. Ojong dan Jacob Oetama.

Sebagai media massa yang meliput dan menyajikan perspektif bahkan persepsi kepada masyarakat, insan pers – seperti P. K. Ojong dan Jacob Oetama – tentu harus punya dan mengartikulasikan etos dan watak cendekiawan. Dan dalam kadar tertentu dan dalam aspek Jurnalisme, P. K. Ojong dan Jacob Oetama, tampak memiliki dan mengartikulasikan hal itu.

Bukan saja cendekiawan yang berdedikasi, akan tetapi P. K. Ojong dan Jacob Oetama juga, pengusaha pers dan insan pers yang menginspirasi. Untuk membenarkan hal itu, telusuri saja sejarah perjuangannya, sehingga Kompas menjadi surat kabar tertua dengan sirkulasi terbesar nomor satu di Indonesia. Belakangan, tak hanya surat kabar, akan tetapi Kompas juga merambah penerbitan dan penjualan buku, juga sudah memiliki kanal (channel) televisi. Keren.

 

MI’RAJ DODI KURNIAWAN

Penulis buku “Kekuatan Penggerak Sejarah” dan buku “Pembaharuan Pemikiran Pendidikan Paulo Freire”

Leave A Reply

Your email address will not be published.