Berita Terpercaya Tajam Terkini

CBA: Berani Gak Bongkar Skandal Proyek Asrama Haji Kemenag Ternate?

0
Peletakan batu pertama pembangunan Asrama Haji Transit Ternate oleh Sekjen Kemenag RI Nizar. Hadir dan Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku Utara Sarbin Sehe, Rabu (16/6/2021) lalu. Kini, proyek pembangunan asrama tersebut dinilai bermasalah. Hal tersebut diungkapkan oleh lembaga CBA, Jumat (27/5/2022). (foto: istimewa)

 

JAKARTA – Lembaga Center for Budget Analysis (CBA) kembali menemukan potensi penyimpangan dalam proyek Kementerian Agama Republik Indonesia. Demikian disampaikan oleh Koordinator CBA Jajang Nurjaman kepada redaksi cakrawarta.com, Jumat (27/5/2022).

“Proyek yang dimaksud adalah pembangunan Gedung Mina Tahap II Asrama Haji Transit dibawah satuan kerja Kanwil Kemenag Provinsi Maluku Utara,” papar Jajang mengawali keterangannya.

Menurutnya, proyek pembangunan gedung Mina tahap II asrama haji transit yang berlokasi di Kelurahan Ngade Kota Ternate dan dilaksanakan pada tahun 2021 tersebut ditemukan sejumlah kejanggalan dalam pelaksanaannya.

“Yang pertama Kemenag menetapkan pagu dan harga perkiraan sendiri sangat tinggi dan beda tipis. Antara pagu Rp 26.082.400.000,- HPS dan pagu Rp 26.082.394.076,- hanya beda Rp 6 ribu perak saja. Hal ini sangat fatal karena bisa menguntungkan pihak perusahaan untuk mengajukan tawaran tinggi,” kata Jajang.

Selain itu, dalam proses lelang pihak, Jajang menilai pihak Kemenag memenangkan PT Intimkara yang beralamat di Jl. Arnold mononutu No.33, Kel. Stadion Kota Ternate, padahal tawaran yang diajukan sangat tinggi yaitu  Rp 24.977.031.000,-.

Pihak CBA, menurut Jajang, menemukan bahwa PT Intimkara sendiri dalam tahapan penawaran harga, berada di posisi 5 dari 6 perusahaan yang mengajukan tawaran harga. Rata-rata peserta lelang berani mengajukan tawaran dikisaran Rp 21 sampai Rp 23 miliar.

“Anehnya perusahaan yang mengajukan tawaran efisien malah digugurkan seperti contohnya tawaran dari PT AP senilai Rp 20,8 miliar,” papar Jajang dengan nada heran.

Karena itu pihak CBA menduga ada oknum dari Kemenag yang dari awal sudah memiliki keberpihakan kepada perusahaan tertentu dengan memainkan penilaian teknis serta persyaratan yang dinilai mengada-ada seperti pompa air dan genset. PT AP misalnya gugur hanya karena mencatatkan 1 dengan alasan harusnya berjumlah 2. Lalu ada PT ME yang terganjal karena peralatan excavator yang dimilikinya dianggap tidak valid.

“Penetapan pagu serta nilai kontrak yang disepakati dengan pemenang dalam proyek pembangunan gedung Mina tahap II Asrama Haji Transit kami temukan potensi pemborosan sebesar Rp 5,2 miliar,” terang Jajang.

Selain terkait dengan kejanggalan dalam penetapan pemenang proyek, CBA juga menduga bahwa PT Intimkara juga banyak bermasalah misalnya proyek peningkatan Jalan Sif-Patani Pemkab Halmahera Tengah yang dikerjakannya tahun 2018 senilai Rp 4 miliar baru tiga bulan sudah rusak.

“Dengan track record yang dipertanyakan tersebut anehnhya pihak Kemenag tetap memenangkannya,” ungkap Jajang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.