Berita Terpercaya Tajam Terkini

BM Diah dan Tugas Jurnalistik ke Rusia dan Irak (13)

0

BM Diah Cakrawarta

Pesawat Aeroflot, Uni Soviet, kembali menerbangkan saya dari ibukota Amman, Jordania ke Moskow. Itu tanggal 22 Desember 1992.

Sekitar empat jam, saya sudah sampai lagi di Bandara Moskow, ibu kota Uni Soviet yang sekarang disebut Rusia. Salju mulai banyak turun. Udara dingin bulan Desember membuat saya berpakaian berlapis.

Di ujung Bandara sudah terlihat Svet Zakharov, koresponden harian Merdeka, sedang menunggu. Kami lalu menumpang kereta api bawah tanah menuju kediaman keluarga Zakharov.

Setelah beristirahat, besok pagi saya diajak memutar kota Moskow hingga ke Kremlin, sebuah benteng kota bertembok. Di sinilah kami melintasi Red Square dan terus menuju Katedral St.Basil’s, dengan kubahnya terkenal itu.

Saya diajak Zakharov masuk ke ruangan dalam. Di sana terdapat banyak peninggalan Rusia masa lalu.

Pada waktu saya berkunjung ke Moskow, baru saja terjadi kudeta tidak berdarah yang gagal tahun 1991. Situasi sewaktu saya di sana, pun belum stabil. Nampaknya pemerintahan Mikhail Gorbavhev berada dalam dilema. Ia dikabarkan sudah tidak ada di pusat pemerintahannya. Dikabarkan akan mengundurkan diri.

Banyak berita masih simpang siur. Pertarungan di antara berbagai kelompok dan kepastian siapa sebenarnya berkuasa masih simpang siur. Menarik diikuti dalam pekan-pekan terakhir waktu itu, yaitu mengenai perubahan sikap Gorbachev.

Terdengar kabar bahwa Gorbachev dan Yeltsin bersitegang. Lebih menarik lagi, Radio BBC London menambahkan informasi tentang pernyataan keras anggota parlemen kepada Gorbachev. “Anda yang butuh kami dan bukan kami yang butuh Anda.”

Kemudian ada sekelompok unjuk rasa di luar Gedung Parlemen negara itu, yang nampaknya sebagian besar mendukung Yeltsin dan mendesak Gorbachev mundur. Nampaknya para pengunjuk rasa masih menganggap Gorbachev berada di balik kudeta yang gagal.

Semua perkembangan itu sangat membingungkan dan di saat itulah saya berada di Moskow. Bahkan untuk itu, Gorbachev menganggap perlu mengeluarkan pernyataan bahwa “saya masih tetap seorang komunis.”

Pernyataan bahwa ia tetap sebagai komunis Glasnost dan pembaruan lain yang dilakukannya tidak mengubah dirinya sebagaimana sikap Barat.

Gorbachev mendapat tantangan berat. Terutama pada waktu itu dari Yeltsin. Akhirnya terdengar berita bahwa Gorbachev mendukung kebijakan Yeltsin. Pada waktu itu, sikap lunak Gorbachev menjadi tanda tanya.

Buat saya yang memahami betul isi wawancara Gorbachev dengan Pemimpin Umum/Redaksi BM Diah, yang kemudian diliput berbagai media seluruh negara, sudah tentu sikap yang diperlihatkan Gorbachev dalam memimpin Uni Soviet bukanlah sebuah konsep tiba-tiba, tetapi sudah matang.

Banyak hal yang tidak diketahui masyarakat internasional, apa sebenarnya terjadi di Uni Soviet saat itu. Sama pula halnya misteri di Indonesia tentang Surat Perintah 11 Maret 1966. Tetap menjadi misteri.

Yang jelas, saya tiba kembali di Jakarta dari jalur penerbangan yang saya anggap panjang, dari Jakarta, Moskow, Amman dan Baghdad. Pulangnya kembali melalui jalur yang sama.

Ketika BM Diah meninggal dunia pada hari Senin, 10 Juni 1996, di harian Merdeka, yang terbit besoknya di dalam talisan saya tersimpan makna ucapan terimakasih saya.

(Selesai)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan dan Penulis Senior

Leave A Reply

Your email address will not be published.