Berita Terpercaya Tajam Terkini

Berlimpah, Indonesia Didorong Kembangkan Pembangkit Panas Bumi Dan Nuklir

0
Indonesia Didorong Kembangkan Pembangkit Panas Bumi dan Nuklir
ilustrasi. (foto: intercongreen.com)

 

SURABAYA – Pemerintah Indonesia sedang mempromosikan untuk menerapkan kebijakan energi yang berbunyi ‘co-firing biomassa.’ Co-firing merupakan teknik substitusi dalam pembakaran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dimana sebagian batubara yang dijadikan bahan bakar diganti sebagian dengan bahan lainnya, yang dalam konteks ini adalah biomassa. Teknik ini diklaim dapat mengurangi ketergantungan energi Indonesia dari sumber yang tidak terbarukan, yakni batubara.

Menanggapi kebijakan pemerintah tersebut, Pakar Teknik Lingkungan Wahid Dianbudiyanto mengatakan bahwa penggunaan teknik co-firing biomassa merupakan langkah paling realistis dalam menjalankan komitmen implementasi green energy di Indonesia.  Menurutnya, proporsi penggunaan biomassa PLTU Indonesia beragam, mulai dari 5% sampai ada yang bisa 100% menggantikan batubara seperti di PLTU Tembilahan, Riau.

“Sumber biomassa ini beragam, mulai dari serbuk gergaji, pelet kayu hingga sampah. Untuk di PLTU Tembilahan Riau itu yang berhasil 100% justru memakai cangkang kelapa sawit. Limbah-limbah seperti ini kan banyak sekali di sekitar kita, jadi harus dimanfaatkan. Seperti di PLTU Paiton, itu sumber biomassanya dari UMKM lokal,” ujar Wahid pada media ini, Selasa (26/7/2022).

Meskipun demikian, menurut Wahid tetap menekankan bahwa co-firing biomassa ini bukan untuk solusi jangka panjang karena tetap menghambat transisi Indonesia ke energi baru dan terbarukan (EBT). Wahid mengatakan bahwa metode ini tetap menggunakan batubara yang pembakarannya sangat polutif, dan sumber biomassa seperti cangkang kelapa sawit juga didapatkan dari perkebunan yang mengamplifikasi deforestasi.

“Memang untuk konteks saat ini, co-firing paling realistis sih. Karena kalau bicara energi, kita harus bicara soal supply and demand. Demand listrik itu selalu ada 24/7. Kalau kita berusaha untuk mensuplai full demand energy itu dengan energi terbarukan seperti angin dan surya itu masih belum realistis,” ujar dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga Surabaya itu.

Menurut Wahid ada uda faktor mengapa energi terbarukan masih belum realistis yaitu pertama, faktor ekonomi. dimana program transisi menuju energi baru terbarukan dan menurunkan emisi karbon itu membutuhkan biaya yang sangat besar, dan secara ekonomi Indonesia dinilai belum mampu.

“Adapun faktor kedua adalah faktor intermiten dimana sumber energi terbarukan seperti surya dan angin itu tidak selalu ada setiap saat, dan butuh teknologi seperti baterai untuk mengatasi faktor intermiten itu,” imbuhnya.

Wahid menilai apabila Indonesia langsung melakukan transisi tanpa mempertimbangkan faktor ekonomi, dapat mengakibatkan terjadinya bisa krisis sehingga diperlukan alternatif lain.

“Kedepannya yang paling realistis untuk Indonesia adalah pengembangan pembangkit panas bumi dan nuklir. Kita banyak sekali potensi panas bumi yang masih belum dimanfaatkan. Begitu pula dengan nuklir yang memang efektif karena polusinya hampir nihil. Indonesia bisa mengarah ke sana karena ia merupakan sumber energi yang tidak intermiten dan murah, tinggal peningkatan kesiapan sumber daya dan pengelolaan limbahnya yang berbahaya saja,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.