Berita Terpercaya Tajam Terkini

Ada Apa Dengan Hepatitis Akut Misterius?

0

 

Ketika angka kasus penyakit Covid-19 mereda, kita justru dikejutkan dengan kemunculan hepatitis ‘misterius’ atau kemudian diberi nama hepatitis unknown etiology oleh badan kesehatan dunia, WHO. Misteri penyakit ini awal dilaporkan ke World Health Organization (WHO) pada 5 April 2022 lalu. Ada 10 kasus dengan etiologi tanpa diketahui secara jelas terjadi pada anak dibawah 10 tahun di Skotlandia. Sembilannya mengalami gejala awal pada Maret 2022, sementara satunya pada Januari 2022.

Gejala hepatitis akut ‘misterius’ ini meliputi penyakit kuning, diare, muntah, dan sakit perut. Pada 8 April 2022, penyelidikan lebih lanjut di Inggris Raya mengidentifikasi total 74 kasus yang memenuhi definisi gejala kasus.  Dugaan hepatitis akut berdasarkan gambaran klinis khas adanya peningkatan enzim hati yang nyata dengan kadar aspartate transaminase (AST) atau alanine aminotransaminase (ALT) lebih besar dari 500 IU/L), sering disertai jaundice (penyakit kuning) pada kulit dan bagian putih mata, kadang-kadang didahului gejala gastrointestinal (sakit perut, diare, muntah), sebagian besar tidak mengalami demam. Kejadian ini menyerang pada anak terutama dibawah 16 tahun. Beberapa kasus memerlukan penanganan khusus dari dokter spesialis hati anak.

Sejak 15 April 2022, WHO telah memberikan peringatan global terkait kejadian luar biasa (KLB) kasus hepatitis akut ‘misterius’ ini. WHO memberikan informasi kepada negara-negara tentang kriteria dan definisi untuk membantu pemantauan, yaitu hepatitis akut (non virus hepatitis A-E) dengan serum transaminase >500 IU/L (AST atau ALT), yang berusia 16 tahun ke bawah, sejak 1 Oktober 2021 termasuk kelompok kontak erat dari kasus suspek dari semua usia. Tujuannya agar pencarian lebih intensif dan penemuan sampel lebih banyak lagi untuk memperdalam dan menvalidasi data investigasi.  Hingga Selasa (10/5/2022), lebih dari 348 kasus telah dilaporkan dari 21 negara, termasuk Indonesia (terlapor 15 kasus). Negara Inggris dengan kasus terbanyak sekitar 170 dan menjadi negara yang melaporkan kasus pertama ke WHO. Data European Centre for Disease Prevention and Control per tanggal 11 Mei menyebutkan 11 kematian anak akibat penyakit ini terjadi di AS (5 kasus), Palestina (1 kasus) dan Indonesia (5 kasus).

Khusus di Indonesia, data update per 13 Mei 2022 sudah ada 7 kasus kematian yang dilaporkan. Tiga pasien anak di wilayah Jakarta yang diduga meninggal dengan penyakit ini. Pada Minggu (8/5/2022) Kadinkes Kabupaten Tulungagung mengonfirmasi kematian satu anak.  Disusul pada Senin (9/5/2022) bayi berusia 1 bulan 29 hari asal Solok (Sumatera Barat). Terbaru, Kamis (12/5/2022) 1 anak dari DKI Jakarta dan 1 dari Kalimantan Timur.

Sementara Jawa Timur, pada Kamis (5/5/2022) menurut Dinas Kesehatan berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) pada minggu ke-1 hingga ke-17 tahun 2022 ditemukan 114 kasus suspek di 18 daerah. Sehari kemudian, Jumat (6/5/2022) muncul pernyataan resmi Kadinkes Jatim dr. Erwin Astha Triyono yang menyebutkan bahwa temuan itu hanya merupakan syndrome jaundice dan bukan hepatitis akut.

Hepatitis Misterius, Covid-19 dan Adenovirus

Penyakit hepatitis biasanya secara dominan disebabkan oleh adanya infeksi virus hepatitis antara lain virus hepatitis A, B, C, D dan E, walaupun pada kasus tertentu dengan prevalensi yang kecil juga bisa disebabkan oleh alkohol dan bahan kimia/racun. Hasil pemeriksaan di Eropa tidak berhasil menemukan infeksi virus hepatitis yang umum. Identifikasi patogen lain virus Epstein-barr, cytomegalovirus, adenovirus dan sebagainya pun dilakukan. Data adenovirus ditemukan pada 75% kasus, yang didominasi serotipe-41 tetapi patogenesisnya belum jelas. Pada beberapa kasus terdeteksi adanya kombinasi infeksi adenovirus dan SARS-CoV-2, meskipun prevalensinya kecil (dibawah 10%). Umumnya, adenovirus merupakan patogen yang biasanya menyebabkan infeksi pernafasan ringan, bisa sembuh dengan sendirinya dan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Infeksi ini dapat menyebabkan gejala pernapasan atau muntah dan diare. Infeksi adenovirus sering muncul pada anak daripada orang dewasa, tetapi sangat jarang menyebabkan hepatitis. Jika terjadi, biasanya karena gangguan imunitas. Hepatitis akut pada anak sehat biasanya tidak terkait dengan infeksi adenovirus.

Data WHO ada 26 anak (7,47%) memerlukan transplantasi akibat gagal hati. Progresivitas bahkan kematian akibat hepatitis akut dengan infeksi adenovirus menjadi tidak wajar. Investigasi lanjutan masih perlu dilakukan terkait kemungkinan munculnya adenovirus baru atau infeksi ini bersamaan dengan faktor risiko lain seperti paparan racun/bahan kimia atau infeksi patogen lain. Minimnya informasi epidemiologis, laboratorium, dan klinis menjadi kendala terbesar, walaupun adenovirus terdeteksi dominan (75%), tetapi faktanya viral load-nya rendah dan pada sampel jaringan hati tidak ditemukan adenovirus. Muncul spekulasi, bisa saja adenovirus yang ditemukan hanya faktor kebetulan. Etiologi hepatitis akut parah ini terus diidentifikasi.

Apakah adenovirus sebagai penyebab utama hepatitis akut parah atau dipengaruhi oleh kondisi klinis lain? Ini yang perlu diungkap secepatnya. Sehingga dapat merekomendasikan upaya pencegahan, pengobatan, dan pengendalian lebih presisi ke depannya. Beberapa pihak mengaitkan dengan adenovirus dari vaksin Covid-19. Faktanya, sebagian besar anak pengidap hepatitis ini belum divaksin Covid-19. Artinya, belum ada hubungan antara kasus hepatitis dengan vaksinasi Covid-19 terutama yang platform adenovirus. Karena adenovirus pada pengembangan vaksin telah dimodifikasi agar tidak lagi berbahaya dan tidak mampu bereplikasi (nonreplicating) di dalam sel, sehingga tidak mungkin dapat terinfeksi adenovirus dari vaksin. Adenovirus digunakan hanya sebagai wahana untuk memproduksi antigen agar tubuh memproduksi antibodi Covid-19. Selain itu, strain adenovirus pada pasien hepatitis ‘misterius’ berbeda. Untuk vaksin memakai serotipe-26.

Saat ini, hal penting yang mesti dilakukan adalah waspada dengan gejala hepatitis dan melakukan pemeriksaan dini mungkin jika muncul gejala. Sementara itu, untuk upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, menutup mulut saat batuk atau bersin untuk mencegah infeksi, yang juga dapat mencegah penularan adenovirus. Tak perlu panik namun tetap harus waspada.

 

LAURA NAVIKA YAMANI

Dosen Epidemiologi dan Ketua Research Center on Global Emerging and Re-emerging Infectious Diseases ITD Unair

Leave A Reply

Your email address will not be published.