Wiranto Dianggap Paling Pas Jadi Cawapres Jokowi. Kenapa?

Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal (Purn.) Wiranto. (foto: istimewa)

 

JAKARTA – Dinamika politik di internal parpol koalisi pemerintah terus bergerak dalam tanya siapa sesungguhnya yang paling presisi dipilih oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mendampingi pada periode kedua kali ini.

Analis masalah politik, Rahman Sabon Nama, memastikan Jokowi memiliki rasio dan intuisi politik yang mumpuni menjatuhkan pilihannya kepada wakil calon presiden (cawapres) yang bakal mendampinginya nanti.

“Saya meyakini naluri politik Presiden Jokowi juga paling tajam. Tidak hanya rasio dan intuisi politiknya,” tutur Rahman Sabon di Jakarta, Senin (30/7/2018) dini hari.

Alumnus Lemhanas RI ini mengatakan pilihan Jokowi tentu tidak sebatas pada kriteria kapasitas dan kapabalitas yang dimiliki oleh sosok cawapres yang akan mendampininya.

“Tetapi juga harus memiliki loyalitas, integritas, dan kecocokan atau chemistry secara lahir dan batin dengan Presiden Jokowi,” katanya.

Ditanya siapa yang tepat memenuhi kriteria itu, Rahman Sabon Nama, merujuk pada hasil observase-riset dan analisis lapangan tentang pergerakan politik nasional dari dua organisasi yang dia pimpin. Yaitu, organisasi profesi APT2PHI (Asosiasi Pedagang Dan Tani Tanaman Pangan Indonesia) dan ormas Persatuan Pengamal Tharekat Islam (PPTI) yang ormas Kino Kino pendiri Sekber Golkar.

Observasi itu dilakukan selama tiga bulan sejak paruh April sampai Juli 2018. Hasilnya secara analisis, kata Rahman, kriteria secara paripurna meliputi kapasitas, kapabilitas, loyalitas, integtitas, dan chemistry lahir-batin dengan Presiden Jokowi terdapat dan melekat pada Menkopolhukam di Kabinet Kerja.

“Itu hasil analisis atau kajian rasionalitas. Kajian spiritualitas dari beberapa ulama Mursyid dan Majelis Tinggi Tharikat Islam yang ia temui, juga kajian berbagai aspek, Pak Wiranto lebih presisif menjadi cawapres Pak Jokowi,” terang Rahman Sabon.

Oleh sebab itu, menurut Rahman, Jokowi dengan enam Parpol koalisi perlu secara matang mempertimbangkan bahwa Wiranto merupakan cawapres yang betul-betul tepat baginya guna berlaga di Pilpres 2019.

“Itu tak berarti saya menafikan kapasitas, kapabalitas dan kriteria calon lain. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin agar Pak Jokowi menjatuhkan pilihan secara benar-benar tepat dan presisif,” terang Rahman Sabon di Jakarta menjelang subuh pagi tadi.

Alasan lain kata Rahman, bahwa Wiranto yang juga berlatar belakang akademis ilmu hukum merupakan figur yang matang, senior dan mumpuni dalam urusan pertahanan, keamanan, ketertiban, dan hukum yang menjadi kebutuhan penting dan strategis pada era periode kedua kepemimpinan Jokowi.

Wiranto, kata Rahman, juga piawai, lugas dan lentur dalam membangun komunikasi politik dengan semua pemimpin dan senior partai politik, tak terkecuali parpol non koalisi atau oposisi.

Dari hasil komunikasi yang dilakukan Rahman dengan beberapa ulama khos di Jawa, Sulawesi, Sumatra dan Nusa Tenggara, dikatakannya bahwa pribadi Wiranto lebih diterima di kalangan umat Islam, habaib dan ulama berpengaruh. Juga dengan kalangan agama lainnya lantaran cara komunikasinya yang populis, tidak eletis.

Soal loyalitas dan integritas, Rahman mengatakan bahwa Wiranto, hal tersebut sudah menjadi sikap mental dan moral Wiranto sebagai prajurit. Baik terhadap pimpinan di atasnya, terhadap negara, maupun Pancasila dan UUD 1945.

“Ini merupakan komitmen yang tak bisa ditawar-tawar dari seorang prajurit yang mencapai pangkat jenderal dan menjadi panglima TNI,” kata Rahman Sabon.

Wiranto juga, menurut cucu dari pahlawan Kapitan Lingga Ratu Loli NTT ini, dari aspek usia sudah relatif sepuh pada 2024, akhir Periode ke-2 pemerintahan Jokowi. Dengan sikapnya yang tidak lagi ambisius, maka urusan untuk melompat jadi Presiden lagi, sudah pupus.

“Artinya, untuk kontestasi pada Pilpres 2024 pasca Pak Jokowi, akan belangsung bebas tanpa inkumben,” kata Rahman Sabon Nama mengakhiri.

(bm/bti)

author