Terpecahnya Islam dan Arti Penting 10 Muharam (2): Haider al-Abadi

90
Haider al-Abadi. (foto: istimewa)

 

”Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat?” Rasulullah SAW menjawab,“ Yang mengikutiku dan para sahabatku.” ( *HR Imam Tirmizi).

Perpecahan dalam agama Islam tidak terasa apabila seseorang berpergian ke sebuah negara, seperti Irak. Boleh jadi negara yang dikunjungi menghormati kehidupan sesama umat antar bernegara. Contohnya ketika saya mengunjungi Irak untuk kedua kalinya di bulan September 2014. Pertama kali saya ke Irak di bulan Desember 1992. Islam Syiah kembali berperan.

Setelah Amerika Serikat dan menginvasi Irak, juga setelah Saddam Hussein, Islam Sunni, dihukum gantung, peranan kelompok Syiah dikembalikan oleh Amerika Serikat.

Sekarang yang berkuasa penuh di Irak bukannya Presiden di masa Saddam Hussein, tetapi adalah Perdana Menteri dari Islam Syiah, yang juga agama mayoritas penduduk Irak.

Sedangkan seorang Presiden di Irak (sekarang simbolik) diserahkan kepada Suku Kurdi yang sebetulnya masih memperjuangkan membentuk Negara Kurdi, tetapi tidak disetujui Pemerintah Irak. Wilayah Kurdi hanya diberikan otonomi khusus di Irak. Sedangkan Islam Sunni yang pernah berkuasa di Irak (minoritas) semasa Saddam Hussein, sekarang hanya diberi kewenangan di Parlemen Irak. Itulah strategi Amerika Serikat dan sekutunya di “Negara 1001 Malam” itu.

Sebuah cerita menarik yang dikemukakan kali ini, ternyata penduduk Syiah Irak itu melaksanakan Rukun Islam ke-5 , berhaji ke Baitullah, dilakukan Islam Syiah.

Kita bisa menyaksikan Haider al-Abadi, mantan Perdana Menteri Irak di twitternya, Kamis, 8 Agustus 2019 memposting fotonya yang sedang menunaikan rukun Islam ke-5, menunaikan ibadah haji ke kota suci Mekah.

Menjelang hari Iduladha tahun 2019, Haider al-Abadi berkunjung ke Masjid Nabi Muhammad SAW di Madinah. Pada awal berdirinya masjid ini, wilayah itu merupakan batang pohon palem kecil dan sebagian ditutupi dengan daun palem dan sisanya tidak tertutup karena kurangnya potensi Muslim di awal abad itu, ujar Haider al-Abadi.

Sekanjutnya ujar Haider al-Abadi, dengan sarana sederhana, Islam telah menyebar ke seluruh dunia. Dengan iman dan iman yang tulus, kita dapat mencapai mukjizat dengan kemungkinan sederhana.

Haider al-Abadi juga di twitternya mengunggah Masjid Quba, sebuah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah.

Haider al-Abadi

Siapa Haider al-Abadi. Sebagai Perdana Menteri Irak di masanya, ia adalah Muslim Syiah. Sesuai perundang-undangan di Irak yang berlaku, seorang perdana menterilah yang menyelenggarakan pemerintahan.

Bahkan seorang presiden yang sesuai pembagian kekuasaan sekarang dari Suku Kurdi Irak, bersifat seremonial. Sementara Ketua Parlemen Irak dijabat oleh Islam Sunni. Di Irak, Islam Sunni memang minoritas.

Saya pernah mengatakan, munculnya Saddam Hussein sebagai Presiden Irak yang waktu itu berdaulat penuh, dipegang oleh Sunni, karena Saddam Hussein adalah seorang Sunni.

Membaca Islam Syiah dan Sunni ini, saya teringat akan tulisan Said Agil Siradj di “NU online” yang mengatakan, setelah Rasulullah wafat, timbul berbagai aliran dalam Islam. Ada yang disebabkan oleh alasan politik dan ada pula yang disebabkan oleh perbedaan cara tafsir ajaran Islam terhadap berbagai persoalan baru.

Menurut Agil, beberapa aliran yang muncul di antaranya adalah Kodariyah, Murjiah, Muktazilah, Khawarij, Syiah, dan Ahlusunnah. Dari sekian banyak aliran yang ada, kini dalam perjalanan 15 Abad Islam, tinggal Sunni (Ahlusunnah) dan Syiah yang tetap bertahan sedangkan lainnya secara nama sudah hilang, meskipun pengaruh alirannya tetap ada dalam berbagai bentuk. Sebetulnya perlu diperjelas aliran-aliran dalam Agama Islam, yang 73 tersebut, sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad SAW, agar muslim dunia tidak tersesat.

Said kemudian meyakini, keberadaan dua aliran yang sudah terbukti mampu bertahan ini akan mampu bertahan jauh di masa depan. Pengikut aliran Syiah memiliki kelebihan berupa militansi yang bagus. Militansi yang intelek, bukan militansi yang ngawur. Dalam kasus Palestina, di wilayah tersebut tidak ada orang Syiah, tetapi Iran lah yang paling menganggap musuh dengan Israel, Hizbullah yang paling menganggap musuh Israel.

Mengenai kepintaran orang Syiah, Said menjelaskan, hal ini bisa dilihat dari latar belakang peradaban Persia yang jauh lebih maju dari Arab. Begitube masuk Islam, tinggal ganti agama, ganti kitab suci Al-Qur’an, tetapi nilai-nilai peradabannya sudah mapan.

“Ahli hadits tidak ada orang Arab, tetapi orang Persia semua. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi,” imbuhnya.

Ia menambahkan yang menciptakan ilmu nahwu, Imam Sibawaih merupakan orang Persia, yang menciptakan ilmu balaghoh atau kesusastraan bahasa Arab juga orang Persia, yaitu Amir bin Ubaid. Yang pertamakali menjadi mufassir besar, yaitu orang Tabaristan, yaitu Ibnu Ja’far Attabari yang membuat tafsir 10 jilid. Imam Ghozali merupakan Persia. Abu Hanifah dan Imam Hambali orang Persia. Sementara Imam Syafii dan Imam Malik orang Arab.

Mengenai hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah, Said yang menyelesaikan doktor di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, Mesir bisa menjadi contoh. Di Mesir dulu ada kelompok Syiah, Sunni, dan Kristen Ortodok. Mereka bisa hidup damai.

“Ngak pernah ada konflik mazhab. 10 raja dari Syiah di Mesir dari dinasti Fatimiyah. Yang membangun kota Kairo orang Syiah, yang membangun masjid Al Azhar juga orang Syiah,” tandasnya.

Sayangnya, Mesir kini sudah mulai ada yang terseret pada fanatisme kelompok seperti mulai adanya ISIS dan Al-Qaedah.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior