Terpecahnya Islam dan Arti Penting 10 Muharam (1): Islam Dalam Sejarah

16
Sebuah Keluarga Badui di Oman (foto: istimewa)

 

“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat?” Rasulullah SAW menjawab, “Yang mengikutiku dan para sahabatku.” (HR.  Imam Tirmizi).

Perpecahan dalam agama Islam tidak dapat dilepaskan dari masalah politik. Masalah kepemimpinan adalah masalah politik, masalah menentukan siapa yang akan memimpin umat setelah Nabi Muhammad SAW (Sallalahu Alaihi Wassalam) wafat.

Pada 8 Juni tahun 632 M, Rasulullah Muhammad SAW, mengembuskan napas terakhirnya di Madinah, yang kini bernama Arab Saudi. Rasulullah pertama kali menerima wahyu dari Allah SWT pada tahun 610 M di gua di Gunung Hira, Makkah, melalui Malaikat Jibril. Wahyu-wahyu yang diterimanya kemudian terkumpul menjadi kitab suci Alquran yang menjadi pedoman hidup umat Islam.

Nabi Muhammad merupakan nabi terakhir, sekaligus sebagai nabi penyempurna tradisi Yahudi-Kristen, yang mengadopsi teologi agama-agama lebih tua sambil memperkenalkan ajaran baru, yaitu Islam. Ajarannya juga membawa persatuan bagi suku Badui di Arab.

Suku Badui merupakan salah satu dari suku asli di Arab. Perawakan suku Badui yang khas menyebabkan suku ini dapat langsung dikenali. Perawakannya sebagaimana ditulis dalam buku-buku sejarah Arab: suku ini berperawakan tinggi, dengan hidung mancung. Lain halnya dengan suku pendatang yang ada di Arab, suku Badui tetap mempertahankan budaya dan cara hidup mengembara.

Istilah sebutan yang mengacu untuk Orang Kanekes sebagai Baduy berasal dari nama ini (Foto: Sebuah Keluarga Badui di Oman/Wikipedia).

Dilansir History, pada musim panas tahun 622 M, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, sejauh sekitar 200 mil sebelah utara Makkah. Di sana ia diberi kekuatan politik yang cukup besar. Di Madinah pula Rasul membangun sebuah model pemerintahan teokratis dan mengelola kerajaan yang berkembang dengan sangat pesat.

Setelah wafat, Nabi Muhammad SAW diakui sebagai pemimpin yang sangat sukses di seluruh Arab selatan hingga aktif di Kekaisaran Timur, Persia, dan Etiopia. Pada perjalanannya, Islam menjadi kepercayaan terbesar yang pernah ada di dunia, yang terbentang dari India ke Timur Tengah dan Afrika Utara serta sampai ke Semenanjung Iberia di Eropa Barat. Penyebaran Islam berlanjut setelah berakhirnya penaklukan di Arab. Banyak agama di Afrika dan Asia mengadopsi agama tersebut. Saat ini Islam adalah agama terbesar kedua di dunia.

Walaupun sebenarnya perselisihan mengenai imamah itu sudah bermula sejak Rasulullah SAW wafat, terutama antara golongan Muhajirin dan golongan Anshar, tetapi dapat diselesaikan dengan damai, yaitu dengan mengangkat  Abu Bakar menjadi khalifah.

Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq adalah salah satu orang yang awal memeluk Islam dan khalifah pertama sepeninggal Nabi Muhammad SAW.

Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq RA  adalah sahabat yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW. Nabi memuji Abu Bakar, karena pengorbanannya yang begitu besar terhadap dakwah Islam. Bahkan Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup bersama kalian, oleh karena itu teladanilah dua orang sepeninggalku (sambil menunjuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab)”. (Hadis Jami’ At-Tirmidzi No. 3596).

Sayyidina Abu Bakar bernama lengkap ‘Abdullah bin Abu Quhafah. Beliau lahir pada tahun 573 M dan salah satu orang yang awal memeluk Islam dan khalifah pertama sepeninggal Nabi.

Nama asli Abu Bakar adalah Abdullah bin Abu Quhafah atau yang lebih dikenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, adalah salah satu pemeluk Islam awal, salah satu sahabat utama Nabi, dan khalifah pertama sepeninggal Nabi Muhammad mangkat. Melalui putrinya, ‘Aisyah, Abu Bakar merupakan ayah mertua Nabi Muhammad. Abu Bakar, lahir: 27 Oktober 573 M, di Mekkah, Arab Saudi dan meninggal pada 23 Agustus 634 M,di Madinah, Arab Saudi.

Abu Bakar kemudian digantikan Umar bin Khattab, khalifah ke-2. Ia dikenal mempunyai watak keras dan tegas. Selama untuk membela Islam dan kebenaran tak ada yang dia takuti di dunia ini.

Sifat keras itu bahkan sejak masih mendampingi Rasulullah SAW. Seperti apa kisah sahabat nabi tentang Umar bin Khattab yang dikenal keras ini?

Setelah Abu Bakar Ash Shidiq wafat pada 21 Jumadilakhir tahun ke-13 hijrah atau 22 Agustus 634 Masehi, Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah ke-2.

Muncul kekhawatiran dari masyarakat Mekah saat Umar naik menjadi Khalifah menggantikan Abu Bakar Ashidiq. Mereka khawatir Umar akan lebih keras kepada mereka.

Hal itu bisa dirasakan oleh Umar. Kisah sahabat nabi berikutnya di hari ke-3 setelah dibaiat sebagai khalifah saat menyampaikan pidato pertamanya, dia pun meluruskan anggapan itu.

“Ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa sikap keras itu sekarang sudah mencair. Sikap itu (keras) hanya terhadap orang yang berlaku zalim dan memusuhi kaum Muslimin,” kata Umar seperti dikutip dari buku, Biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal.

“Tetapi buat orang yang jujur, orang yang berpegang teguh pada agama dan berlaku adil saya lebih lembut dari mereka semua,” Umar melanjutkan.

Dia berjanji tak akan membiarkan orang berbuat zalim atau melanggar hak orang lain. Kepada orang yang berbuat zalim, Umar akan meletakkan pipi sebelah mereka di tanah dan pipi satunya akan dia injak. Sebaliknya bagi orang yang bersih dan mau hidup sederhana, Umar akan meletakkan pipinya di tanah.

Umar juga meminta rakyat tak ragu untuk menegur dia kalau salah. Bahkan menuntut jika rakyat Makkah terjebak bencana atau tentaranya jatuh ke perangkap musuh.

“Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf naih munkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara,” kata Umar menutup pidatonya.

Selesai pidato, Umar turun dari mimbar dan memimpin sholat. Selesai sholat dia pun pulang ke rumah. Kisah sahabat nabi itu pun kemudian dikenal sebagai pemimpin yang adil dengan segala kekerasan watak dan kekasarannya.

Meninggalnya Umar digantikan oleh Usman bin Affan (tahun 35 H), tetapi di masa Usman terjadi konflik politik yang tajam, sehingga Usman dibunuh.

Pada masa kepemimpinan Khalifah Usman, setiap kelompok mempunyai pemimpinnya tersendiri dan tidak mengakui pemimpin dari kelompok lain. Terbunuhnya Usman itu sendiri sebenarnya disebabkan oleh masalah politik juga. Kelompok pemberontak yang tidak senang dengan para gabernur yang diangkat oleh Usman dan kebijaksanaannya menuntut agar khalifah ketiga itu meletakkan jabatan, tetapi Usman enggan melakukannya. Keengganan Usman melakukan tuntutan kelompok tersebut membuat mereka marah dan akhirnya Usman terbunuh di rumah ketika sedang membaca Al-Qur`an.

Kematian Usman menjadi titik tolak bagi perpecahan umat Islam. Al-Baghdadi (wafat th. 429 H) dalam bukunya  Al-Farq bayna al Firaq mengatakan: Tsumma ikhtalafu (Kemudian mereka (para shahabat) berselisih setelah terbunuhnya (Usman) dalam masalah orang-orang yang telah membunuhnya dan orang-orang yang membiarkannya terbunuh, perselisihan yang kekal (berbekas) sampai hari ini.

Perang saudara pun mulai terjadi.  Perang pertama yang adalah Perang Unta (Perang Jamal) tahun 36 H, antara kelompok yang dipimpin oleh Aisyah r.a, isteri Rasul saw, yang menuntut bela atas kematian Usman, dengan kelompok Ali bin Abi Talib yang diangkat menjadi khalifah sesudah Usman. Kelompok pemberontak setelah membunuh Usman bergabung dengan Ali, itulah sebabnya kelompok Aisyah dan kelompok Muawiyah bin Abi Sufyan menuntut agar Ali menegakkan hukum terhadap mereka. Tetapi Ali tidak dapat melaksanakan tuntutan itu. Hal ini menyebabkan krisis politik yang berpanjangan.

Masalah politik merupakan punca yang disebut dengan al-Fitnah al-Kubra (bencana besar) di kalangan umat Islam. Umat Islam berpecah kepada tiga kelompok:
Pertama: kelompok Ali, kedua: kelompok Muawiyah, dan ketiga: kelompok moderat/netral yang tidak memihak kepada salah satu dari dua kelompok tersebut.

Dua kelompok pertama memiliki pengikut yang banyak, sedangkan kelompok moderat, karena tidak ikut campur dalam masalah politik, maka jumlahnya tidak diketahui, tetapi kelompok ini merupakan mayoritas.

Di antara para sahabat yang bergabung di dalam kelompok moderat ini adalah: Abdullah bin Umar (Ibnu Umar), Saad bin Malik, Saad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan lain-lain.

Pertentangan antara kelompok Muawiyah dan Ali semakin meruncing dan membawa kepada terjadinya perang Siffin. Setelah kelompok Muawiyah hampir kalah, mereka mengajak untuk bertahkim (arbitrate) bagi menyelesaikan konflik yang terjadi. Perundingan (tahkim) dilaksanakan di Daumatul Jandal pada bulan Ramadhan tahun 37 H. Kelompok Muawiyah diwakili oleh Amru bin Ash (wafat th.43 H) dan kelompok Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari (wafat th. 44 H). Kedua-duanya bertindak sebagai hakim dari kelompok masing-masing.

Perundingan antara kedua belah pihak tidak berjalan dengan jujur. Amru membuat tipuan terhadap Abu Musa dengan mengatakan bahawa konflik yang terjadi adalah disebabkan oleh dua orang, yaitu Ali dan Muawiyah, maka untuk menciptakan perdamaian, kedua orang itu harus dipecat dan kemudian diserahkan kepada umat Islam untuk memilih khalifah baru.

Tipuan itu berhasil. Amru memberikan kesempatan pertama kepada Abu Musa untuk naik mimbar; Abu Musa mengumumkan pemecatan Ali. Sesudah itu Amru naik mimbar pula, ia menerima pemecatan Ali dan karena Ali sudah dipecat khalifah tinggal seorang sahaja lagi, yaitu Muawiyahia menetapkan Muawiyah sebagai khalifah umat Islam seluruhnya. Tentu saja kelompok Ali menentangnya.

Perundingan tersebut bukan saja tidak menyelesaikan konflik, tetapi malah menimbulkan kelompok baru. Kelompok Ali terpecah menjadi dua; Pertama, yang tetap setia kepadanya (belakang hari disebut syiah); Kedua, yang memberontak, keluar dari kelompok Ali dan berbalik menjadi musuhnya, karena tidak puas dengan keputusan Ali untuk mengikuti perundingan diatas (kelompok ini disebut Khawarij).

Kelompok ini pada mulanya memaksa Ali untuk ikut bertahkim, tetapi setelah Ali menerima tahkim (kesimpulan), mereka menolaknya; Mereka memakai semboyan La hukma illa lillah (Tidak ada hukum (keputusan) melainkan bagi Allah semata.

Kini kelompok yang bertikai dalam masalah politik menjadi tiga; kelompok Muawiyah, kelompok Ali dan kelompok Khawarij. Kelompok terakhir ini mengkafirkan kelompok Pertama dan Kedua, mereka menghalalkan darah orang Islam yang tidak sependapat dengan mereka. Mereka memerangi kelompok Pertama dan Kedua, mereka mengirim utusan rahsia untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amru bin Ash. Muawiyah dan Amru selamat dari pembunuhan, sedangkan Ali terbunuh di tangan Abdul Rahman bin Muljam pada tahun 40 H.

Kematian Ali membuat pengikutnya sedih. Hasan, Putra Ali pertama, diangkat menjadi khalifah menggantikan ayahnya. Hasan melihat bahwa pertentangan politik ini hanya akan merugikan umat Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, dia mengadakan perdamaian dengan Muawiyah, untuk menjaga agar darah kaum Muslimin tidak tertumpah lebih banyak lagi.

Hasan meletakkan jabatan pada tahun 41 H dan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah. Hasan meminta agar Muawiyah menyerahkan urusan khilafah kepada kaum Muslimin bila ia meninggal nanti. Hasan juga meminta agar kelompok Muawiyah berhenti menghina Ali di dalam khutbah-khutbahnya. Gerakan perdamaian ini disokong oleh masyarakat  Islam, sehingga tahun itu disebut sebagai Tahun Persatuan (‘am al-Jama’ah).

Tetapi kemudian, perjanjian tersebut tidak ditepati. Hasan meninggal di Madinah kerana terkena racun pada tahun 50 H. Kelompok Syiah mengangkat Husein, putra Ali kedua, menjadi khalifah.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior