Surat (Apa) Kabar, Kampus?

185 views

Hakikat universitas bagi civitas akademika adalah berbicara tentang segala sesuatu yang bersifat universal. Sesuatu yang holistis, bukan parsial. Universitas berarti juga universe dalam batas-batas galaksi. Universitas bukan berarti fakultatif apalagi departemental. Walau terdapat fakultas dan jurusan, pengaruh letak masing-masing terbentang seperti planet-planet dalam tata surya yang seolah terpisah oleh ruang (langit), namun adalah bagian dari ekosistem yang saling kait-mengait.

Sebagai Kepala Penyunting (Redaktur Pelaksana) Surat Kabar Kampus (SKK) Warta UI yang berkantor hampir selalu sendirian di lantai 7 Gedung Rektorat UI, saya setiap bulan membuat laporan utama tentang fakultas-fakultas di UI yang berulang tahun. Paling banter saya ditemani Pak Rahmat yang merupakan pegawai Humas UI merangkap fotografer dan seorang disainer grafis. Sekitar setahun saya berada dalam ruang tinggi untuk ukuran UI sebagai hutan kota yang diliputi kesunyian.

Sering saya pulang malam, sehingga kudu melongok ke lorong-lorong yang gelap. Ada cerita yang berkembang bahwa Rektorat UI dihuni seorang perempuan cantik berbaju merah yang kadang menampakkan diri. Perempuan dalam sosok hantu atau siluman, selalu menjadi ikon kengerian bagi anak-anak negeri, tapi terutama bagi kaum laki-laki. Jarang terpungut kisah dedemit laki-laki yang mampu membuat bulu kuduk meremang.

Masa saya mengabdi di lantai tujuh itu terjadi setelah melewati seabrek aktivitas sebagai aktivis kelompok studi dan pers kampus. Saya pernah menjadi pengelola tabloid Ekspresi Fakultas Sastra UI, pun Majalah Suara Mahasiswa UI. Seingat saya, sejumlah aktivis kampus juga pernah menjadi bagian dari SKK Warta UI, termasuk Komaruddin, Fahri Hamzah, sampai sejumlah dosen dan jurnalis jempolan. Tentu, berbeda dengan pers mahasiswa era 1970an yang kritis, Warta UI lebih bersifat “Kantor Berita Resmi” atau sering disebut sebagai pers plat merah.

Saya ingat, pernah terjadi “perang” antara Kelompok Studi Mahasiswa UI Eka Prasetya pimpinan Mohammad Qodari (kini Doktor Ilmu Politik) dengan Majalah Suara Mahasiswa UI periode 1996-1997. Polling yang dilakukan KSM UI terhadap Mahasiswa Baru UI dalam menghadapi Pemilu 1997 menghasilkan kesimpulan bahwa mayoritas mahasiswa memilih golput. Majalah Suara Mahasiswa UI Pimpinan Ummi Salamah (kini Doktor Ilmu Psikologi) menerbitkan hasil polling itu dalam kuali “gorengan”. Kelemahan metodologi penelitian kuantitatif dan subjektivitas pertanyaan yang disusun diblejeti.

Golput, kala itu, menjadi semacam penyakit kusta dalam sistem otoritarian. Arbi Sanit, dosen ilmu politik paling tajam, skeptis dan oposisional menerbitkan buku bersampul hitam dengan segilima putih dengan judul “Golput”. Buku yang laku di kalangan aktivis kelompok studi, tetapi tentu lebih banyak dalam bentuk bajakan atau fotokopian.

Pertarungan Qodari vs Ummi yang sama-sama mahasiswa Fakultas Psikologi UI ini tercatat sebagai “titik hitam” dalam hubungan KSM dengan Suara Mahasiswa. Padahal keduanya adalah simbol oposisi paling tangguh terhadap Senat Mahasiswa UI pasca Pemira SMUI 1995. Soalnya, setelah dikalahkan oleh Komaruddin (sekarang Doktor bidang Ilmu Politik), saya memilih aktif di dalam tubuh kedua Unit Kegiatan Mahasiswa itu. Padahal Komar yang adalah ikhwan satu pengajian (liqo) dengan saya, sempat menawarkan posisi sebagai Sekretaris Umum SMUI 1995-1996.

“Afwan, akhi. Ana tidak bisa bekerjasama. Ana hanya bisa sama-sama kerja,” begitu saya sampaikan kepada Komar usai sholat Jumat di Mesjid UI.

Toh, saya tetap bersedia diberi mandat sebagai Ketua Delegasi SMUI dalam Pertemuan SMPT se-Indonesia di Universitas Mulawarman tahun 1996. Saya juga melibatkan diri dalam Pokja Pendidikan, yakni isu perjuangan anggaran pendidikan nasional hingga 25% dari APBN. Isu itu paling lama diperjuangan oleh gelombang demi gelombang gerakan mahasiswa, terutama sejak menjadi keputusan strategis dalam Konferensi Mahasiswa Indonesia di Eropa pada tahun 1955 yang antara lain dihadiri oleh Bahder Djohan. Isu itu juga termuat dalam tuntutan ratusan tokoh mahasiswa yang bertemu dengan Presiden Soeharto di Istana Bogor pada tahun 1971.

Saya juga hadir dalam pernikahan Komar. Sampai kini, dia adalah sahabat spiritual saya dalam bermunajat dan sikap sikap tunduh kepada Allah SWT.

Kritik metodologi yang berbuah kepada “perang psikologis” sesama aktivis mahasiswa yang dipimpin anak-anak Fakultas Psikologi yang terbiasa dengan psiko-analisa, tentu dengan “kewajiban” mengutip Sigmund Freud, tak berakhir damai. Tiap edisi Majalah Suara Mahasiswa UI berarti ongkos termahal yang dibebankan kepada organisasi. Walau terdapat Surat Pembaca, hampir mustahil menerbitkan edisi berikut dalam waktu dekat.

Dan saya mengambil keputusan. Jadwal percetakan SKK Warta UI tak lama setelah Suara Mahasiswa beredar. Pun tanggungjawab sebagai senior KSM UI dan Suara Mahasiswa UI. Hasil pooling KSM UI itu saya muat sehalaman penuh. Tanpa analisa. Pun tanpa pembelaan. Saya tidak mengerti dengan metodologi kuantitatif. Mata kuliah itu tak terdapat secara khusus dalam kurikulum Ilmu Sejarah. Laporan terpampang apa adanya. Sempat saya ditegur oleh petinggi kampus. Namun, karena sudah lima tahun berhubungan dengan Rektorat UI, teguran itu saya abaikan. Sejumlah media nasional mengutip laporan itu untuk redaksional masing-masing.

Walau dijadikan sebagai SKK, Warta UI tak mendapatkan subsidi keuangan yang cukup. Pun saya tak mendapatkan gaji. Upaya menerbitkan serial fakultas setiap edisi lebih dipicu oleh strategi mendapatkan biaya percetakan dari pos anggaran ulang tahun fakultas yang berada dalam laporan utama. Saya berkesempatan mewawancara sejumlah dekan fakultas yang ulang tahun. Istilah-istilah medis pun muncul, misalnya, ketika saya mewawancarai Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan.

Saya “bekerja” dalam SKK Warta UI lebih sebagai upaya “manjawek tanyo” setiap surat yang dikirimkan ayah saya. Ya, klise, yakni tentang apa pekerjaan saya setelah menyelesaikan kuliah dan lulus dari UI pada Agustus 1997. Bagaimana mau bekerja, sementara badai krisis mulai berhembus pada Juli 1997 dari arah Bangkok?

Terus terang, lewat fasilitas komputer dan printer Warta UI, saya bisa menulis hingga 19 lamaran kerja. Hampir semua saya kirimkan ke arah pekerjaan jurnalistik. Cita-cita saya kala itu adalah menjadi seorang jurnalis. Alhamdulillah, seluruhnya ditolak atau tidak ada jawaban. Yang saya baca sebaliknya, pengurangan karyawan media. Jumlah halaman koranpun berkurang sebaga bentuk penghematan.

Diluar itu, saya mengirimkan surat kepada ayah bukan lagi dengan tulisan tangan, tapi lembaran print out. Pilihan huruf menjadi beragam. Saya begitu bebas bercerita kepada ayah tentang apapun, dalam berlembar-lembar surat.

Walau sering berlama-lama menanti lembaran yang sudah selesai tahap lay out masuk mesin cetak, saya tidak berputus asa. Dalam saat-saat seperti itulah ketelitian muncul. Hasil print out bisa dicoret lagi dengan pulpen, lalu diperbaiki lagi di komputer. Bayangkan kalau uang untuk percetakan itu bisa datang lebih dari sebulan. Bisa dua hingga tiga kali saya mengganti berita yang dimunculkan. Tentu yang paling menyesakkan adalah berita-berita basi ikut tercetak, saking lamanya menunggu.

Saya menyerah ketika tidak ada lagi belas kasihan dari kabut krisis. Bahkan uang untuk membeli tinta printer pun tidak ada. Saya tutup buku, pamit dari lantai tujuh Rektorat UI. Tak ada surat yang saya layangkan untuk si baju merah yang menurut cerita sering berada di dekat lift. Hampir setahun berteman sepi dan gelap malam, tak pernah si merah datang mengajak kencan.

Terlepas dari pengalaman bercahaya itu, saya tentu memiliki jaringan yang luas antar kampus. Saya sering wawancara petinggi-petinggi kampus dari berbagai fakultas. Pun disertai perasaan kecut, berapa hasil wawancara panjang itu tak bakal bisa dibaca publik kampus dalam bentuk kertas koran.

Kini? Saya tidak tahu bagaimana nasib SKK Warta UI.

Apakabar surat kabar kampus di Indonesia? Jumlah peserta didik dan jejaring alumni kian tebal. Tetapi hampir tak ada yang berjibaku dengan serius dalam menyambung lidah dan ludah antar civitas akademika. Padahal, hubungan antar alumni dengan kampus masing-masing terbilang paling intim dan tulus. Ikatan intelektual sesama civitas akademika bisa jadi lebih kuat dibandingkan dengan ikatan sesama aktivis partai politik atau organisasi ekstra kampus. Grup-grup perkawanan antar nomor smartphone yang berbendera kampus menjadi begitu dominan.

Dalam era krisis komunikasi publik dewasa ini, akibat cengkeraman print capitalism tinimbang print nationalism, persurat-kabaran yang berbendera kampus bisa jadi alternatif strategis dalam berkomunikasi. Riak-riak dan ruap-ruap politik yang justru bikin hambar hubungan sesama insan cendekia, bakal bisa disterilkan dengan bertukar-berita ilmu pengetahuan yang dipancurkan dari mata-air almamater. Siapapun yang pernah belajar di kampus tentu ingin tahu perkembangan dari bidang studi yang mengerutkan dahi. Hampir tak ada alumni kampus yang menutup diri dari almamaternya.

Nah, andai Andre Rahadian, lelaki kelahiran Jakarta pada 24 Januari 1973, mau menambah lagi satu program kerja dalam paparan pencalonannya sebagai Ketua ILUNI UI. Atau cukup disisipkan dalam bagian penjelasan Temu Gagasan yang ia sudah canangkan. Saya pastikan berlangganan SKK Warta UI itu. Biar para jurnalis di balik penyiapannya tak merasa kesepian, justru di tengah pusaran arus center of excellence.

Jakarta, 15 Agustus 2019

 

INDRA J. PILIANG

Alumnus Universitas Indonesia dan Redaktur Pelaksana Surat Kabar Kampus “Warta UI” saat kuliah

author