Sinopsis Film “Bohemian Rhapsody”: Kilau Freddie, Pesona Queen

 

Tak terasa sudah 27 tahun grup musik legendaris genre pop rock Queen meninggalkan panggung. Tiada lagi suara khas itu, tak ada lagi inovasi nada lintas genre. Suasana mendadak kembali sunyi sepi, yang tampil kembali saat ini hanyalah catatan kaki serpihan-serpihan jenial Queen. Serpihan yang mengingatkan kembali generasi dekade ’70-an-’90-an, bahwa musik adalah bahasa universal umat manusia.

Freddie dilahirkan dari keluarga etnik Parsi, sebuah etnik yang lari dari Persia ke Gujarat India, lalu keluarga ini berpindah ke Zanzibar, dan akibat revolusi Zanzibar, mereka lalu pindah ke negeri Ratu Elizabeth. Di negeri ini pun, keluarga Parsi ini harus banting tulang mengais rejeki demi sesuap gandum. Freddie yang terlahir dengan nama Farrukh Bulsara adalah sulung keluarga ini. Adiknya, Kashmira, selalu menggoda tampilan unik sang kakak.

Usai menamatkan kuliahnya di jurusan seni dan desain University of West London, ia bertemu Brian May dan Roger Taylor dari grup musik ‘Smile’. Mereka biasa manggung di pub dan sejak Freddie gabung, grup ini sudah tampak punya corak unik. Tak seberapa lama, sang basis John Deacon, ikut gabung. Formasi band ini mengalami pasang-surut di tengah persaingan karya-karya ”British Music” sepanjang dekade ’70an.

Walau bergigi tonggos, Freddie tak pernah patah semangat. Diejek siapapun, ia tak hirau. Baginya, gigi tonggos adalah berkah untuk lengkingan suara yang khas, karena selalu ada ruang di rongga mulut untuk tarikan sekaligus hembusan napas panjang. Freddie menganggap itu adalah anugerah gigi tonggos. Pelan namun pasti, aura vokalis gigi tonggos ini naik di blantika musik rock. Warna dasar bermusik yang lekat pada keseharian mereka sejak remaja.

Personil Queen adalah inovator. Bagi mereka, inovasi merupakan kunci penting yang membedakan karya mereka dari grup-grup band lain. Terutama Freddie, ia tak pernah mau mengulangi nada yang sama dari lagu sebelumnya, untuk lagu baru. Ia memang kreator ulung. Piano adalah alat musik yang lekat padanya sejak ia masih amat belia dalam keseharian di Gujarat. Sebagai pianis, ia selalu menemukan nada-nada inovatif untuk lagu baru.

Kehebatan mengolah nada ini membuat Queen berani melintas genre. Itu tampak pada saat Freddie menyodorkan tembang ‘Bohemian Rhapsody’ sepanjang enam menit dengan intro gaya opera kepada produser EMI Records, Ray Foster. Ini kesalahan fatal Ray yang tak melihat prospek lagu unik bin ajaib, bahkan Ray dengan setengah mengolok mengatakan ”Apa itu Ishmilah?”, yang spontan dijawab Freddie ”Bismillah”. Dari dialog panas lawan Ray ini, para personil Queen akhirnya memutuskan mending hengkang ketimbang meladeni Ray.

Tak seberapa lama, ”Bohemian Rhapsody” mengudara lewat Capital Radio milik DJ Kenny Everett. Publik pun menyambut antusias tembang unik ini. Dan lagu ini pada akhirnya menjadi penanda Queen di seantero jagat musik. Film pun ditutup dengan kesuksesan Queen menggalang dana bersama artis-artis top lain, untuk mengatasi kelaparan di Afrika. Queen tampil tak dibayar, dan seluruh pemasukan dari aksi penggalangan dana ini seluruhnya disumbangkan kepada lembaga-lembaga dunia yang mengatasi kemiskinan Afrika.

Film ini memang luar biasa. Bukan saja mengembalikan kenangan pada kuartet maestro pop rock paling sohor sejagat, namun yang terpenting adalah tak ada rasa bosen melihat aksi panggung Freddie yang berkilau, dipadu pesona Queen yang tak lekang dimakan zaman.

 

ROSDIANSYAH

Penikmat tembang-tembang Queen dan kolektor buku, tinggal di Surabaya

author