Siapa Dibalik Fitnah Terhadap Habib Rizieq dan Firza Husein? (2 dari 3)

ilustrasi (foto: istimewa)

ilustrasi (foto: istimewa)

Jika klaim bahwa Mr X adalah anonymous adalah semata-mata untuk menghasut dan menjebak masyarakat. Pengatasnamaan anonymous dalam kesesatpikiran argumentum auctoritatis, akan menggiring setiap pendengar dan pembaca fitnah itu menganggapnya sebagai hal yang benar tanpa harus diuji kebenarannya, atas dasar nama besar kelompok hacker ternama anonymous. Ini jelas sangat berbahaya, apalagi yang disasar adalah seorang ulama besar dan telah diangkat sebagai Imam Besar umat Islam belakangan ini.
Konten: Asli Atau Palsu?
Di web B, Mr X menyertakan capture obrolan via Whatsapp (yang katanya) antara habib Rizieq dan Firza Husein. Sebenarnya, capture obrolan Whatsapp asli hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya otoritas (penguasaan) terhadap suatu nomor Whatsapp yang terdaftar. Kenapa? Mari simak.
Whatsapp menerapkan signal protocol dengan enkripsi AES (Advanced Encryption Standard) 256bit dalam mode CBC. Enkripsi yang bersifat ujung-ke-ujung (end-to-end) ini menjadikan sebuah pesan Whatsapp hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerima. Message key (kunci enkripsi) tidak pernah disimpan dan selalu berubah. Jadi kalaupun ada yang bisa intercept (mencegah; menyadap) data di tengah jalan, data tidak akan bermakna apa-apa, tidak bermanfaat dan tidak bisa dimengerti.
 
Sebuah sesi obrolan (session) Whatsapp akan berakhir jika ada perubahan perangkat. Sebagai bukti, silakan coba: misal ada dua smartphone, sebutlah hp X dan hp Z, dengan Whatsapp bernomor 08131313 ter-install di hp X, setelah itu install aplikasi Whatsapp dengan nomor sama ke hp Z. Maka jika konfirmasi berhasil, sesi yang ada di hp X akan hangus, dan terbentuk sesi baru di hp Z. Dengan kata lain, semua Whatsapp chat yang tertuju ke nomor 08131313 akan hanya diterima di hp Z, dan aplikasi Whatsapp di hp X tidak bisa digunakan sampai ada otorisasi baru. Artinya, satu nomor Whatsapp tidak bisa dipakai oleh dua smartphone secara bersamaan. Berbeda dengan Whatsapp Web yang menggunakan ekstensi sesi, bukan pembaharuan sesi.
 
Penyadapan komunikasi Whatsapp hanya bisa melalui malware (bukan dengan intercept). Cara ini menguras banyak sumber daya memori, grafis dan koneksi data di perangkat target, sehingga membuat perangkat menjadi “lemot” yang pada akhirnya hanya akan memunculkan kecurigaan dan kewaspadaan si target.
 
Simpulan dari penjelasan di atas adalah pertama, sistem keamanan Whatsapp tidak memungkinkan adanya penyadapan, baik oleh kriminal, kepolisian maupun pihak Whatsapp sendiri; kedua, Whatsapp tidak bisa di-cloning; ketiga, jikapun ada yang bisa intercept komunikasi Whatsapp, hanya akan mendapatkan data yang tak bernilai, karena tidak mempunyai kunci untuk dekrip (membongkar) data.
 
Jadi, misal Mr X benar-benar mendapat data obrolan melalui upaya hacking, mestinya data yang disajikan di web B adalah data teks, bukan berupa capture gambar. Capture dengan cara screenshot asli hanya dimungkinkan diambil dari sisi pengguna sesungguhnya, bukan dari penyadapan atau peretasan (hacking)!
 
Lalu bagaimana bisa web B menyertakan capture obrolan Whatsapp antara (yang katanya) Habib Rizieq dengan Firza Husein? Aslikah? Dalam obrolan whatsapp, bubble (kotak berisi teks chat) berwarna hijau adalah teks terkirim, sedangkan bubble berwarna putih adalah teks masuk dari lawan obrol. Jadi, capture obrolan yang ditampilkan web B adalah dari sisi (yang seolah) tampilan hp Firza Husein.
 
Andai capture tersebut asli, maka muncul dugaan yang perlu diuji lagi yaitu pertama, Mr X  atau si anonymous abal-abal ini menghubungi Firza Husein dan meminta data capture-nya lalu dengan polosnya Firza Husein menyerahkannya. Rasanya tidak mungkin seseorang memberikan sesuatu yang bersifat rahasia ke orang yang tidak dikenal, apalagi untuk menjatuhkan harga dirinya sendiri. Oke, dugaan kedua, sebaliknya, Firza Husein sendiri yang menghubungi Mr X dan membocorkan capture obrolannya. Ini artinya Firza mencari kontak seorang hacker yang tidak jelas identitasnya? Waduh, lebih impossible!
 
Jadi, sampai di sini, sudah terbaca kan kalau capture obrolan di web B itu palsu? Mari kita gali lagi. Sebenarnya ada sekian cara untuk membuat capture palsu Whatsapp seperti itu. Bisa dengan metode rekayasa desain grafis, namun cara ini butuh skill, ketelitian dan kesabaran ekstra. Selain itu bisa dengan menggunakan dua smartphone dengan masing-masing ter-install Whatsapp, lalu simpan nomor Whatsapp milik smartphone kedua di kontak smartphone pertama dengan nama yang dikehendaki. Agak ribet memang. Alternatif paling mudah, dengan menggunakan aplikasi generator capture palsu. Banyak aplikasi semacam ini, ketik saja fake whatsapp di Playstore maupun di App Store. Kelebihannya, mudah dan murah. Siapa pun bisa membuat capture palsu obrolan Whatsapp model ini.
 
Pada kasus ini, capture obrolan di web B diambil dengan tampilan seolah dengan cara screenshot. Sedangkan capture tampilan profil diambil dengan cara memotret handphone lain, nampak dari resolusi yang lebih pecah, gambar yang miring, crop (potongan) yang tidak rapi, dan brightness lebih redup. Selain metode capture yang berbeda tersebut, ini juga menunjukkan bahwa capture gambar diambil dari perangkat yang berbeda.
 
Selain itu, dari beberapa foto telanjang (yang katanya) Firza Husein di web B, tidak ada satupun yang embedded (menyatu) di layar obrolan. Semuanya adalah gambar terpisah. Hanya ada satu gambar embedded yaitu foto (yang katanya) Firza bersama seorang anak kecil.
 
Di samping capture Whatsapp palsu, di bagian akhir web B, Mr X juga menyertakan dua foto yang “sama tapi beda”, yang justru membongkar dusta Mr X sendiri. Foto pertama dengan caption “Foto Bersama Aktivis” dan foto kedua ber-caption “Selalu nempeeel….”. Mr X menyunting foto menjadi tampak Firza Husein ada di sebelah Habib Rizieq dengan posisi nempel. Bagaimana kita tahu kalau itu foto yang sudah disunting? Mudah saja. Kedua foto tersebut sebenarnya diambil di tempat dan momen yang sama. Foto yang asli adalah foto pertama, dimana Rachmawati Soekarnoputri-lah yang ada di samping Habib Rizieq. Antara dua foto itu, pose orang-orang di dalamnya relatif tidak ada perubahan, karena diambil dengan continuous shot yang jarak waktu ambil antar foto hanya sepersekian detik. Jadi, dengan waktu yang sesingkat itu, mustahil Firza Husein bertukar posisi dengan Rachmawati. Kejanggalan lain, gambar bu Firza di foto kedua lebih blur terutama bagian tepi. Aslinya, kursi yang digunakan adalah kursi kayu dengan busa. Mr X kurang teliti hingga setelah mengganti foto Rachmawati dengan Firza, dia lupa menambal sisi belakang Firza dengan tekstur busa kursi. Terasa sekali hasil editing.
 
Kemudian soal video. Video yang disertakan sebenarnya bukan benar-benar video dalam artian rekaman gambar gerak, melainkan hanya kumpulan foto yang diberi komentar, serta ada rekaman curhat (yang katanya) suara Firza via telepon beserta transkripnya. Yang aneh, bukan seperti pembicaraan telepon, ini malah berupa monolog. Jika kita cek dan bandingkan dengan rekaman sadapan pembicaraan telepon pada umumnya, pasti ada suara dari dua pihak yang terekam. Sedangkan di rekaman (yang katanya) Firza itu, selama hampir empat menit tidak ada feedback sepatah kata pun dari lawan bicara dan tidak ada jeda hingga akhir. Nampak jelas rekayasanya.

SAIF AL-QUDSY

Penikmat Isu Teknologi dan Peretasan, Tinggal di Surabaya

author