Setelah 30 Tahun, Perbatasan Irak-Saudi Dibuka

16
ilustrasi. (foto: istimewa)

 

Hari Rabu, 18 November 2020, Irak dan Arab Saudi sepakat untuk membuka kembali perbatasan antara kedua negara di dekat Kota Arar untuk kepentingan perdagangan.

Kota Arar terletak di Arab Saudi Utara di dekat perbatasan Irak. Kota ini dikenal karena tanah padang rumputnya yang subur dan cocok untuk menggembalakan domba serta unta.

Stasiun televisi Al-Jazeera adalah salah satu televisi yang melaporkan peristiwa bersejarah tersebut sebelum resmi dibuka. Diberitakan, kendaraan kargo sudah mengantri sejak pagi hari. Pintu perbatasan Arar itu dapat dilalui oleh barang maupun orang menuju kedua negara.

Al-Jazeera adalah stasiun televisi berbahasa Arab dan Inggris yang berbasis di Doha, Qatar. Stasiun TV ini menjadi populer setelah serangan 11 September 2001, ketika menyiarkan rekaman pernyataan Osama bin Laden dan pimpinan al-Qaeda lainnya.

Pembukaan perbatasan Arar antara Arab Saudi dan Irak dihadiri Menteri Dalam Negeri Irak dan Duta Besar Arab Saudi untuk Irak. Sedangkan pembukaan pintu perbatasan bagian Arab Saudi dihadiri oleh delegasi dari Riyadh.

Dibukanya kembali perbatasan menunjukkan perbaikan hubungan antara Arab Saudi dan Irak setelan 30 tahun.

Sebelumnya, perbatasan kedua negara ditutup sejak tahun 1990, menyusul pengklaiman Presiden Irak, Saddam Hussein atas Kuwait setelah menginvasinya dan menjadikan Kuwait sebagai Provinsi Irak ke-19.

Kuwait merupakan negara monarki yang kaya minyak di pesisir Teluk Persia, Timur Tengah. Negara ini berbatasan dengan Arab Saudi di sebelah selatan dan Irak di utara.

Alasan Presiden Irak Saddam Hussein menginvasi tetangganya Kuwait, karena negara terangganya tersebut sering mencuri minyak Irak. Sudah tentu tuduhan Irak tersebut dibantah Kuwait.

Akhirnya pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya berhasil mengusir pasukan Irak dari Kuwait. Itu juga awal konflik antara Irak dan AS, karena ketika Perang Irak-Iran yang berlangsung selama delapan tahun, AS membantu peralatan militer Irak.

Irak dan Iran memulai perang pada 22 September 1989. Perang yang berlangsung dari tahun 1980-1988 itu menjadi perang terpanjang di Abad 20. Dibanding Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945).

Delapan tahun merupakan waktu yang lama. Tetapi dalam masalah Kuwait, AS lebih memilih mendukung Kuwait dari pada Irak. Itulah konflik pertama antara Irak dan AS.

Jika kemudian AS menuduh Presiden Saddam Hussein memiliki senjata kimia atau pemusnah massal, hal ini dikarenakan AS mengetahui betul jenis senjata yang pernah dikirimkannya ke Irak.

Ini menjadi dalih AS dan sekutunya meng-invasi Irak, karena sewaktu membantu Irak dalam Perang Irak-Iran, AS memang mengirim senjata ke Irak.

Senjata pembunuh massal itu diberitakan tidak pernah ditemukan, meski Irak sudah hancur lebur dan Presiden Irak Saddam Hussein sudah tewas di tiang gantungan. Berita ini memang sengaja diciptakan, karena jika senjata pembunuh massal itu memang ada, maka AS dan sekutunya bertanggung jawab atas korban yang jatuh di Iran, karena waktu itu, AS membantu peralatan perang Irak.

Sudah tentu penemuan senjata pemusnah massal akan menyeret AS dan sekutunya ke Mahkamah Internasional. Menurut informasi, senjata pemusnah massal itu telah ditemukan dan dimusnahkan atau memang dipindahkan ke sebuah tempat yang diragasiakan. Inilah informasi yang saya terima ketika berkunjung ke Irak untuk kedua kalinya, di bulan September 2014.

Pembukaan perbatasan Irak-Arab Saudi tersebut sudah tentu disambut gembira oleh rakyat kedua negara, karena rakyat Irak yang paling menderita atas konflik berkepanjangan di Irak. Dimulai dari embargo ekonomi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pembatasan jalur udara Irak hingga invasi AS di Irak dan banyaknya jumlah korban berjatuhan semasa berdirinya Negara Islam di Irak.

Buat penduduk muslim Sunni di Irak, pun sudah bisa melaksanakan haji ke Mekkah melalui perbatasan.

 

DASMAN DJAMALUDDIN

Sejarawan dan Wartawan Senior