Seorang Sejarawan Memang Harus Demikian

9956 views

Dasman Djamaluddin

Saya sedikit kaget ketika sejarawan Asvi Warman Adam menjawab kiriman saya dan mempertanyakan isi tulisan Pak Anton di blognya yang saya kirimkan ke whatsapp (WA) beliau.

“Kapan Soekarno meratap minta ampun. Khan itu sdh diperdebatkan tempo hari. Arsip yg ada di negeri Bld ttg kasus ini tdk asli tp salinan. Itu bisa berarti disengaja intel Bld sbg black campaign.”

Sebagai seorang ilmuwan di bidang Ilmu Sejarah, sangatlah wajar beliau berbuat demikian. Seorang ilmuwan atau cendekiawan itu harus “berumah di angin,” tidak mau terikat oleh suatu sistem yang menghalangi kebebasannya.

“Ia harus bebas pula dari ikatan bathin sehingga konsekuen menurut keyakinan intelektualnya dan jangan terjadi sebagaimana Julien Benda katakan sebagai ‘pengkhianatan kaum cendekiawan…,” ujar WS Rendra ketika memperoleh gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Gajahmada, Yogyakarta.

Asvi yang lulusan doktor dan peneliti di LIPI itu pernah menulis di harian KOMPAS edisi 15 November 1997, antara lain ia mengatakan: “Penguasaan terhadap masa lalu dapat membantu mengontrol masa sekarang. Masa lampau dikontrol bukan demi kelampauannya, melainkan dalam rangka mengendalikan masa kini.”

Jadi sejarah jangan dilihat semata-mata dilihat dari kelampauannya. Seseorang yang memahami sejarah, mampu belajar dari sejarah itu sendiri, sehingga apa yang dilakukannya di masa sekarang atau di masa-masa mendatang bisa lebih baik lagi.

Tetapi, tulis Asvi, pengendalian sejarah tergantung kepada “dapur,” tempat sejarah itu diolah: siapa sejarawannya dan di lembaga mana dia bekerja. Makin independen lembaga atau pribadi yang menulis, makin otonomi hasil karyanya.

Dr Alfian, yang telah meninggal dunia, salah seorang sejarawan yang terkenal di masanya, di dalam sebuah pengantar buku “Meluruskan Sejarah” karya BM Diah, mengatakan bahwa sesuai dengan tuntutan profesi keilmuannya, para ahli tentu berusaha keras untuk bersikap objektif dalam menulis karyanya. Sungguh pun begitu, ujarnya, jauh di lubuk hati dan alam pikirannya, mereka mengetahui betul bahwa adalah mustahil bagi siapa saja, betapa pun pintar dan ahlinya, untuk menghasilkan tulisan sejarah yang dapat dikatakan betul-betul objektif dan sempurna.

Jadi tulisan sejarah dapat dikatakan, ditinjau dari segi mutu dan sebagainya, lebih objektif dan lebih sempurna dari karya lainnya, tetapi tulisan tersebut tidaklah dikatakan sebagai sesuatu yang final atau sebuah karya tanpa kelemahan dan kekurangan sama sekali. Di samping banyak tulusan sejarah yang buruk dan tidak bermutu, biasanya ada sejumlah karya yang dinilai baik dan berkualitas.

Bagaimana pun juga, tegas Alfian, para ahli sejarah sendirilah yang pertama-tama mengakui bahwa tidak ada tulisan sejarah yang betul-betul sempurna, dan juga betul-betul lurus.

“Itulah antara lain sebabnya mengapa sejarah merupakan salah satu bidang studi yang bagaikan sumur penelitian yang tak pernah kering atau lahan pengkajian yang tak pernah habis. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, berbagai ahli datang menimba atau menggarapnya, dan dari situ lahir karya-karya sejarah baru, memperkaya khasanah yang sudah ada dan terus membesar,” jelas Dr Alfian.

Itu pula sebabnya BM Diah bersedia membantu mengetikkan surat saya untuk ke Moskow dan Irak pada bulan Desember 1992. Ia ingin sekali memperoleh informasi pertama dan akurat tentang situasi dan kondisi negara tersebut. Bahkan bisa dikatakan, informasi dari Dunia Barat dianggap tidak objektif, karena bangsa mereka yang langsung terlibat di dalamnya.

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, sejarawan dan penulis senior

author