Sejumlah Proyek Meubelair Kemenag Diduga Bermasalah, CBA Desak KPK Bertindak

ilustrasi. (foto: istimewa)

 

 

JAKARTA – Jajang Nurjaman selaku Kordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA) menduga kuat bahwa proyek pengadaan meubelair Kementerian Agama (Kemenag) menjadi lahan basah untuk “embat” uang negara. Jajang menyatakan bahwa CBA menemukan tren menghawatirkan yang terjadi di tubuh Kemenag.

“Tiap akhir tahun terdapat belanja barang meubelair dan setelah didalami proyek-proyek tersebut ternyata bermasalah,” ujar Jajang Nurjaman kepada redaksi cakrawarta.com, Senin (4/3/2019) pagi.

Untuk membuktikan dugaannya tersebut, Jajang memberikan contoh beberapa proyek meubelair yang diduga bermasah tersebut. Pertama, pekerjaan pengadaan meubelair untuk Gedung Dosen IAIN Jember yang dikerjakan oleh CV. Tata Dimensi dengan nilai kontrak sebesar Rp 220 juta. Permasalahan yang ditemukan, terdapat beberapa item barang yang tidak dikerjakan oleh CV Tata Dimensi. Meskipun begitu, Kemenag tetap membayar penuh. Iitem yang dimaksud berupa meja untuk dekan, pemadam api, kursi, meja rapat, kursi putar, serta kursi diskusi.

Begitupun dengan pengadaan meubelair untuk Gedung Kuliah di kampus IAIN Jember dengan nilai proyek sebesar Rp 1,9 miliar, dikerjakan oleh CV Rindang Khatulistiwa. Dalam proyek ini masih ditemukan kasus yang sama yakni kekurangan barang, namun pihak Kemenag tetap membayar penuh kepada CV Rindang Khatulistiwa.

Kedua, proyek pengadaan meubelair di Asrama Haji Palangkaraya senilai Rp 1,1 miliar yang juga bermasalah. Persoalan yang ditemukan, meja resepsionis serta back drop resepsionis yang dipasang oleh pemenang proyek yakni CV El Pratama Mandiri tidak sesuai dengan perjanjian kontrak alias kekurangan volume.

Ketiga, pengadaan meubelair di Embarkasi Haji Banjarmasin. Proyek ini sendiri dimenangkan oleh CV Chaya Borneo dengan nilai kontrak sebesar Rp 2,2 miliar. Dalam proyek ini, ditemukan harga barang yang tidak sesuai standar pasar berupa televisi dan safety box.

Terakhir, proyek pengadaan meubelair di gedung AsramaHaji Gorontalo yang dikerjakan oleh CB Seven Golden Brick senilai Rp 2,4 miliar. Permasalahan yang ditemukan dalam proyek ini berupa kekurangan volume barang berupa sofa hotel, dimana dalam perjanjian kontrak harusnya ada 6 set namun yang ada hanya 3 set saja.

Menurut Jajang, dari data yang dimiliki CBA, pihaknya menduga kuat proyek pengadaan meubelair di Kemenag banyak dimainkan oleh oknum-oknum pejabat Kemenag. Karenanya, pihak CBA menyarankan agar proyek-proyek bermasalah seperti ini tidak boleh dibiarkan, mengingat proyek pengadaan meubelair merupakan proyek yang selalu ada setiap tahun anggarannya.

“Karenanya, kami mendorong pihak berwenang khususnya KPK, untuk segera menyelidiki kasus ini,” tandas Jajang.

(bm/bti)

author