Sang Penyelamat Republik

78

 

Gaius Julius Caesar, sang legenda, seorang Jendral Perang, yang kemudian menjadi Konsul – jabatan politik tertinggi di Republik Romawi. Tak lama kemudian, saat Republik Romawi berada di ujung kehancuran, ekonomi yang terpuruk, defisit, dan korupsi yang menjadi-jadi, dia dipilih oleh para Senator untuk menjadi Diktator, Sang Penyelamat Republik – yang titahnya di atas semua peraturan hukum dalam Republik Romawi saat itu – selama 10 tahun.

Sang Bapak Infrastruktur Romawi pada zamannya, yang membangun infrastruktur sangat masif Republik Romawi, mulai aquaduc, sistem irigasi, sampai bangunan-bangunan kota Roma, dan jalan-jalan dari dan menuju Roma. Pekerjaan yang masif ini menyerap banyak tenaga kerja Warga Negara Romawi, dan selanjutnya menggerakkan perekenomian Republik Romawi dengan baik. Sistem penanggalan pun ditertibkan, agar pencatatan administrasi keuangan Republik juga jadi rapih dan terkontrol.

Selama tahun-tahun pertama menjadi Diktator ini pula, Caesar dielu-elukan oleh rakyat Romawi. Ya, karena berbeda dibandingkan para politisi pada era tersebut maupun sebelumnya, Caesar, justru lebih mengedepankan kepentingan rakyat banyak, daripada elit kelas ekonomi atas, termasuk para Senator yang telah mengangkatnya menjadi Diktator untuk periode 10 tahun itu.

Namun, semuanya tampak berubah pasca kelahiran putranya Cesarion, buah cintanya dengan Cleopatra, Sang Ratu Jelita Penuh Pesona dari Kerajaan Mesir – yang sebelum naik tahta menjadi Ratu, dia bantu untuk menaklukkan adik kandungnya sendiri yang menjadi Raja Mesir yang berkuasa saat itu.

Ya, Julius Caesar, ingin mewariskan jabatannya sebagai Diktator kepada anaknya, dan ingin agar jabatannya sebagai Diktator tidak dibatasi hanya 10 tahun, tapi seumur hidup. Tak lama kemudian, Senat pun akhirnya manut memenuhi keinginannya untuk mengangkatnya sebagai Diktator seumur hidup.

Lalu, semuanya mulai berubah.

Caesar yang dulunya merakyat, harapan rakyat, tampak berubah. Kekuasaan dan ambisi kekuasaan mengubahnya. Pembangunan infrastruktur kota Roma masih tetap masif, tapi lebih menjadi sarana pemujaan terhadapnya, setidaknya dari lebih banyaknya pembangunan patung atau monumen dirinya daripada infrastruktur yang benar-benar berguna dan dibutuhkan rakyat Romawi saat itu.

Republik Romawi pun mengalami titik dan gejala salah urus. Defisit pun mulai terasa, pajak-pajak pun terasa membebani rakyat – yang kehidupan perekonomiannya begitu-begitu saja. Protes massa merebak, yang pada era itu ditandai dengan corat-coret di dinding-dinding bangunan, hampir ada di setiap sudut kota.

Dalam situasi tersebut, Marcus Junius Brutus, putra angkatnya, yang sejak kecil dibesarkan dan dididiknya dengan nilai-nilai keutamaan republikan – Pemerintahan untuk rakyat, merasa terganggu, tidak nyaman dengan perubahan karakter kekuasaan ayah angkatnya.

Brutus bersama para Senator yang telah mengangkat ayah angkatnya menjadi Diktator seumur hidup itu ingin menjadi Sang Penyelamat Republik. Ya, menurut Brutus, Republik Romawi harus diselamatkan, meskipun dengan harga sangat mahal untuk ditebus, nyawa ayah angkat yang telah membesarkan dan mendidiknya penuh kasih sejak kecil, Gaius Jules Caesar.

Selanjutnya, sang Diktator ini pun mati di tangan sabetan dan tusukan pisau dan pedang para Senator yang telah mengangkatnya dan diakhiri dengan tusukan dalam pelukan anak angkatnya, Brutus.

Namun, akhirnya sejarah justru mencatat Marcus Junius Brutus, Sang Penyelamat Republik – yang telah membunuh ayah angkatnya itu, sebagai pecundang dan simbol tokoh pengkhianat sampai hari ini – hidup dalam kenistaan hingga akhir hayatnya, bahkan pasca kematian ayah angkatnya, Republik Romawi akhirnya runtuh dan berganti dengan Kekaisaran.

 

Dr. MAHMUD SYALTOUT, S.H., DEA.

Dosen FISIP Universitas Indonesia