Rizal Ramli: Buzzer Bikin Politik Bising!

898 views

 

Rizal Ramli tengah menyampaikan materi di Aula Universitas Pasundan, Bandung, Jumat (31/8/2018).

 

BANDUNG – Ekonom kebangsaan yang sekaligus mantan Menko di Kabinet Kerja, Dr. Rizal Ramli, menyapa sekitar 700 mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pasundan (Unpas) pada Jumat (31/8/2018).

Pada acara yang dihadiri Dekan FEB Unpas Dr. Atang Hermawan, SE, MSIE, Ak. itu, Rizal Ramli menyampaikan materi tentang ‘Profesionalisme, Peluang dan Tantangan dalam Menghadapi Permasalahan Ekonomi Indonesia’.

Di awal materinya, RR begitu ia akrab disapa, mengaku kagum dengan perkembangan kampus Unpas, dibanding ketika dia kuliah di ITB dulu tahun 1977, Unpas masih sedikit mahasiswanya, sekarang jumlah mahasiswanya mengalahkan ITB dan Unpad, dengan beberapa kampus yg terpisah di beberapa tempat.

Di samping memuji, RR juga menyayangkan perhatian pemerintah terhadap pendidikan. Walaupun kenyataannya ada alokasi 20% anggaran untuk pendidikan dari APBN atau sekitar 440 triliun rupiah, tetapi menurutnya tidak memperlihatkan hasil signifikan.

“Kenapa saya bilang hasilnya tidak terlihat. Coba kita lihat rating perguruan tinggi kita masih di level 62 dari 72 negara. Sementara Vietnam yang negara hancur karena perang sudah berada di level 8,” ujar RR dengan nada prihatin.

Tetapi RR justru mengakui bahwasanya, pemuda-pemudi Indonesia cerdas cerdas.

“Pemuda Indonesia jika sekolah di luar negeri banyak yang suma cumlaude. Namun di Indonesia sendiri pendidikan tetap tertinggal karena tidak dibiasakan untuk berkompetisi,” tegasnya.

Menurut RR, ada strategi menarik dimana pemerintah menurutnya harus menyediakan sebanyak 20 triliun rupiah untuk melakukan berbagai kompetisi anak muda baik di tingkat kabupaten kota, provinsi maupun nasional, untuk berbagai disiplin ilmu dan hobi. Nantinya, menurut RR, pemenang disediakan hadiah beasiswa.

“Jika bisa dilakukan, hal ini akan memacu para pelajar dan mahasiswa untuk berkompetisi. Budaya kompetisi ini akan melahirkan keunggulan dan disiplin,” paparnya.

Disamping itu, dalam kesempatan tersebut, RR juga menyampaikan bahwa baik di sektor pendidikan, sosial dan politik, harus sama-sama ditanamkan budaya kompetisi secara teratur dan baik.

“Tidak seperti sekarang, dimana di politik banyak noise atau kebisingannya pasangan calon yang menyewa buzzer sehingga yang terjadi hanya caci maki, saling menjatuhkan dan menjelekan lawan,” imbuhnya.

Seharusnya, menurut RR, yang terjadi adalah kompetisi dalam gagasan dan konsep tentang apa dan bagaimana mengatasi persoalan bangsa.

“Jadi rakyat disajikan musik yang indah dalam berkompetisi secara sehat. Ada edukasi. Akhirnya nanti akan mampu memunculkan pemimpin dalam proses pemilu, bukan malah kebisingan seperti sekarang,” tandasnya.

(ss/bti)

author