Respon Anjloknya Harga, Anggota Dewan PKS Gelar Sarasehan dan Aksi Beli Buah Naga

Anggota DPRD Jatim dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Irwan Setiawan (tengah, kopiah hitam) membeli 3.600 kilogram buah naga milik Petani Banyuwangi dalam Sarasehan “Menuju Petani Sejahtera” di Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Minggu (3/2/2019).

 

BANYUWANGI – Irwan Setiawan, Anggota DPRD Jawa Timur (Jatim) menggelar Sarasehan “Menuju Petani Sejahtera”. Sarasehan ini digelar untuk merespon anjloknya harga produksi buah naga di Banyuwangi. Sebelumnya Irwan juga telah melakukan kunjungan ke daerah sentra buah naga di Banyuwangi Selatan.

Dalam sarasehan ini, anggota DPRD Jatim dari Fraksi PKS tersebut menjelaskan bahwa Pemprov telah memiliki payung hukum berupa Perda untuk melindungi dan memberdayakan petani, yaitu Perda Nomor 5 tahun 2015 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

“Perlindungan dan Pemberdayaan Petani tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, meningkatkan produktifitas usaha tani dan memberdayakan petani agar tercipta sinergi dan keberlanjutan produktifitas pertanian,” ujar Irwan.

Selain itu, Irwan juga menjelaskan bahwa Perlindungan Petani dilakukan dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana produksi, perlindungan terhadap komoditas unggulan strategis, penetapan harga pokok produksi pembelian Pemerintah, mekanisme penyangga produksi, asuransi pertanian dan sistem peringatan dini.

“Perlindungan yang dimaksud diberikan kepada petani yang melakukan usaha tani yang tidak memiliki lahan sendiri dan petani yang melakukan usaha tani di lahan milik sendiri yang luasnya kurang dari dua hektar,” lanjut Irwan yang mewakili dapil Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso.

Dalam sarasehan ini terungkap bahwa jeruk dan buah naga belum termasuk komoditas unggulan strategis. Dalam Perda yang mendapat perlindungan baru Komoditas unggulan strategis meliputi: padi, jagung, kedelai, tebu, bawang merah, cabai dan sapi potong. Untuk itu, Irwan menyampaikan harapannya Pemerintah Kabupaten dapat memberikan perhatian terhadap hal tersebut. Bagaimana 2 komoditas unggulan Banyuwangi tersebut bisa juga mendapatkan perlindungan, sebagaimana harapan para petani yang hadir.

Selain membatasi terbitnya rekomendasi impor terhadap komoditas ungulan strategis, pemerintah juga memberikan perlindungan dalam hal produksi komoditas unggulan strategis yang dihasilkan petani melimpah (over production), Pemprov dapat membeli hasil produksi petani minimal berdasarkan harga pembelian pemerintah yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat.

Dalam kesempatan tersebut tersebut, salah satu kelompok Petani buah naga menyampaikan hasil panen sekitar 3 ton saat panen raya. Dengan harga hanya Rp 1.500 untuk kategori A. Jika semua dijual degan harga itu saja sudah merugi. Apalagi hasil panen tersebut terdiri dari kategori A, B, dan C. Sebenarnya kondisi yang sama terjadi saat panen Jeruk tahun 2018, salah seorang petani menyampaikan 80 pohon yang dimilikinya menghasilkan 7 ton dengan harga Rp 1.500.

“Kami sangat berharap pemerintah kabupaten dapat memberikan perhatian kepada kedua komoditas tersebut. Terus terang, dua komoditas tersebut telah meningkatkan taraf hidup kami. Bahkan ada istilah kaji jeruk,” ujar salah seorang kelompok tani.

Menurut Irwan, perluasan pasar juga sangat diharapkan dapat mendapatkan perhatian pemerintah, selain juga pegolahan paska produksi. Hal ini harus secara massif dan bersama. Agar pengolahan pasca produksi bisa diterima dipasar secara lebih meluas.

Dalam kesempatan sarasehan, ada 6 kelompok tani yang hadir dari wilayah Kecamatan Bangorejo. Irwan berharap, bisa berdiskusi dengan kelompok tani dari daerah lainnya untuk dapat lebih memahami dan menyampaikan kepada stake holder terkait.

Selain itu, Irwan juga melakukan aksi membeli 3.600 kilogram buah naga yang dibawa oleh kelompok tani yang hadir dengan harga Rp 5.000/kg. Hal tersebut merupakan salah satu bagian suport secara moril.

Alumnus FISIP Unair juga mengharapkan hasil sarasehan tersebut dapat menjadi bahan diskusi dan masukan bagi stake holder terkait baik pemkab Banyuwangi maupun pemprov Jatim.

(bti)

author