Renungan Kemerdekaan: Singularitas Kebangsaan

59

 

Hari ini kita berada pada momentum peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-74. Perlu diingat bahwa bangsa-bangsa besar lahir dari gagasan dan mimpi yang besar. Bahkan secara tak terduga melampaui pemikiran umat manusia umumnya.

Setiap bangsa bersaing membangun gagasan sebagai bangsa terbaik. Sejak era zaman batu hingga teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) hari ini.

Manusia berlomba bertransformasi dari makhluk lemah menjadi makhluk terkuat dengan menguasai sains dan teknologi.

Manusia kemudian mampu berlayar membelah samudra hingga mampu menembus luar angkasa.

Perlombaan soal menuju titik terjauh alam semesta adalah wujud akumulasi gagasan dan kekuatan sebagai bukti bangsa superior dunia.

Sejauh sejarah berjalan, Bangsa Indonesia adalah bangsa penonton dan malah pernah menjadi korban superioritas bangsa lain. Singkatnya adalah sebagai bangsa terjajah.

Goresan sejarah itu telah membekas menjadi psikologis inferior (lawannya superior). Sebagai bangsa, kita masih sangat mudah dipolarisasi, bahkan mungkin bisa saling membunuh.

Kemerdekaan hanyalah kata hiburan tahunan, nyatanya kita belum benar-benar merdeka. Kita pasti menolak politik adu domba penjajah kan, tapi nyatanya fenomena itu masih ada. Kita tetap masih kembali “terjajah”.

Gagasan soal singularitas kebangsaan adalah transformasi menuju superioritas dari inferioritas.

Kita harus melahirkan gagasan yang melampaui gagasan bangsa lain. China sudah mulai membangun hal ini, tidak lama lagi mungkin akan menjadi superior dunia. China hari ini sudah “mengakuisisi” banyak hal dari bangsa lain. Membenamkan pondasi ekonomi di tanah air orang lain.

Pemikiran soal beban populasi ternyata menjadi unique power (kekuatan khas) yang tidak dimiliki bangsa lain.

Bangsa Indonesia masih memiliki peluang yang besar. Kita membutuhkan generasi yang yakin dengan masa depan bangsa ini. Yakin dengan kesatuan rasa kebangsaan di tengah banyak perbedaan.

Pemikiran soal perbedaan sebagai penghambat harus menjadi unique power layaknya beban populasi menjadi sebuah kekuatan.

Kita adalah bangsa yang memiliki warna kulit paling variatif di dunia, kita adalah bangsa dengan keyakinan agama beragam, bahasa beragam, dan beragam lainnya.

Konsepsi soal Bhinneka Tunggal Ika adalah gagasan kebangsaan yang harus menjadi pijakan bersama untuk memulai menjadi bangsa superior.

Masing-masing kita adalah intelegen masa depan Indonesia. Warna kulit kita, agama kita, ras kita, adalah kunci memasuki rumah bangsa lain.

Singkatnya, kita adalah bangsa paling fleksibel adaptif dan diterima di bangsa manapun.

Jika Barack Obama bisa menjadi Presiden Amerika Serikat, mungkin saja, ada orang Indonesia menjadi Presiden Amerika, bahkan pemimpin penting di negara manapun.

Otak dan nasionalisme mereka harus kita hubungkan, layaknya internet of things (human) yang dikendalikan oleh server bernama Bangsa Indonesia. Buah pikiran mereka kita padukan dalam satu kecerdasan buatan bernama Pancasila.

SURYANDARU
Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) dan CEO Nano Center Indonesia