Rembuk Nasional Aktivis Lintas Generasi, Hasilkan Petisi 32

Suasana Rembuk Nasional Aktivis Lintas Generasi Dalam Rangka Evaluasi Kinerja Pemerintahan Jokowi-JK di Tebet Jakarta, Kamis (9/7) malam.

Suasana Rembuk Nasional Aktivis Lintas Generasi Dalam Rangka Evaluasi Kinerja Pemerintahan Jokowi-JK di Tebet Jakarta, Kamis (9/7) malam.

JAKARTA – Perjalanan pemerintahan Jokowi-JK selama 8 bulan ini dinilai menyimpang Nawacita. Demikian disampaikan aktivis lintas generasi dalam Rembuk Nasional yang diselenggarakan di daerah Tebet, Jakarta tadi malam (9/7).

Pemerintah dianggap gagal mewujudkan Trisakti dan membuat situasi ekonomi-nasional bertambah buruk. Acara yang dipimpin oleh Ketua Umum Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) Bursah Zarnubi ini, dihadiri puluhan aktivis lintas generasi mulai golongan tua seperti Laode Ida dan Djoko Edhy S Abdurrachman hingga golongan muda khususnya mahasiswa.

“Bagaimana kita mengungkapkan ini kepada Presiden,” tanya Bursah Zarnubi pada peserta yang hadir.

Dalam acara tersebut, para aktivis bergantian menyampaikan pandangan kritis tentang situasi ekonomi politik kekinian. Lalu mengalirlah sejumlah masalah dan berhenti pada kegagalan rezim Jokowi menghadapi resesi.

“Kami kecewa pada Jokowi karena gagal mewujudkan Trisakti, tapi perlu diingat sebagian masalah bangsa saat ini juga merupakan masalah struktural yang merupakan warisan pemerintahan terdahulu,” kata Lidya Natalia, Ketua Presidium PP PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia).

Rembuk Nasional ini juga menyoroti isu reshuffle kabinet. Sebagian besar aktivis berpendapat, kabinet saat ini perlu dibongkar karena gagal mewujudkan Nawacita dan Trisakti.

“Kalau publik nanti memberikan respons negatif terhadap reshuffle kabinet yang dilakukan Jokowi, maka Presiden akan kehilangan kepercayaan dari rakyat pemilihnya. Rakyat bisa mengambil kesimpulan, jangan-jangan masalah kekacauan kabinet bukan pada menterinya, tapi pada Presidennya sendiri,” kata Herdi Sahrazad pengamat politik dari Universitas Paramadina.

Di akhir acara, para aktivis sepakat untuk membuat “Petisi 32” sebagai wujud keprihatinan rakyat Indonesia yang dirumuskan oleh 32 anggota kelompok kerja.

“Apapun, saya suka rapat tadi malam itu. Sesungguhnya ‘Petisi 32’ itu bukan apa-apa. Tak lebih dari debu di seantero tanah air yang sedang krisis, menderita. Dan, rakyat adalah debu. Debu Kekuasaan,” kata Djoko Edhy S Abdurrachman Direktur Eksekutif LBH DESA.

 

author