REKAN Indonesia Wajibkan Kadernya Perangi Diabetes dan Stunting

Agung Nugroho, Ketua Nasional Relawan Kesehatan (REKAN) Indonesia dalam sambutan acara ulang tahunnya ke-44 di hadapan 50 kader dan anggota REKAN Indonesia di Kalibata, Rabu (11/9/2019) pagi tadi. Ia mewajibkan kadernya memerangi diabetes dan stunting di Indonesia.

 

JAKARTA – Dua penyakit tidak menular yang masih tinggi penderitanya di Indonesia yaitu diabetes dan stunting, Bahkan diabetes adalah salah satu penyakit yang menyebabkan kematian.

Diabetes, saat ini telah menjadi ancaman serius kesehatan global. Dikutip dari data WHO 2016, 70% dari total kematian di dunia dan lebih dari setengah beban penyakit. 90-95% dari kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang sebagian besar dapat dicegah karena disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.

Indonesia juga menghadapi situasi ancaman diabetes serupa dengan dunia. International Diabetes Federation(IDF) Atlas 2017 melaporkan bahwa epidemi diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat. Indonesia adalah negara peringkat keenam di dunia setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brazil dan Meksiko dengan jumlah penyandang diabetes usia 20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang.

Hal tersebut disampaikan oleh Agung Nugroho, Ketua Nasional Relawan Kesehatan (REKAN) Indonesia dalam sambutan acara ulang tahunnya ke-44 di hadapan 50 kader dan anggota REKAN Indonesia di Kalibata, Rabu (11/9/2019) pagi tadi.

“Diabetes merupakan masalah epidemi global yang bila tidak segera ditangani secara serius akan mengakibatkan peningkatan dampak kerugian ekonomi yang signifikan khususnya bagi negara berkembang di kawasan Asia dan Afrika,” papar Agung biasa dia dipanggil.

Masih menurut Agung, data IDF juga menunjukkan bahwa biaya langsung penanganan diabetes mencapai lebih dari 727 Milyar USD per tahun atau sekitar 12% dari pembiayaan kesehatan global.

Sementara Data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga menunjukkan peningkatan jumlah kasus dan pembiayaan pelayanan diabetes di Indonesia dari 135.322 kasus dengan pembiayaan Rp 700,29 miliar di tahun 2014 menjadi 322.820 kasus dengan pembiayaan Rp 1,877 triliun di tahun 2017.

Sementara itu, terkait dengan stunting, Agung menjelaskan bahwaPemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO yakni 20%.

Seperti halnya diabetes, stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun.

“Untuk menekan angka tersebut, Pemerintah harus lebih mengintensifkan sosialisasi agar masyarakat dapat memahami faktor apa saja yang menyebabkan stunting,” tegas Agung.

Stunting menurut Agung, merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Selain juga gaktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik.

“Ibu yang masa remajanya kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan otak anak,” papar Agung.

Dalam akhir sambutannya, Agung menyerukan kepada seluruh kader REKAN Indonesia di masing-masing daerahnya untuk berperan aktif membantu pemerintah memerangi 2 penyakit tidak menular ini agar angka penderitanya bisa menurun.

“Semua kader REKAN Indonesia wajib memastikan di tempat tinggalnya dapat mendeteksi dan menanggulangi temuan terhadap penderita diabetes dan stunting,” tegas Agung.

Agung meminta kepada seluruh kader REKAN Indonesia untuk berkoordinasi dengan puskesmas atau dinas kesehatan masing-masing jika menemukan penderita diabetes dan stunting di tempat tinggalnya.

“Untuk mencegah diabetes adakan jalan sehat keliling kampung dua minggu sekali bersama warga. Dan untuk menanggulangi stunting adakan pembagian makanan bergizi seperti susu kedele, atau bubur kacang ijo kepada ibu-ibu muda yang baru menikah seminggu sekali,” Agung mengakhiri sambutannya.

(bm/bti)

author