REKAN Indonesia : Dinkes Nganjuk Jangan Hanya Fokus Fogging Atasi Demam Berdarah!

ilustrasi. (foto: istimewa)

 

SURABAYA – Penanggulangan demam berdarah seharusnya tidak bertumpu pada fogging (pengasapan). Selain besar biayanya, fogging juga tidak efektif membunuh jentik nyamuk dan bila dilakukan di atas jam 8.00 nyamuk aedes sudah pergi meninggalkan sarang. Sehingga hanya membunuh nyamuk biasa dan serangga lain saja.

Disamping itu racun yang digunakan untuk fogging juga berbahaya untuk kesehatan warga di lingkungan tempat tinggal, semakin sering di fogging semakin rentan warga terpapar racun fogging yang dapat menimbulkan penyakit seperti ganguan pernafasan dan lain lain.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahadian Dicky Prasetyo, ketua Kolektif Pimpinan Wilayah Relawan Kesehatan Indonesia (KPW Rekan Indonesia) provinsi Jawa Timur, dalam siaran persnya, Selasa (19/3/2019) pagi yang disebar melalui pesan siar di whatsapp.

Dicky biasa dia dipanggil memaparkan ketidakefektifan fogging sebagai masukan kepada dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk yang saat ini tengah kehabisan dana untuk fogging.

Seperti yang dilansir di media, kepala bidang Pengendalian dan Pemberantasan (Kabid P2P) Dinkes Kabupaten Nganjuk, Syaifulloh mengatakan bahwa anggaran untuk fogging telah habis. Dana tersebut sudah digunakan untuk kegiatan fogging di 155 titik dan saat ini dinkes telah mengajukan kembali tambahan anggaran sebesar Rp 300 juta.

Terkait hal tersebut, Dicky mengatakan seharusnya Dinkes lebih memaksimalkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 3M Plus dengan mendorong warga untuk terlibat secara aktif.

“Penanggulangan DB tidak bisa dilakukan oleh pemkab sendirian. Semua elemen warga Ngajuk harus didorong untuk terlibat aktif dalam PSN dan 3M Plus. Serta mewujudkan program 1 rumah 1 jumantik.” ujar Dicky.

Masih menurut Dicky, yang paling efektif untuk menekan angka DB adalah dengan membunuh jentik nyamuk dan itu bisa dilakukan jika bupati, dinkes, kecamatan, kelurahan dan puskesmas bersama sama mendorong peran aktif warga untuk secara mandiri melakukan PSN dan 3M di rumah dan lingkungan masing masing setiap hari.

“Sehingga pengawasan terhadap jentik nyamuk tidak hanya tanggungjawab kader jumantik tapi juga seluruh warga Kab. Nganjuk” jelas Dicky.

Dicky mengatakan dengan terbangunnya kesadaran jumantik mandiri akan mewujudkan program 1 rumah 1 jumantik sehingga pembasmian jentik lebih efektif, murah dan terukur.

(an/bti)

author