Refleksi Akhir Tahun 2016

1173 views
images

ilustrasi. (foto: istimewa)

Mendekati penghujung tahun 2016 ini dunia adalah tempat yang makin berbahaya dan makin tidak adil. Kita sebagai spesies paling maju dalam lintasan evolusi sedang menuju tepi jurang keruntuhan lingkungan yang akan membuka eksploitasi, dan korupsi serta kepalsuan sistem keuangan ribawi yang menjadi pijakan ekonomi global kekhalifahan Obamayyah saat ini. Di tengah kebangkitan Trumpism di AS dan nasionalisme baru di Eropa, selanjutnya kita akan menghadapi ancaman perang nuklir antara negara pemilik senjata pemunah massal yang haus minyak dan gas bumi. Penjajahan dan perbudakan adalah konsekuensi logis sistem ekonomi ribawi ini. Kondisi ekonomi Indonesia di paruh kedua dalam dua dekade pertama abad 21 ini serupa dengan kondisi Lebak di Banten 150 tahun yang lalu yang digambarkan oleh Multatuli dalam Max Havelaar atau perbudakan di AS yang digambarkan oleh Harriet Stowe dalam Uncle Tom’s Cabin.

Salah satu institusi peradaban eksploitatif berbasis minyak yang dengan congkak menyebut dirinya modern ini adalah sistem persekolahan sebagai sebuah instrumen teknokratik dalam rangka indoktrinasi massal untuk mengatur perilaku masyarakat. Persekolahan adalah alat westernisasi yang paling canggih. Wajib Belajar lalu diartikan sebagai Wajib Sekolah. Yang terjadi kemudian adalah persekolahan paksa massal; sebuah mass miseducation. Persekolahan tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan kemandirian. Persekolahan diciptakan untuk menyediakan buruh murah berdisiplin dan patuh yang akan dipekerjakan dalam pabrik-pabrik skala besar. Persekolahan dan TV adalah institutional duo yang diciptakan untuk kejayaan masyarakat industrial kapitalistik.

Salah satu institusi yang paling dikorbankan oleh peradaban industri berbasis minyak bumi ini adalah keluarga. Sekolah merampas tugas edukatif keluarga sementara pabrik merampas tugas produktifnya. Pada saat kedua tugas pokok keluarga itu hilang maka secara perlahan tapi pasti keruntuhannya tinggal menunggu waktu. Kecepatan keruntuhan keluarga ini sudah mencapai 40 kasus perceraian perjam. Di tengah kerapuhannya itulah serangan narkoba, pornografi, gaya hidup hedonistik konsumtif meraja lela. Tidak ada pendidikan yang berhasil di atas kehancuran keluarga. Barat sendiri adalah saksi kehancuran keluarga.

Keluarga yang kuat dan mandiri secara produktif adalah gangguan besar dalam masyarakat industri. Warga yang berpikir kritis dan keluarga yang produktif berpotensi mengganggu kepastian investasi yang menuntut jaminan ketersediaan buruh murah dan masyarakat yang konsumtif. Kemandirian keluarga dimulai sejak awal dibangun dengan mandiri belajar. Persekolahan telah mengubah belajar menjadi komoditi langka. Padahal belajar tidak pernah mensyaratkan persekolahan, apalagi di zaman internet saat ini. Mensyaratkan lulus SMA untuk kuliah adalah mengada-ada.

Di saat senja Pax Americana dan kemungkinan kebangkitan Pax China yang memiliki ambisi hegemonik ini, ke depan ini kita harus menempuh jalan baru yang berbeda. Demi kedaulatan dan kemandirian politik-ekonomi kita harus mengagendakan maritime mainstreaming untuk mengukuhkan kesatuan dan menguatkan pasar domestik negeri kepulauan ini. Untuk berkepribadian secara budaya, kita harus mengagendakan gerakan deschooling yakni gerakan yang fokus pada belajar, bukan bersekolah; mengambi alih tugas-tugas edukatif kembali ke rumah dan masyarakat. Ibu di rumah adalah sekolah yang pertama dan utama. Seperti wasiat Bapak Pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara, persekolahan hanya bersifat melengkapi saja. Warga muda perlu lebih banyak hidup dalam keluarga dan masyarakat dan tidak menghabiskan waktunya di sekolah. Persekolahan tidak bisa dan tidak boleh menggantikan peran pendidikan keluarga dan masyarakat. It takes a village to raise a child.

Labuhan Bajo, 31 Desember 2016

DANIEL MOHAMMAD ROSYID

Guru Besar ITS Surabaya

Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur

author